MEDIASERUNI.ID – Tidak ada yang lebih menusuk hati seorang perempuan daripada dibandingkan, apalagi dengan perempuan lain. Entah itu mantan pasangan, teman, bahkan ibu kandung.
Kalimat-kalimat perbandingan yang mungkin terdengar sepele bagi sebagian orang, bisa menjadi luka dalam bagi perempuan yang mendengarnya. Bukan soal siapa yang lebih baik, tapi soal rasa cukup yang tiba-tiba terasa menguap, seolah segala upaya dan keberadaannya tak berarti.
Ketika seseorang berkata, “Mantan aku dulu lebih perhatian,” atau “Temanmu lebih bisa masak,” atau bahkan “Ibuku aja gak pernah ngeluh seperti kamu,” itu bukan sekadar komentar. Itu adalah bom kecil yang meledak di dalam batin perempuan.
Ia mulai mempertanyakan dirinya sendiri: Apa aku tidak cukup baik? Tidak cukup cantik? Tidak cukup sabar? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu bergema di kepala, perlahan menggerogoti rasa percaya diri dan harga diri yang susah payah dibangun.
Perbandingan seperti ini bukan hanya menyakitkan, tapi juga merusak. Ia melahirkan luka yang tak terlihat, namun terasa nyata. Luka itu sering kali tidak diluapkan dalam tangisan atau kemarahan. Sebaliknya, ia disimpan rapat-rapat.
Menjadi tumpukan emosi yang menyesakkan dada. Perempuan pun belajar diam, padahal hatinya gaduh. Belajar tersenyum, padahal batinnya marah.
Di balik kemarahan yang tak diucapkan itu, sebenarnya ada jeritan minta dimengerti. Bukan ingin dipuja-puji setinggi langit, hanya ingin diterima apa adanya.
Ingin merasa bahwa dirinya cukup, tanpa harus disandingkan dengan siapapun. Bahwa cinta seharusnya membuatnya merasa aman, bukan seperti sedang ikut lomba siapa yang paling layak dicintai.
Sayangnya, banyak orang belum paham bahwa perbandingan semacam ini adalah bentuk kekerasan emosional yang halus. Tidak berbentuk bentakan atau tamparan, namun efeknya bisa lebih dalam dan lama.
Bahkan bisa membentuk trauma, membuat perempuan takut membuka hati, atau merasa selalu kalah bahkan sebelum mencoba. Ia merasa harus selalu membuktikan diri agar pantas, padahal cinta sejatinya tak perlu pembuktian semacam itu.
Maka, penting bagi siapa pun untuk lebih bijak dalam berkata-kata. Alih-alih membandingkan, kenapa tidak belajar menghargai? Setiap orang unik, punya kelebihan dan kekurangan.
Perempuan tidak diciptakan untuk memenuhi ekspektasi semua orang, apalagi menjadi salinan dari wanita lain. Ia berhak menjadi dirinya sendiri, dengan segala versinya yang masih belajar dan bertumbuh.
Pada akhirnya, perempuan yang pernah dibandingkan mungkin akan diam. Tapi diamnya bukan karena tidak terluka. Diam itu bisa jadi bentuk terakhir dari harapan yang mulai padam.
Jangan tunggu sampai diam itu berubah menjadi pergi. Sebab kehilangan paling menyakitkan bukan saat ia menyerah, tapi ketika ia berhenti berharap untuk dipahami. (*)