Dunia teknologi global diguncang pada awal 2025 ketika startup China, DeepSeek, meluncurkan chatbot kecerdasan buatan yang diklaim mampu menyaingi model AI buatan Amerika Serikat dengan biaya jauh lebih rendah. Peluncuran ini langsung memicu spekulasi: apakah China akhirnya menemukan celah untuk memimpin revolusi industri berbasis AI?
Namun di balik euforia pasar dan analogi “Sputnik Moment” yang ramai digunakan media internasional, sejumlah indikator struktural menunjukkan bahwa keunggulan jangka panjang masih berada di tangan Amerika Serikat.
Badan Perdagangan dan Pembangunan PBB (UNCTAD) memproyeksikan pasar global AI mencapai US$5 triliun pada 2033. IMF bahkan menyebut AI berpotensi meningkatkan PDB global sebesar 4 persen dalam satu dekade. Dengan skala sebesar itu, persaingan AI bukan sekadar adu teknologi, melainkan pertarungan ekonomi dan geopolitik.
Kekuatan Simbolik vs Fondasi Sistemik
DeepSeek memang mencuri perhatian karena pendekatan algoritmiknya yang efisien. Namun sejarah industri menunjukkan bahwa satu terobosan teknologi tidak otomatis melahirkan revolusi industri. Revolusi industri selalu membutuhkan rangkaian inovasi yang berkelanjutan, didukung oleh institusi ekonomi yang adaptif.
China, dengan sistem negara-partai yang terpusat, mampu memobilisasi sumber daya secara cepat. Namun kontrol ketat Partai Komunis China atas pasar, perbankan, dan sektor swasta membatasi dinamika inovasi yang lahir dari kompetisi terbuka.
Pengalaman Uni Soviet menjadi preseden penting. Meski unggul dalam pencapaian simbolik seperti Sputnik, sistem ekonomi tertutup gagal menghasilkan inovasi berulang yang diperlukan untuk mempertahankan keunggulan teknologi.
Daya Komputasi: Kesenjangan yang Sulit Dikejar
Di balik AI modern terdapat satu faktor penentu: komputasi. Amerika Serikat menguasai sekitar 75 persen daya komputasi AI global, sementara China hanya sekitar 15 persen. Embargo chip canggih dan keterbatasan akses terhadap teknologi semikonduktor mutakhir membuat kesenjangan ini semakin melebar.
Dominasi AS juga terlihat pada layanan cloud. Amazon Web Services, Microsoft Azure, dan Google Cloud menguasai hampir dua pertiga pasar global. Penyedia cloud China masih tertinggal jauh, terutama dalam skala global.
Pasar dan Permintaan Jadi Penentu
Revolusi industri tidak hanya digerakkan oleh penawaran teknologi, tetapi juga oleh permintaan ekonomi. Dengan PDB per kapita tinggi dan biaya tenaga kerja mahal, Amerika Serikat memiliki insentif kuat untuk otomatisasi berbasis AI.
China justru menghadapi tekanan deflasi, kelebihan kapasitas industri, dan permintaan domestik yang lemah. Dalam kondisi tersebut, AI sulit menjadi motor pertumbuhan struktural.
Kesimpulannya, DeepSeek adalah pencapaian penting, tetapi belum cukup untuk menggeser keseimbangan global. Revolusi industri AI menuntut lebih dari sekadar kecanggihan algoritma—ia membutuhkan sistem ekonomi yang memungkinkan inovasi tumbuh tanpa batas.
