Jakarta, MEDIASERUNI – Thailand melaporkan dugaan kasus pertama wabah mpox klade 1b hari ini, 21 Agustus 2024. Kasus ini diduga lebih berbahaya dibandingkan wabah tahun 2022.

Kepala Departemen Pengendalian Penyakit Thailand, Thongchai Keeratihattayakorn, sebagaimana dimuat AFP, mengatakan pasien merupakan warga Eropa yang baru saja kembali dari Afrika dan kini sedang dikarantina di rumah sakit.

“Tes laboratorium sedang dilakukan untuk mengonfirmasi strain virus, dengan hasil yang diharapkan keluar dalam dua hari,” katanya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengumumkan situasi darurat akibat penyebaran kembali mpox jenis baru ini. Mpox klade 1b dilaporkan pertama kali muncul di Republik Demokratik Kongo pada Juli 2024, dan telah menyebar ke beberapa negara di Afrika, serta terdeteksi di Swedia dan Pakistan.

Baca Juga:  Digiplus Perluas Jangkauan di Karawang, Hadirkan Gadget Terkini untuk Masyarakat

Selain Thailand, Filipina juga melaporkan kasus pertama mpox tahun ini pada seorang pria berusia 33 tahun. Namun, otoritas masih memastikan apakah ini varian baru klade 1b.

Virus mpox, yang sebelumnya dikenal sebagai cacar monyet, menyebabkan demam, nyeri otot, dan lesi kulit, dan kini menyebar antar manusia melalui kontak fisik. Klade 1b telah menyebabkan kematian pada 3,6% kasus, dengan anak-anak menjadi kelompok yang paling berisiko.

Gejala-gejala virus mpox yang menyerang pasien dimulai dengan demam, yang diikuti ruam pada wajah, punggung, tengkuk, badan, selangkangan, serta telapak tangan dan telapak kaki.

Baca Juga:  Puluhan Rumah di Desa Sindangratu, Kecamatan Wanaraja Garut di rendam banjir

Mpox klade 1b, yang kini mewabah di Burundi, Kenya, Rwanda, Uganda, serta terdeteksi di Swedia dan Pakistan, ditularkan antar manusia melalui kontak fisik.

Penyakit ini menyebabkan demam, nyeri otot, dan lesi kulit besar, dengan tingkat kematian sekitar 3,6%, terutama pada anak-anak.

Meskipun mpox telah dikenal sejak 1958, varian klade 1b memicu lonjakan kasus terbaru. Republik Demokratik Kongo melaporkan lebih dari 16.000 kasus dan 500 kematian tahun ini. (*)