Konsumen global diperkirakan akan menghadapi tantangan baru pada 2026 seiring meningkatnya harga perangkat elektronik. Kelangkaan chip memori yang masih berlangsung telah menciptakan tekanan berlapis pada rantai pasok industri teknologi, mulai dari produsen komponen hingga pasar ritel. Dampaknya kini semakin dekat dengan konsumen akhir, yang harus bersiap menghadapi harga perangkat elektronik yang lebih mahal dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Menurut laporan analis yang dikutip Info Tekno, harga komponen elektronik diprediksi akan naik signifikan dan berimbas langsung pada harga jual produk. Kenaikan harga ritel bahkan diperkirakan bisa mencapai 20 persen. Bagi konsumen, situasi ini menjadi dilema, terutama ketika kenaikan harga tersebut tidak selalu diiringi dengan peningkatan kualitas atau fitur yang benar-benar baru.

Daya Beli Konsumen dalam Tekanan Ekonomi Global

Kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil membuat konsumen cenderung lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang mereka. Inflasi yang masih terasa di berbagai negara, ditambah ketidakpastian pendapatan, mendorong masyarakat untuk menunda pembelian barang-barang bernilai tinggi, termasuk perangkat elektronik.

Dalam konteks ini, kenaikan harga komputer, HP, dan peralatan elektronik rumah tangga berpotensi memperlemah minat beli. Konsumen tidak lagi mudah tergoda untuk mengganti perangkat lama, selama perangkat tersebut masih berfungsi dengan baik. Perubahan perilaku ini menjadi sinyal penting bagi industri teknologi yang selama ini mengandalkan siklus pembaruan perangkat secara rutin.

Konsumen Menahan Diri, Pasar HP Terancam Melambat

International Data Corporation (IDC) melihat adanya risiko perlambatan pasar HP global pada 2026. Dalam proyeksi terbarunya, IDC menyebut pasar HP berpotensi mengalami penurunan hingga 5 persen dalam skenario pesimistis. Salah satu faktor utamanya adalah meningkatnya harga jual rata-rata HP yang tidak sebanding dengan urgensi kebutuhan konsumen untuk melakukan upgrade.

Baca Juga:  Rantai Pasok Global Tertekan, Pasar Smartphone Terancam Gejolak Harga pada 2026

Laporan IDC pada 9 Desember 2025 juga menyoroti bahwa segmen HP konvensional non-lipat diperkirakan akan mengalami penurunan pengapalan sebesar 1,4 persen pada 2026. Bagi konsumen, HP jenis ini dinilai tidak lagi menawarkan perubahan signifikan dibandingkan generasi sebelumnya, sehingga tidak cukup kuat untuk mendorong keputusan pembelian baru.

HP Lipat: Mahal, tetapi Dianggap Bernilai Lebih

Di tengah tekanan daya beli, kategori HP lipat justru menunjukkan arah yang berbeda. IDC memproyeksikan pengapalan HP lipat akan tumbuh hingga 29,7 persen pada 2026. Meski harga HP lipat relatif lebih tinggi, konsumen tertentu menilai perangkat ini menawarkan nilai lebih, terutama dari sisi inovasi dan pengalaman penggunaan.

HP lipat tidak lagi sekadar dipandang sebagai produk eksperimental, melainkan sebagai simbol kemajuan teknologi yang nyata. Layar fleksibel, desain multifungsi, serta pengalaman penggunaan yang berbeda membuat sebagian konsumen bersedia membayar lebih mahal, terutama mereka yang mencari pembaruan signifikan dari perangkat lama.

Peran Apple dan Samsung dalam Membentuk Persepsi Konsumen

Pertumbuhan minat terhadap HP lipat tidak lepas dari peran pemain besar industri. Samsung disebut akan memperluas inovasi dengan menghadirkan Galaxy Z TriFold, yang membawa konsep HP lipat tiga ke pasar global. Inovasi ini dinilai dapat memperkuat persepsi konsumen bahwa HP lipat bukan lagi produk niche.

Di sisi lain, kehadiran iPhone lipat pertama yang dirumorkan meluncur pada akhir 2026 diyakini akan menjadi faktor penentu. Menurut Direktur Riset Senior IDC, Nabila Popal, masuknya Apple akan meningkatkan daya tarik kategori HP lipat secara keseluruhan. Apple dikenal mampu mengubah produk teknologi menjadi kebutuhan gaya hidup, sehingga adopsi di kalangan konsumen arus utama berpotensi meningkat.

Baca Juga:  Ekstensi Berbahaya di Browser: Ancaman Nyata bagi Pengguna Internet Sehari-hari

VP perangkat klien IDC, Francisco Jeronimo, menambahkan bahwa Apple sering berperan sebagai katalis adopsi teknologi baru. Meski volume penjualan HP lipat mungkin tidak langsung menyaingi HP konvensional, dari sisi nilai, perangkat ini memberikan margin yang jauh lebih tinggi bagi produsen.

Siklus Penggantian HP Semakin Panjang

Bagi konsumen, keputusan untuk mempertahankan HP lebih lama kini menjadi pilihan rasional. Kenaikan harga, ditambah minimnya perbedaan signifikan antar generasi HP konvensional, membuat siklus penggantian perangkat semakin panjang. Tren ini menekan produsen, tetapi sekaligus membuka peluang bagi inovasi yang benar-benar berbeda.

Dalam kondisi pasar yang jenuh, HP lipat menjadi salah satu solusi untuk membangkitkan kembali minat konsumen. IDC memperkirakan kategori HP lipat akan tumbuh dengan CAGR sebesar 17 persen hingga 2029, jauh di atas pertumbuhan HP konvensional yang diperkirakan kurang dari 1 persen.

Preferensi Sistem Operasi di Mata Konsumen

Dari sisi sistem operasi, Android diproyeksikan tetap mendominasi pasar HP lipat pada 2026 dengan pangsa sekitar 61 persen. Apple diperkirakan menguasai 22 persen, sementara HarmonyOS Next dari Huawei berada di kisaran 17 persen. Distribusi ini mencerminkan preferensi konsumen yang masih beragam, tergantung ekosistem dan loyalitas merek.

Meski demikian, IDC menegaskan bahwa proyeksi ini masih bersifat dinamis. Perubahan kondisi ekonomi, strategi harga produsen, serta respons konsumen akan sangat menentukan arah pasar HP dalam beberapa tahun ke depan.