MEDIASERUNI.ID – Belum lama ini, seorang teman dari organisasi perkumpulan pemilik media online mengunjungi sekretariat di Bandung. Dia salah satu pengurus tingkat provinsi, yang kebetulan ambil bagian dalam program pemerintah makan bergizi gratis, sebutan kerennya MBG.
Penulis memanggilnya Bro dari sebutan Broder artinya saudara. Saking melekatnya sebutan itu sampai lupa nama yang sesunghuhnya, tapi merunut hubungan kekerabatan dia tergolong paman alias om statusnya. Namun, lantaran berteman sejak kecil batasan inipun menjadi samar.
Niat awalnya cuma ingin diskusi ringan. Tapi begitu duduk, obrolan semakin berat hingga mengarah kepada sejumlah kasus keracunan MBG. Hampir dari semua kasus, indikasi penyebab keracunan adalah daging ayam, meski di beberapa kasus terdapat di bahan yang lain.
Dari luar, program ini terdengar mulia dan sederhana, membagi makan sehat ke masyarakat. Tapi ternyata, cerita di balik dapurnya jauh lebih rumit dari yang dibayangkan.
Mengelola dapur MBG itu penuh hitung – hitungan, harus tepat dan cermat. Sedikit saja salah perencanaan, kerugiannya bisa langsung terasa. Apalagi harga bahan pokok sekarang seperti roller coaster, naik turun sesuka hati.
Karena itu banyak pengelola dapur memilih melakukan penyetokan bahan sebelum harga makin melonjak. Masalahnya, tak semua bahan bisa disimpan begitu saja, terutama jenis lauk seperti telur, ikan, dan daging ayam.
Nah, di sinilah tantangan besar muncul. Untuk menyimpan bahan-bahan itu dengan aman, dapur MBG butuh kulkas atau freezer berkapasitas besar dan benar-benar layak. Tanpa alat pendingin yang memadai, risiko bahan rusak makin tinggi.
Terutama daging ayam, yang memang jadi menu favorit MBG. Kalau penyimpanan tidak optimal, daging bisa cepat membusuk dan bahkan memunculkan ulat seperti belatung, jelas tidak layak konsumsi dan sangat berbahaya.
Masalah seperti ini harus jadi perhatian serius semua lembaga yang terlibat. Pengawasan fasilitas dapur, terutama kelayakan mesin pendingin, harus lebih selektif dan rutin dilakukan. Terutama pada dapur-dapur di tingkat provinsi, kecamatan dan kabupaten kota. Sehingga tidak ada lagi temuan daging ayam berbelatung.
Untuk hal ini, akan lebih baik jika melibatkan pihak ketiga yang bisa bersikap lebih independen, seperti organisasi kemasyarakatan dan organisasi media selain instansi pemerintah resmi, sehingga tidak adalagi misinformasi pemberitaan terkait program MBG yang digelindingkan pemerintah.
Hal ini dipandang perlu mengingat jumlah ayam yang diolah bisa mencapai ratusan bahkan ribuan, sementara menyiapkan daging yang ready disaat itu juga hal yang tidak mudah. Belum lagi kesiapan rumah potong hewan yang juga mesti ready.
Memang, kasus keracunan makanan yang pernah terjadi umumnya berawal dari daging ayam yang sudah tak layak pakai. Artinya, kualitas penyimpanan bukan sekadar pelengkap, tapi kunci utama agar program MBG benar-benar membawa manfaat, bukan masalah baru. (*)
Penulis Azhari
Ketua MIO Provinsi Jabar
Owner Mediaseruni.id
