MEDIASERUNI.ID – Di kalangan para pendaki dan penjelajah hutan di Nusantara, ada satu mitos yang begitu legendaris dan bikin bulu kuduk berdiri, kampung siluman. Cerita ini bukan sekadar dongeng pengantar tidur, tapi jadi kisah turun-temurun yang dipercaya sebagian orang sebagai kenyataan.

Kabarnya, kampung ini bukan berada di dunia biasa, melainkan tersembunyi di antara kabut, gunung, dan dimensi yang tak kasatmata. Mereka yang pernah mengklaim melihatnya tak pernah bisa kembali ke sana dengan cara yang sama.

Kisah paling populer datang dari para penebang hutan di masa lalu. Suatu hari, mereka menghilang begitu saja tanpa jejak. Pencarian tak membuahkan hasil hingga berbulan-bulan kemudian, mereka muncul kembali dalam kondisi sehat tapi penuh teka-teki.

Saat ditanya, mereka mengaku “tersesat” di sebuah kampung misterius yang dipenuhi wanita cantik tak biasa. Wajahnya menawan, tutur katanya lembut, tapi suasana kampungnya sangat sunyi dan terasa ganjil.

Menurut pengakuan mereka, para wanita di kampung itu bukan manusia biasa. Bisik-bisik menyebut mereka sebagai jelmaan siluman—makhluk gaib yang bisa berubah rupa. Anehnya, para penebang ini mengaku ditawari untuk tinggal, bahkan menikah dan hidup damai di sana.

Baca Juga:  Sertijab Antarwaktu Ketua DWP Jabar, Lakukan Literasi Bangun Ketahanan Keluarga

Syaratnya hanya satu: jangan pernah melanggar aturan kampung. Tapi aturan itu tidak pernah dijelaskan dengan rinci. Sebuah ujian yang membingungkan antara rayuan dan bahaya.

Celakanya, beberapa di antara mereka yang memilih menetap malah mengalami kejadian aneh. Ada yang tiba-tiba tersesat, jatuh sakit tanpa sebab, bahkan seperti kehilangan akal saat berhasil kembali ke dunia nyata.

Mereka mengaku mengalami semacam “pengusiran” tak kasatmata dari kampung siluman, seolah ada kekuatan yang tak suka aturan dilanggar. Beberapa dari mereka bahkan tidak pernah bisa menjelaskan bagaimana cara mereka keluar dari tempat itu.

Yang membuat kisah ini makin misterius adalah fakta bahwa kampung tersebut tidak pernah bisa ditemukan kembali. Banyak pendaki yang mencoba menelusuri jejaknya, tapi tak satupun berhasil.

Baca Juga:  Warga Nahdliyin Terkejut, Banser NU Terluka Sejumlah Kiai Dipersekusi di Rengasdengklok

Ada yang bilang kampung itu hanya muncul pada waktu-waktu tertentu, saat kabut turun sangat tebal dan suara hutan menjadi hening tak biasa. Konon, jika seseorang sedang dalam kondisi liminal antara sadar dan tidak barulah ia bisa “terpanggil” masuk ke dalamnya.

Sebagian besar masyarakat adat menganggap kampung siluman bukan sekadar mitos, tapi bagian dari alam lain yang berdampingan dengan dunia manusia. Mereka menyarankan agar siapa pun yang masuk hutan untuk selalu menjaga sikap dan hati, karena siapa pun bisa saja “diintip” oleh penghuni dunia tak kasatmata.

Ada yang percaya, kampung ini semacam tempat uji nyali spiritual: apakah seseorang bisa menahan godaan dunia lain atau justru terjebak di dalamnya.

Apakah kampung siluman benar-benar ada? Atau sekadar manifestasi dari alam bawah sadar manusia yang kesepian di tengah rimba? Hingga kini, misterinya belum terpecahkan. (*)