Ancaman Komputer Kuantum terhadap Bitcoin: ARK Invest Sebut 35% Pasokan BTC Berpotensi Rentan Diretas
MEDIASERUNI.ID – Pasokan Bitcoin (BTC) rentan diretas komputer kuantum menjadi salah satu isu keamanan terbaru yang disoroti dalam laporan industri kripto global. Perusahaan manajemen aset teknologi, ARK Invest, memperingatkan bahwa sekitar 6,9 juta Bitcoin atau sekitar 34,6 persen dari total pasokan BTC berpotensi terancam oleh perkembangan teknologi komputasi kuantum di masa depan.
Peringatan tersebut disampaikan melalui laporan penelitian bertajuk “Bitcoin and Quantum Computing” yang disusun oleh ARK Invest bersama perusahaan layanan keuangan kripto Unchained. Laporan ini menyoroti bagaimana kemajuan teknologi komputer kuantum dapat memengaruhi sistem keamanan kriptografi yang selama ini menjadi fondasi utama jaringan Bitcoin.
Laporan tersebut juga mendapat perhatian luas karena datang dari perusahaan yang dipimpin oleh investor teknologi terkenal, Cathie Wood, yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu pendukung awal Bitcoin ketika harga aset digital tersebut masih berada di bawah 500 dolar Amerika Serikat.
Meski terdengar mengkhawatirkan, laporan tersebut tidak menyimpulkan bahwa ancaman terhadap Bitcoin akan terjadi secara tiba-tiba. Para peneliti menilai evolusi teknologi kuantum akan berlangsung secara bertahap sehingga memberikan waktu bagi komunitas pengembang untuk memperbarui sistem keamanan jaringan blockchain.
Laporan ARK Invest: Ancaman terhadap 35% Pasokan Bitcoin
Penelitian terbaru ARK Invest menyoroti potensi kerentanan pada sebagian besar pasokan Bitcoin yang beredar saat ini.
Sekitar 6,9 Juta Bitcoin Berpotensi Terpapar Risiko
Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa sekitar 6,9 juta BTC—atau hampir sepertiga dari total suplai Bitcoin—secara teoritis dapat menjadi target jika komputer kuantum mencapai kapasitas yang cukup kuat untuk memecahkan sistem kriptografi yang digunakan jaringan Bitcoin.
Angka tersebut setara dengan sekitar 34,6 persen dari total Bitcoin yang beredar secara global.
Kerentanan ini tidak berarti bahwa seluruh Bitcoin tersebut akan langsung diretas, tetapi menunjukkan adanya potensi risiko teknis jika teknologi komputasi kuantum berkembang jauh melampaui kemampuan komputasi konvensional yang ada saat ini.
Menurut ARK Invest, isu ini perlu dipahami sebagai tantangan jangka panjang dalam keamanan teknologi blockchain.
Sistem Keamanan Bitcoin Bertumpu pada Kriptografi
Jaringan Bitcoin selama ini bergantung pada sistem kriptografi berbasis matematika yang sangat kompleks untuk menjaga keamanan transaksi dan kepemilikan aset digital.
Setiap pemilik Bitcoin memiliki private key atau kunci pribadi yang digunakan untuk mengakses dan memindahkan aset kripto mereka.
Kunci pribadi tersebut terkait dengan public key yang terlihat di jaringan blockchain. Sistem keamanan Bitcoin didesain sedemikian rupa sehingga hampir mustahil bagi komputer konvensional untuk menebak atau menurunkan private key dari public key dalam waktu singkat.
Bahkan superkomputer paling canggih saat ini diperkirakan membutuhkan ribuan tahun untuk memecahkan algoritma kriptografi yang digunakan Bitcoin.
Namun situasi tersebut berpotensi berubah jika teknologi komputer kuantum mencapai tingkat kemampuan tertentu.
Mengapa Komputer Kuantum Dianggap Ancaman bagi Kripto
Teknologi komputasi kuantum menjadi topik yang semakin sering dibahas dalam dunia keamanan digital.
Perbedaan Komputer Kuantum dan Komputer Konvensional
Komputer konvensional bekerja menggunakan sistem bit yang hanya memiliki dua kondisi, yaitu 0 dan 1.
Sebaliknya, komputer kuantum menggunakan unit komputasi yang disebut qubit, yang mampu berada dalam beberapa keadaan sekaligus melalui fenomena yang dikenal sebagai superposisi.
Kemampuan ini memungkinkan komputer kuantum melakukan sejumlah besar perhitungan secara paralel.
Dalam teori kriptografi, kemampuan tersebut dapat mempercepat proses pemecahan algoritma enkripsi yang saat ini dianggap sangat aman.
Jika teknologi ini mencapai skala tertentu, komputer kuantum secara teoritis dapat menurunkan private key dari public key yang digunakan dalam sistem kriptografi Bitcoin.
Jika hal tersebut terjadi, pelaku yang memiliki akses ke komputer kuantum berpotensi mencuri aset kripto dengan menguasai kunci pribadi pengguna.
Tokoh Industri Kripto Akui Risiko Ini
Ancaman komputasi kuantum terhadap kriptografi tidak hanya dibahas oleh ARK Invest.
Beberapa tokoh besar di industri blockchain juga mengakui potensi risiko tersebut, termasuk Vitalik Buterin dan Anatoly Yakovenko.
Keduanya menyatakan bahwa perkembangan teknologi kuantum merupakan tantangan nyata bagi keamanan sistem kriptografi modern.
Namun para ahli juga sepakat bahwa ancaman tersebut masih berada dalam tahap teoritis dan belum menjadi risiko langsung dalam waktu dekat.
Perkembangan Komputer Kuantum Masih Tahap Awal
Meskipun memiliki potensi besar, teknologi komputer kuantum saat ini masih berada pada tahap pengembangan awal.
Era NISQ dan Keterbatasan Teknologi Saat Ini
Menurut laporan ARK Invest, komputer kuantum saat ini masih berada dalam fase yang disebut NISQ (Noisy Intermediate-Scale Quantum).
Dalam tahap ini, komputer kuantum hanya memiliki sekitar 100 qubit logis yang stabil.
Jumlah tersebut masih sangat jauh dari kapasitas sekitar 2.330 qubit logis yang diperkirakan diperlukan untuk membobol sistem kriptografi Bitcoin secara praktis.
Dengan kata lain, teknologi yang mampu mengancam jaringan Bitcoin secara langsung masih belum tersedia saat ini.
ARK Invest menegaskan bahwa skenario kehancuran Bitcoin secara tiba-tiba akibat komputer kuantum—yang sering disebut sebagai “Q-Day”—sangat kecil kemungkinannya terjadi.
Evolusi Ancaman Diprediksi Terjadi Bertahap
Laporan tersebut menyebutkan bahwa perkembangan teknologi kuantum kemungkinan akan terjadi secara bertahap selama bertahun-tahun bahkan dekade.
Proses ini memberikan kesempatan bagi pengembang blockchain untuk mengembangkan solusi keamanan baru yang mampu melindungi jaringan dari ancaman tersebut.
Dengan kata lain, industri kripto memiliki waktu yang cukup untuk beradaptasi sebelum risiko menjadi serius.
Lima Tahap Ancaman Komputasi Kuantum terhadap Bitcoin
ARK Invest membagi potensi ancaman komputasi kuantum terhadap kriptografi menjadi lima tahap perkembangan.
Tahap Awal: Belum Ada Dampak pada Kriptografi
Pada tahap 0 hingga 1, komputer kuantum masih belum memiliki aplikasi praktis dalam bidang kriptografi.
Teknologi ini masih berada dalam fase penelitian dan eksperimen.
Tahap Menengah: Mulai Mampu Meretas Sistem Lemah
Pada tahap 2 hingga 3, komputer kuantum diperkirakan mulai mampu memecahkan sistem kriptografi yang lebih lemah.
Pada fase ini ancaman terhadap Bitcoin mulai muncul secara teoritis, meskipun belum menjadi risiko langsung bagi jaringan.
Tahap Lanjut: Perlunya Kriptografi Pasca-Kuantum
Pada tahap 4, komputer kuantum diperkirakan mampu memecahkan kunci kriptografi lebih cepat dari waktu pembuatan blok Bitcoin yang berlangsung sekitar 10 menit.
Jika tahap ini tercapai, maka jaringan Bitcoin perlu mengadopsi sistem Post-Quantum Cryptography (PQC) atau kriptografi yang dirancang tahan terhadap komputer kuantum.
Komunitas Bitcoin Punya Waktu untuk Beradaptasi
ARK Invest menilai bahwa komunitas pengembang Bitcoin memiliki waktu yang cukup untuk menyiapkan solusi teknis sebelum ancaman menjadi serius.
Pengembangan Tanda Tangan Kriptografi Baru
Salah satu solusi yang sedang dipertimbangkan dalam industri blockchain adalah pengembangan skema tanda tangan digital tahan kuantum.
Teknologi ini dirancang agar tetap aman meskipun komputer kuantum memiliki kemampuan komputasi yang sangat tinggi.
Selain itu, format alamat dompet Bitcoin juga dapat diperbarui untuk meningkatkan keamanan terhadap serangan kriptografi.
Insentif Ekonomi Mendorong Upgrade Sistem
Nilai pasar Bitcoin yang mencapai ratusan miliar dolar memberikan insentif ekonomi besar bagi para pelaku industri untuk menjaga keamanan jaringan.
Penambang, pengembang, dan bursa kripto memiliki kepentingan langsung untuk memastikan bahwa protokol Bitcoin tetap aman dari ancaman teknologi baru.
Karena itu, peningkatan sistem keamanan kemungkinan akan menjadi prioritas utama jika ancaman komputer kuantum mulai meningkat.
Pandangan ARK Invest Tetap Optimistis terhadap Bitcoin
Meskipun menyoroti potensi ancaman keamanan, ARK Invest tetap mempertahankan pandangan optimistis terhadap masa depan Bitcoin.
Perusahaan tersebut bahkan memproyeksikan harga Bitcoin berpotensi mencapai 1 juta dolar Amerika Serikat pada tahun 2030 jika adopsi teknologi blockchain terus berkembang.
Menurut ARK Invest, laporan mengenai komputer kuantum bukanlah bentuk pesimisme terhadap masa depan Bitcoin, melainkan upaya untuk memetakan tantangan teknis yang mungkin muncul di masa depan.
Dengan memahami potensi risiko sejak dini, komunitas blockchain diharapkan dapat mengembangkan solusi teknologi yang tepat sebelum ancaman tersebut benar-benar muncul.
Opini Penulis – Aaf Afiatna
Perdebatan mengenai ancaman komputer kuantum terhadap Bitcoin sebenarnya mencerminkan satu hal penting: teknologi selalu berkembang lebih cepat daripada sistem keamanan yang ada. Hal ini bukan hanya terjadi di dunia kripto, tetapi juga dalam hampir semua sektor teknologi digital.
Namun yang menarik dari ekosistem Bitcoin adalah sifatnya yang terbuka dan kolaboratif. Komunitas pengembang di seluruh dunia terus bekerja untuk meningkatkan keamanan jaringan secara berkelanjutan.
Ancaman komputasi kuantum mungkin nyata dalam jangka panjang, tetapi justru mendorong inovasi baru dalam bidang kriptografi dan keamanan digital.
Jika komunitas Bitcoin mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tersebut, maka tantangan ini justru dapat menjadi titik awal evolusi baru bagi sistem keuangan berbasis blockchain di masa depan.

Aaf Afiatna (Aura OS) adalah seorang WordPress Developer, Administrator IT, dan penggerak di balik infrastruktur berbagai portal media digital PT Arina Duta Sehati. Ia memiliki ketertarikan mendalam pada rekayasa sistem tingkat rendah, implementasi AI on-device, dan pengembangan proyek open-source seperti Neural Standby Kernel (NSK). Saat tidak sedang berurusan dengan server atau kode, ia aktif mengeksplorasi ekosistem Web3 dan berbagi wawasan melalui channel YouTube CryptoFansWorld.

