MEDIASERUNI.ID – Syukur adalah titik tolak paling mendasar dalam memahami realitas dunia. Syukur bahwa langit yang menaungi seluruh umat manusia berdiri tanpa tiang sebagai tanda kebesaran Allah SWT, dan syukur bahwa bumi beserta isinya bukan milik imperium mana pun, melainkan amanah Ilahi yang menuntut keadilan, tanggung jawab, dan keberanian moral.
Kesadaran tauhid inilah yang seharusnya menjadi kompas etika dalam membaca dinamika geopolitik global, terutama ketika dunia kembali dihadapkan pada perang, agresi militer, dan jatuhnya korban sipil yang tak berdosa.
Dalam konteks mutakhir, serangan militer yang dilakukan oleh Israel dengan dukungan politik dan militer Amerika Serikat terhadap Iran menandai eskalasi serius yang patut dikutuk secara tegas.
Serangan yang dilaporkan terjadi pada pagi hari waktu Tel Aviv, serta mengakibatkan jatuhnya korban warga sipil Iran, merupakan pelanggaran nyata terhadap prinsip kemanusiaan, hukum humaniter internasional, dan nilai-nilai moral universal.
Tidak ada dalih apa pun yang dapat membenarkan penyerangan terhadap warga sipil. Dalam perspektif Islam, tindakan semacam ini adalah bentuk kezaliman yang nyata. Bahkan dalam hukum internasional modern, perlindungan terhadap non-kombatan merupakan prinsip yang tidak boleh ditawar.
Prinsip Islam dan Etika Konflik Bersenjata
Islam tidak pernah melegitimasi agresi. Perang dalam ajaran Islam ditempatkan sebagai jalan terakhir setelah seluruh ikhtiar damai tertutup.
Bahkan ketika perang tak terhindarkan, Islam menetapkan rambu-rambu moral yang tegas: tidak menyerang lebih dahulu, tidak melampaui batas, dan tidak menjadikan warga sipil sebagai sasaran.
Dalam kerangka inilah sikap Iran perlu dibaca secara jernih dan proporsional. Selama bertahun-tahun, Iran secara konsisten menyatakan tidak memulai agresi militer.
Ketika jalur diplomasi menemui kebuntuan dan wilayah kedaulatannya diserang, respons yang diambil diklaim diarahkan pada target militer, bukan pada warga sipil. Ini bukan glorifikasi kekerasan, melainkan penegasan bahwa prinsip etika tetap dijadikan rujukan, bahkan dalam situasi konflik.
Pesan Strategis di Balik Serangan Balasan
Serangan balasan Iran yang menyasar basis militer di kawasan Timur Tengah mengandung pesan strategis yang kuat. Pernyataan dari penasihat Islamic Revolutionary Guard Corps bahwa rudal yang digunakan merupakan bagian dari stok lama dapat dibaca sebagai sinyal politik dan psikologis: Iran tidak sedang mendorong eskalasi total, melainkan menyampaikan peringatan tegas atas pelanggaran kedaulatannya.
Dalam kajian geopolitik, langkah ini dikenal sebagai strategic signaling, yakni upaya membatasi konflik agar tidak berkembang menjadi perang terbuka berskala luas. Ironisnya, justru pihak-pihak yang kerap mengklaim diri sebagai penjaga tatanan dunia sering kali melanggar prinsip ini melalui intervensi militer sepihak dan pembiaran jatuhnya korban sipil.
Palestina dan Konsistensi Sikap Moral
Dukungan Iran terhadap Palestina tidak dapat dilepaskan dari posisi ideologis dan politik luar negerinya. Di tengah banyaknya negara yang lantang menyuarakan solidaritas terhadap Palestina namun berhenti pada pernyataan simbolik, Iran memilih jalan yang berisiko namun konsisten dengan keyakinannya.
Sebaliknya, tragedi kemanusiaan yang terus berlangsung di Gaza, dan kini merembet pada warga sipil Iran, memperlihatkan wajah standar ganda dalam politik global.
Ketika pelanggaran dilakukan oleh sekutu kekuatan besar, istilah “hak membela diri” mudah digunakan. Namun ketika korban berasal dari pihak yang diposisikan sebagai lawan politik, penderitaan mereka kerap dipinggirkan dari empati dunia.
Indonesia dan Ilusi Perdamaian Internasional
Dalam konteks inilah arah politik luar negeri Indonesia patut menjadi bahan refleksi serius. Secara historis, Indonesia dikenal sebagai pendukung konsisten perjuangan Palestina. Sikap ini bukan sekadar pilihan diplomatik, melainkan amanat konstitusi dan warisan moral para pendiri bangsa.
Namun, keterlibatan Indonesia dalam forum-forum seperti Board of Peace menimbulkan pertanyaan mendasar. Forum perdamaian yang dirancang dan dipromosikan oleh Amerika Serikat kerap menunjukkan bias struktural.
Alih-alih menyentuh akar konflik, forum semacam ini cenderung mengelola konflik agar tidak mengganggu kepentingan geopolitik hegemon, sembari terus memberi ruang aman bagi agresi Israel.
Dalam perspektif kritis, ini bukan peace building, melainkan peace management perdamaian prosedural yang kehilangan substansi keadilan.
Ujian Kepemimpinan dan Arah Kebijakan
Dalam situasi Timur Tengah yang kian bergejolak, agresi terhadap Iran, tragedi kemanusiaan di Gaza, dan meningkatnya ketegangan regional—arah kebijakan luar negeri di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto berada dalam sorotan publik.
Memberi legitimasi pada forum perdamaian yang dipimpin oleh Amerika Serikat, sementara negara tersebut secara terbuka melindungi dan mempersenjatai Israel, merupakan kontradiksi kebijakan yang sulit dijelaskan secara etis. Langkah ini berpotensi mencederai posisi moral Indonesia dan dapat dipersepsikan sebagai pengingkaran terhadap prinsip politik luar negeri bebas aktif yang berkeadilan.
Bebas Aktif yang Berbasis Nilai
Politik luar negeri bebas aktif bukanlah politik tanpa nilai. Ia menuntut keberanian moral untuk berkata tidak ketika perdamaian dikemas sebagai justifikasi ketidakadilan. Ketika forum-forum internasional gagal menghentikan penderitaan rakyat Palestina dan bungkam terhadap jatuhnya korban sipil Iran, maka keterlibatan Indonesia di dalamnya layak dievaluasi secara terbuka dan jujur.
Meluruskan Kompas Moral Bangsa*l
Ramadan adalah waktu untuk tafakur, tidak hanya secara spiritual, tetapi juga kebangsaan. Tauhid bukan sekadar keyakinan personal, melainkan fondasi etika dalam bersikap sebagai bangsa. Kedaulatan dan martabat tidak dibangun oleh retorika, melainkan oleh konsistensi prinsip dan keberanian berdiri di sisi keadilan.
Jika Iran, dengan segala kontroversinya, berani mempertahankan prinsip “tidak menyerang lebih dulu” dan konsisten membela Palestina, maka Indonesia seharusnya mampu memainkan peran yang lebih bermartabat: menjadi suara keadilan global, bukan bagian dari ilusi perdamaian yang disusun oleh kekuatan yang justru melanggengkan kekerasan. (*)
Haris Bunyamin
Analis Geopolitik dan Pemerhati Konflik Timur Tengah
