MEDIASERUNI – Pardjo sebetulnya mengenal serdadu berseragam kompeni di depannya. Dialah Sersan Bangkit yang dahulu bersama pasukannya di Batavia menyerbu markas Ujang Udik, julukan Mandor Surak.

Hanya saja, dia kalah cerdik, telik sandi Sangaji telah mengabarkan rencana penyerbuan tersebut kepadanya, sehingga Ujang Udik segera memindahkan pasukannya ke hutan di sekitar Muara Angke.

Sayangnya, ada pengkianat ditengah pasukannya. Tak lama setelah bermarkas di hutan, pasukan besar kompeni kembali menyerbu. Pasukannya hancur, sebagian anak buahnya yang selamat bergabung dengan Sangaji.

Ujang Udik berhasil meloloskan diri dan jadi buronan kompeni. Namun dia diselamatkan sahabatnya saudagar bernama Bayu, santri Tebu Ireng, telik sandi Sangaji di laut yang jadi penghubung dengan pejuang-pejuang di Nusantara.

Sedang Pardjo yang ketika itu mendapat kabar dari telik sandi Sangaji tentang penyerbuan kompeni, datang bersama pasukannya untuk membantu. Namun nasibnyapun sama dengan Ujang Udik. Pasukannya juga berhasil di hancurkan.

Pardjo sendiri menyingkir ke Banten, dan sisa pasukannya bergabung dengan pasukan Sangaji. Karena terus diburu kompeni, Parjo akhirnya menyeberang ke Lampung dan bertemu Ujang Udik disana.

Kalau kemudian di tanah batak inipun bertemu Sersan Bangkit, sungguh diluar dugaan. Tapi, untungnya Sersan Bangkit tak mengenal dirinya. Sehingga Pardjo bisa lebih leluasa melanjutkan perlawanan di tanah batak.

Baca Juga:  MANDOR SURAK (13)

Kembali ke pertempuran, Sersan Bangkit ternyata tak cuma mahir menggunakan bedil tapi memiliki pula ilmu silat tidak rendah. Jurus-jurus silat Kumbang Kulon yang dimainkan Pardjo bukan ilmu silat biasa. Inilah salah satu ilmu silat yang disegani kala itu ditataran Sunda.

Sedang dua orang bersama Sersan Bangkit bernama Anam dan Sanim, nampaknya pun tidak bisa dianggap enteng. Merekalah pendekar-pendekar Melayu cukup disegani tadkala itu.

Terbukti, dua kali serangan mematikan Pardjo dapat dihindari dua orang itu, sembari lancarkan serangan-serangan balasan berbarengan serangan mematikan Sersan Bangkit dengan pedangnya.

Tetapi dihadapan mereka adalah Si Kumbang Dari Kulon, sahabat Mandor Surak yang di jagad persilatan dijuluki Pendekar Sambar Nyawa. Mendapat tiga serangan sekaligus mudah saja dia mengelak, disusul jurus Kumbang Menari Diatas Keranjang.

Kumbang Menari Diatas Keranjang merupakan jurus mematikan. Gerakan silatnya persis Ilmu Silat yang dimiliki pendekar pendekar di Sulawesi yang mahir bertempur dalam radius seukuran lingkaran kain sarung.

Hanya saja, yang dimiliki Pardjo lingkarannya lebih kecil, hanya seukuran lingkaran keranjang buah. Makanya dalam sedetik itu, secara bersamaan terdengar pekik tertahan Anam dan Sanim. Kedua melintir kena dihantam cakar kumbang Pardjo.

Baca Juga:  HAJI USMAN (12)

Sersan Bangkit berada persis didepan Pardjo pun mati langkah, ketika Pardjo mendadak berputar, usai menghantam Anam dan Sanim, tahu-tahu dua cakar mengarah ke dada.

Ternyata sebuah tipuan, karena serangan sesungguhnya justru ke pinggang. Sebuah tupukan keras berisi tenaga separuh tenaga dalam mendarat telak dipinggang. “Bukk!”

Sersan Bangkit terlempar kebelakang disertai darah segar menyembur dari mulut. Dia terbanting persis disebelah Anam dan Sanim yang tampak melap cairan kental di mulut mereka.

Ketiganya pegangi dada menahan sakit yang teramat, serasa hilang tenaga untuk berdiri. Dihadapan mereka Pardjo cuma perdengarkan suara di dada. “Keparat – keparat kompeni. Hari ini kuampuni nyawa kalian, tapi kali lain bertemu jangan harap kalian masih bisa bernapas.”

Selesai berucap, Pardjo manusia berjuluk Si Kumbang Dari Kulon lantas melesat pergi. Namun sekejap dia kaget ketika mengerling kerimbunan belukar di kanan. “Hah… Tuan Sarman….” Jelas tadi keningnya berkerut, merasa heran. “Sepertinya sudah lama disana. Mampuslah aku, sepertinya tak dapat lagi berahasia dengannya…”

Namun Pardjo tak menganggap tuan tanah Sarman sebagai ancaman, apalagi sekarang dia itulah mertua Mandor Surak, sahabatnya. Maka berpikir begitu, pelarian pejuang Banten itupun melanjutkan larinya, dan menghilang di kerimbunan hutan. (Bersambung)