Pemalang, MEDIASERUNI.ID – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Pemalang, Ismun Hadiyo, S.Pd., menegaskan bahwa Sekolah Ramah Anak (SRA) bukan hanya sekadar program administratif. Menurutnya, penerapan SRA adalah gerakan moral yang menentukan kualitas generasi masa depan.

“Anak-anak kita tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga dari perilaku nyata guru. Apa yang dilakukan guru sehari-hari akan melekat kuat dalam ingatan mereka,” kata Ismun saat membuka kegiatan Peningkatan Kapasitas Tenaga Pendidik untuk Mewujudkan Sekolah Ramah Anak, The Winner Selasa (24/9/2025).

Ismun menargetkan pada 2025–2026, minimal 30 persen sekolah di Pemalang sudah mengimplementasikan SRA. Saat ini baru 63 sekolah yang mendeklarasikan diri sebagai ramah anak dari total lebih dari 900 satuan pendidikan.

Baca Juga:  Sekda Herman Dorong Bumdes dan Bumdesma Lawan Bank Emok

HP Disebut “Setan Gepeng”, Ancaman Nyata Bagi Anak

Narasumber dari Dinas Sosial P3A, Triyatno Yuliharso, menyebut gawai atau HP sebagai ancaman serius bagi anak-anak.

“Banyak kasus kekerasan seksual dan perundungan berawal dari media sosial. Anak lebih sering berinteraksi dengan HP ketimbang dengan teman sebaya. Ini bahaya yang harus kita hadapi bersama,” tegasnya.

Pemalang Bidik Predikat Utama Kabupaten Layak Anak

Baca Juga:  Stasiun Jatake Siap Beroperasi Januari 2026, Dukung Mobilitas Tangerang

Sementara itu, Sukamat, Widyaprada BPG Semarang, menekankan pentingnya peran guru, orang tua, dan masyarakat. Ia menyebut Pemalang saat ini sudah berada di kategori Nindya Kabupaten Layak Anak, namun target nasional pada 2030 adalah seluruh kabupaten/kota wajib mencapai predikat Utama.

“Sepertiga hidup anak ada di sekolah. Maka, sekolah harus benar-benar bebas dari kekerasan, diskriminasi, dan bahaya narkoba,” ujarnya.

Dengan peta jalan pendidikan ramah anak 2025–2030 yang sudah disiapkan, Pemalang optimistis mampu meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus memperkuat perlindungan anak.