Pemalang, MEDIASERUNI.ID – Banjir yang menggenangi kawasan CityWalk Pemalang hingga 5–6 jam kembali memantik kritik tajam dari aktivis lingkungan. Pemerintah menyebut curah hujan tinggi sebagai penyebab utama, namun pernyataan tersebut dinilai menutup fakta lemahnya perencanaan infrastruktur, khususnya sistem drainase.
Presidium Gunung Slamet, Andi Rustono, menegaskan bahwa banjir berkepanjangan ini bukan peristiwa alam semata, melainkan konsekuensi dari pembangunan CityWalk tanpa sistem drainase yang layak.
“Sebelum ada CityWalk, hujan sebesar apa pun paling lama satu jam sudah kering. Sekarang bisa lima sampai enam jam. Ini jelas bukan kebetulan,” kata Andi.
Irigasi Tersier Lama Dipaksa Menampung Limpasan Kota
Menurut Andi, hingga saat ini CityWalk tidak memiliki drainase kota yang baru. Saluran yang ada hanyalah irigasi tersier lama dengan diameter sekitar 80 sentimeter, yang sejatinya diperuntukkan untuk distribusi air pertanian dari Kalikempol (BPM 9) menuju sawah-sawah di sisi utara Pemalang seluas sekitar 87 hektare.
Saluran tersebut, kata Andi, masih utuh dan tidak diperlebar maupun ditinggikan, sehingga tidak mampu berfungsi ganda sebagai drainase kawasan perkotaan.
“Kalau mau difungsikan sebagai drainase, mestinya jauh lebih lebar dan tinggi. Ini tidak. Akibatnya air menggenang dan menunggu dibuang ke Kali Banger,” tegasnya.
Pelaksana Lapangan: Kami Hanya Jalankan Gambar dari DPUTR
Pernyataan Andi diperkuat oleh pengakuan Taufik, pelaksana lapangan proyek CityWalk Pemalang. Ia menegaskan bahwa pihak kontraktor tidak membangun drainase baru karena memang tidak tercantum dalam gambar perencanaan dari Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR).
“Kami mengerjakan CityWalk sesuai gambar dari DPUTR. Memang tidak ada drainase baru yang dibuat,” ujar Taufik.
Pernyataan ini menegaskan bahwa persoalan drainase bukan berada di tingkat pelaksana lapangan, melainkan pada tahap perencanaan proyek.
Banjir Berulang Jadi Alarm Keras
Andi juga mengingatkan bahwa banjir serupa pernah terjadi pada 17 November 2025. Saat itu, genangan di depan stasiun kereta api hanya bertahan sekitar satu jam sebelum surut, jauh lebih singkat dibanding kondisi saat ini.
“Artinya, banjir sekarang tidak wajar. Durasi yang panjang menunjukkan ada penyumbatan struktural akibat pembangunan,” ujarnya.
Desak Perombakan Drainase dan Normalisasi Kali Banger
Sebagai solusi, Andi mendesak pemerintah daerah segera merombak sistem drainase CityWalk, terlebih proyek tersebut masih berada dalam masa pemeliharaan/garansi. Selain itu, ia juga meminta normalisasi Kali Banger (Kalibajin) yang dinilai semakin menyempit akibat bangunan yang memakan badan sungai, terutama ke arah Mulyoharjo.
“Kalau drainase tidak dirombak dan sungai tidak dinormalisasi, banjir ini akan terus terulang,” katanya.
Sorotan pada Tanggung Jawab Perencanaan
Banjir CityWalk Pemalang kini menjadi sorotan publik. Pengakuan pelaksana lapangan bahwa tidak ada drainase baru dalam desain resmi memperkuat dugaan adanya kelalaian perencanaan dalam proyek ruang publik yang seharusnya menjadi ikon kota, bukan sumber bencana.
Hingga berita ini diturunkan, pihak DPUTR Pemalang belum memberikan keterangan resmi terkait absennya sistem drainase dalam perencanaan CityWalk.
