Cimahi, MEDIASERUNI.ID – STIKES Cimahi (Budi Luhur) meluncurkan Program GRADASI (Gotong Royong Akademisi Sinergi dan Inovasi) dengan gerakan Zero Waste, Rabu 30 Juli 2025.

Untuk program tersebut, STIKES Cimahi menurunkan 436 mahasiswa melakukan pendataan gaya hidup yang bertujuan untuk meminimalkan produksi sampah dengan edukasi door to door, pemilihan sampah, pelatihan komposting juga mendorong setiap RW ada Bank Sampah Unit (BSU).

IMG 20250730 WA0104

“Tergetnya dalam satu semester 7000 rumah dengan wilayah binaan di Kelurahan Leuwigajah dan Cibeber, dikawal langsung pihak kelurahan, kecamatan dan DLH,” ujar Ketua STIKES Budi Luhur Sri Wahyuni S.pd.M.kes Ph.D.

Gerakan Zero Waste bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi, mengimplementasi MoU antara Walikota Cimahi bersama LLDIKTI Wilayah IV tentang GRADASI.

Baca Juga:  Bukan Relawan Biasa, Halal Bihalal Relawan BAJA di Rooftop DPRD Jawa Barat

Zero Waste melibatkan tujuh kampus, salah satunya STIKES Budi Luhur Cimahi. “Kami akan mulai Agustus ini dengan tahapan sosialisasi, menugaskan siswa semua prodi semua tingkatan melaksanakan program kampus yang berdampak,” tutur Sri.

Kapala Bidang (Kabid) Tata Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi, Agus Irwan Kustiawan S.ip mengapresiasi salah satu program di STIKES Budi Luhur terkait Zero Waste, sebagai mahasiswa menjadi bagian dari agent of change.

“Saya pernah menjadi mahasiswa dan mahasiswa itu dipercaya masyarakat,” tutur Agus, dan menambahkan Zero Waste mengubah pola pikir masyarakat soal pengelolaan sampah.

Sampah tidak hanya sekedar dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA), namun dilakukan pemilahan antara sampah organik dan anorganik. “Sampah organik bisa diolah menjadi kompos juga magot seperti di RW 18 Cipageran,” tutur Agus.

Baca Juga:  Kang HJA Merapat ke Bandung, Dijamu Makan Siang AHY dan Menteri Transmigrasi

RW 18 Cipageran menerima sampah dapur organik dengan syarat tidak dicampur dengan anorganik. Pola tersebut, kata Agus, akan diterapkan kepada genarasi anak muda gen z dengan cara mengedukasi dari sekarang.

“Kalau dulu slogan buanglah sampah di tempatnya sekarang lain lagi, dan Zero Waste ini selesai di tempatnya,” terang Agus.

Pemilihan sampah mempunyai nilai ekonomis. Sampah organik di olah menjadi kompos atau magot sebagai pakan ternak ayam ataupun lele, sedangkan sampah anorganik yakni sampah platik bisa dipilah untuk dijual atau dibuat kerajinan tangan.

“Untuk menghidupkan pemilahan sampah menjadi nilai ekonomis, harus ada penggerak dari pengurus di wilayah setempat. (Chandra)