AI dan Pertumbuhan Teknologi yang Tidak Sepenuhnya “Bersih”

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) saat ini berada pada titik paling agresif dalam sejarah teknologi modern. AI digunakan untuk analisis data, otomasi industri, sistem rekomendasi, hingga pengambilan keputusan strategis di berbagai sektor. Namun, seiring meningkatnya ketergantungan global terhadap AI, muncul satu pertanyaan penting: seberapa besar dampak lingkungan yang ditimbulkan teknologi ini?

Salah satu isu yang mulai mendapat perhatian serius adalah konsumsi air AI. Berbeda dengan industri konvensional yang terlihat jelas menggunakan air, AI bekerja secara digital, sehingga dampak lingkungannya sering kali tersembunyi. Padahal, di balik layar, sistem AI membutuhkan infrastruktur fisik berskala besar yang bergantung pada air dalam jumlah signifikan.

Pusat Data AI dan Ketergantungan pada Air

Sistem Pendinginan sebagai Konsumen Air Utama

Pusat data merupakan tulang punggung operasional AI. Ribuan hingga jutaan server bekerja secara simultan untuk memproses data dan menjalankan model AI. Aktivitas ini menghasilkan panas yang sangat tinggi. Tanpa sistem pendinginan yang efektif, server dapat mengalami gangguan bahkan kerusakan.

Sebagian besar pusat data global masih mengandalkan pendinginan berbasis air, di mana air digunakan untuk menyerap panas dan kemudian dilepaskan melalui proses penguapan. Air yang menguap tersebut tidak dapat dikembalikan ke sistem, sehingga secara teknis dianggap hilang. Dengan meningkatnya skala dan intensitas penggunaan AI, konsumsi air untuk pendinginan juga meningkat secara eksponensial.

Baca Juga:  Di Balik Lonjakan Biaya Chip RAM iPhone 17

Laporan industri memproyeksikan bahwa kebutuhan air pusat data yang melayani AI dapat mencapai miliaran liter per tahun secara global jika tidak diimbangi dengan efisiensi teknologi.

Air dalam Produksi Chip Semikonduktor AI

Ultrapure Water dalam Manufaktur Teknologi Tinggi

Selain tahap operasional, AI juga membutuhkan air dalam proses produksinya. Chip semikonduktor, GPU, dan prosesor khusus AI diproduksi melalui proses manufaktur yang sangat presisi. Pada tahap ini, digunakan ultrapure water, air dengan tingkat kemurnian ekstrem yang berfungsi membersihkan wafer silikon dari kontaminasi mikroskopis.

Setiap pabrik semikonduktor dapat mengonsumsi jutaan liter air setiap hari. Dengan meningkatnya permintaan chip AI secara global, terutama dari perusahaan teknologi besar, tekanan terhadap sumber daya air di kawasan industri manufaktur semakin meningkat.

Jejak Air Tidak Langsung dari Konsumsi Energi

Hubungan AI, Listrik, dan Air

AI dikenal sebagai teknologi yang sangat boros energi. Pusat data membutuhkan pasokan listrik besar dan stabil. Jika listrik tersebut berasal dari pembangkit berbasis fosil atau nuklir, maka air kembali digunakan untuk mendinginkan sistem pembangkit.

Artinya, semakin besar energi yang digunakan AI, semakin besar pula konsumsi air tidak langsung yang terjadi di sektor energi. Rantai ini menunjukkan bahwa jejak air AI tidak hanya berasal dari satu titik, melainkan dari keseluruhan ekosistem teknologi.

Baca Juga:  Teknologi Komputer dan Sistem Informasi: Dampak Sosial bagi Masyarakat

Seberapa Besar Dampak Nyata Konsumsi Air AI?

Studi akademik dan laporan perusahaan menunjukkan variasi angka konsumsi air AI. Penelitian dari University of California, Riverside memperkirakan bahwa puluhan permintaan pada model AI besar dapat menyebabkan hilangnya sekitar setengah liter air akibat proses pendinginan.

Sementara itu, laporan keberlanjutan perusahaan teknologi menyebutkan bahwa satu permintaan AI dapat berkontribusi pada konsumsi air dalam skala mililiter. Meskipun tampak kecil, angka ini menjadi signifikan ketika dikalikan dengan miliaran permintaan setiap hari di seluruh dunia.

Risiko Lingkungan dan Tantangan Kebijakan

Masalah utama bukan hanya jumlah air yang digunakan, tetapi lokasi penggunaan air tersebut. Banyak pusat data dibangun di wilayah yang sudah mengalami stres air. Tanpa pengelolaan yang baik, kehadiran pusat data dapat memperburuk tekanan terhadap sumber daya lokal.

Oleh karena itu, transparansi penggunaan air, regulasi pemerintah, serta standar lingkungan menjadi faktor krusial agar pertumbuhan AI tidak mengorbankan keberlanjutan lingkungan.

Kesimpulan

AI membawa manfaat ekonomi dan sosial yang besar, tetapi juga memiliki biaya lingkungan yang nyata. Konsumsi air dari pusat data, manufaktur chip, dan sektor energi menunjukkan bahwa AI bukan teknologi yang sepenuhnya “bebas dampak”. Tantangan ke depan adalah memastikan inovasi AI berjalan seiring dengan prinsip keberlanjutan.