Kota Bandung, MEDIASERUNI.ID –  Tulisan ini berjudul “Ikhlas dalam Beramal” ditulis oleh: Ir. H. Asep Ruslan, Ketua Yayasan Rahmat Lil Alamin (YARLA), Pembina Pondok Pesantren Rahmat Lil Alamin (PARLA) di Purwakarta, Wakil Ketua IV Badan Pekerja Majelis Musyawarah Sunda (MMS)  dan Dewan Pembina DPP  Paguyuban Asep Dunia (PAD).

Suatu amalan semakin tersembunyi dikerjakan adalah lebih baik, dan ini yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semakin besar pula peluangnya untuk diterima Allah subhaanahu wa ta’ala dan semakin kuat pula untuk di lakukan dengan ikhlas dalam beramal.

Orang yang ikhlas dalam beramal adalah orang yang suka menyembunyikan setiap amalnya, sebagaimana ia menutup-nutupi kejelekannya.

Seorang mukhlis yang jujur senang menyembunyikan berbagai kebaikannya sebagaimana dia suka apabila keburukannya tidak terkuak. Hal ini sebagaimana diutarakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ الإِمَامُ الْعَادِلُ ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِى عِبَادَةِ رَبِّهِ ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِى الْمَسَاجِدِ ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِى اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّى أَخَافُ اللَّهَ . وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah ta’ala dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan selain naungan-Nya. Mereka adalah seorang pemimpin yang adil; seorang pemuda yang tumbuh dalam keta’atan kepada Allah; seorang pria yang hatinya senantiasa terpaut dengan masjid; dua orang yang saling mencintai karena Allah, mereka berkumpul dan berpisah di atas kecintaan kepada-Nya; seorang pria yang diajak (berbuat tidak senonoh) oleh seorang wanita yang cantik, namun pria tersebut mengatakan, “Sesungguhnya saya takut kepada Allah”; seorang pria yang bersedekah kemudian dia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang telah disedekahkan oleh tangan kanannya; seorang pria yang mengingat Allah dalam keadaan sunyi dan air matanya berlinang.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Baca Juga:  Koperasi Jasa Multi Pihak Aset Digital Nusantara Garuda Butuh Pengurus dan Pengelola

Bisyr ibnul Harits mengatakan, “Janganlah engkau beramal untuk diingat. Sembunyikanlah kebaikan sebagaimana engkau menyembunyikan keburukan.

Oleh karena itu shalat sunnah di malam hari lebih diutamakan dari pada yang dilakukan di siang hari, seperti di utamakannya istighfar di waktu sahur di banding dengan waktu-waktu lainnya, karena yang demikian itu lebih bersembunyi dan lebih dekat dengan keikhlasan.

Memperhatikan Amalan Para Nabi dan Orang Shalih Terdahulu

Dalam beramal shalih jangan memperhatikan amalan orang-orang di zamanmu yang tertinggal olehmu dalam berlomba-lomba mendapat kebaikan, namun berkeinginanlah untuk selalu meneladani para Nabi ‘Alaihis Sallam dan orang-orang shalih.

Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman:

اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُ فَبِهُدٰىهُمُ اقْتَدِهْۗ قُلْ لَّآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ اَجْرًاۗ اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٰى لِلْعٰلَمِيْنَ ࣖ

“Mereka itulah (para nabi) yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak meminta imbalan kepadamu dalam menyampaikan (Al-Qur’an).” Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk (segala umat) seluruh alam”. (QS. [6] Al-An’am ayat 90)

Ayat ini ditujukan kepada Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wa sallam yang nama beliau tidak disebut dalam rangkaian ayat di atas.

Mereka itulah para nabi yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka khususnya yang berkaitan dengan sikap mereka dalam berdakwah, yakni tidak meminta imbalan atas dakwah yang disampaikan.

Untuk itu, katakanlah, hai Muhammad, kepada semua yang engkau ajak, “Aku tidak meminta imbalan kepadamu dalam menyampaikan dakwah khususnya ajaran Al Qur’an, karena dakwah yang kusampaikan dan Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan semua umat di seluruh alam”.

Bacalah biografi orang-orang shalih dari kalangan para ulama, ahli ibadah, orang-orang terpandang, dan orang-orang yang zuhud, karena hal itu lebih berkesan untuk menambah keimanan dalam hati.

Baca Juga:  Hari Jadi Purwakarta ke 56, Purwakarta Daerah Unggulan Investasi Industri di Jawa Barat

Adalah Kekeliruan Tatkala Seseorang Merasa Ridha Terhadap Dirinya

Orang yang memandang dirinya dengan penuh keridhaan berarti telah membinasakan dirinya sendiri dan orang yang memandang amalnya dengan rasa kagum berarti telah mengikis keikhlasannya, atau bahkan keikhlasan itu telah tercabut darinya dan amalnya pun berguguran satu persatu.

Sa’id bin Jubair berkata, “Ada seseorang yang masuk surga karena sebuah kemaksiatan yang di lakukannya dan ada seseorang yang masuk neraka karena sebuah kebaikan yang di lakukannya,” orang-orang pun bertanya keheranan: “Bagaimana bisa begitu…?” Maka lanjutnya, “Seseorang melakukan kemaksiatan kemudian setelah itu ia senantiasa takut dan cemas terhadap siksa Allah karena dosanya itu, kemudian ia menghadap Allah lalu Allah mengampuninya karena rasa takutnya kepada-Nya dan seseorang berbuat suatu kebaikan lalu ia senantiasa mengaguminya, kemudian ia pun menghadap kepada Allah dengan sikapnya itu, maka Allah pun mecampakkannya ke dalam neraka.”

Hidayah berada di tangan Allah dan hati para hamba berada di antara dua jari Allah, Dia membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya.

Oleh karena itu, mohonlah perlindungan kepada-Nya, Dzat yang ditangan-Nya-lah hidayah berada, tampakkanlah hajat dan kefakiranmu kepada-Nya. mintalah selalu kepada-Nya agar Dia memberikan keikhlasan kepadamu. Do’a yang sering dipanjatkan oleh Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu adalah do’a berikut,

اللهم اجعل عملي كلها صالحا, واجعله لوجهك خالصا, و لا تجعل لأحد فيه شيئا

“Ya Allah, jadikanlah seluruh amalku sebagai amal yang shalih, Ikhlas karena mengharap Wajah-Mu, dan janganlah jadikan di dalam amalku bagian untuk siapapun.”

اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُكَ عِلْماً نَافِعاً، وَرِزْقاً طَيِّباً، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

“Ya Allâh! Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amalan yang diterima.” (HR. Ibnu Majah, No. 915)