Sukabumi, MEDIASERUNI.ID – Keripik Tempe Kahla, bagi sebagian orang mungkin baru mendengar, tetapi bagi Warga Sukabumi, siapa yang tidak tahu. Cemilan ringan ini sudah booming bahkan pasarnya telah tembus Australia dan Belanda sampai Arab Saudi.

Bicara Keripik Tempe Kahla, tentu saja tidak terlepas dari tangan dingin pasangan Handry Wahyudi (53) dan Vivi Herviany (51), sang perintis makanan kelas dunia ala Kampung Nagrak Lebak Desa Balekambang Kecamatan Nagrak Kabupaten Sukabumi.

Mengunjungi rumah produksi dengan lahan seluas 500 meter persegi. Di lahan itu berdiri dua bangunan, rumah produksi Keripik Tempe Kahla serta tempat tinggal Handi dan Vivi. Ternyata bukan tanpa alasan memilih Kampung Nagrak sebagai rumah mereka.

“Kami sengaja mengambil tempat disini. Sepi dan udaranya bersih. Sudah bosen dengan keramaian di Jakarta,” ujar Vivi, ramah, ketika dikunjungi Telusurbisnis (media grup Mediaseruni), Kamis 2 April 2026.

Vivi menuturkan kisahnya sebelum memutuskan mengolah tempe yang akhirnya menjadi sumber rejekinya. Vivi dan suami sudah mengalami jatuh bangun didalam pekerjaan serta usaha. “Kami memutuskan untuk fokus mengolah usaha ini sejak 2014,” akui Vivi.

Perusahaan Tempat Bekerja Bangkrut

Tahun 2008, terang Vivi, dirinya bersama Handry, suaminya, memutuskan untuk hijrah ke kampung Nagrak di Kabupaten Sukabumi. Saat itu perusahaan tempat mereka bekerja bangkrut, hingga memaksa mereka berhenti kerja.

“Setelah perusahaan bangkrut kami memutuskan untuk menekuni bisnis konter hape. Tapi inipun kurang beruntung. Konter hapenya bangkrut,” kata Vivi, mengenang tahun 2009, angka tahun ketika usaha konter hapenya bangkrut.

Baca Juga:  Oknum Kades Tanjungbungin Ditangkap Setelah Dipantau di Banten

Vivi melanjutkan, setelah usaha konternya bangkrut dirinya bersama suami memutuskan untuk bekerja di kantoran lagi sebagai sales di sebuah perusahaan rokok kelas daerah.

Profesi baru itu mereka tekuni hingga 2014. Siapa sangka, inspirasi Tempe Kahla justru diawali dari sini. Setelah sukses membawa peusahaan rokok yang menaungi mereka, Vivi pun mulai berpikir untuk berekspansi dengan usaha sendiri.

Bangkit dengan Keripik Tempe Kahla

“Saya berpikir, mengapa tidak mencoba buka usaha lagi. Kalau bisnis usaha konter hape gagal, mungkin di bisnis lainnya bisa berhasil. Dan, alhamdulillah, setelah rembukan dengan, kami pun memutuskan berbisnis usaha makanan, dan kami memilih makanana ringan,” tutur Vivi.

Vivi dan suaminya akhirnya memilih tempe sebagai bahan usaha. “Kami akhirnya memulainya dengan tempe,” ucap Vivi, setelah mereka mendapatkan penghargaan dari perusahaan rokok tempat bekerja karena keberhasilan mereka mempromosikan rokok milik perusahaannya.

“Sebelum memutuskan mengola tempe, saya sempat berpikir makanan apa yang digemari orang dan bisa untuk cemilan sekaligus teman nasi. Waktu itu yang terlintas dibenak kenapa tidak tempe saja. Kalau singkong, kan tidak bisa dimakan dengan nasi. Tapi kalau tempe, bisa untuk makanan iseng, juga dengan nasi sebagai lauk.” tuturnya.

Akhir 2014, Vivi dan suami, mulai mencoba memproduksi keripik tempe. Sekalipun awalnya masih coba-coba dan memproduksi dalam jumlah kecil, dan memberi nama produknya itu dengan nama anak satu-satunya, Kahla.

Baca Juga:  Bupati Asep Japar Ajak NU Bareng-bareng Majukan Sukabumi

“Mulanya kami hanya mencoba sedikit – sedikit dengan modal tidak seberapa. Kami kerjakan sendiri. Mulai dari membeli tempe,
membumbukannya, menggorengnya sampai mengantar ke warung-warung sekitar kampung ini,” kenang Vivi.

Vivi menjualnya dengan harga seribu rupiah dalam bungkusan plastik kecil-kecil. “Ke warung kami kasih harga 800 rupiah. Warung ambil untung 200 rupiah. Alhamdulilah, tempe saya laku. Baru sebulan, sudah banyak yang minta kembali,” ucap Vivi.

Dengan usaha yang serius dan modal nekat, di tahun yang sama, Vivi mulai memasarkan keripik tempenya ke arah kota Sukabumi. Untuk itu, Vivi perlu mengubah image makanannya dengan memberikan packing yang jauh lebih baik.

“Dari pelastik, saya ubah ke aluminium foil. Saya desain bungkusnya menjadi lebih baik dan ini memerlukan modal yang tidak sedikit,” ucapnya.

Dengan packing yang baru, harga keripiknya pun tentu berubah, menjadi 15.000 rupiah tiap bungkusnya. Walaupun demikian, Vivi tidak menghilangkan bungkus yang kecil-kecil seperti awalnya semula untuk beredar di sekitar tempat tinggalnya.

“Saya mengikuti pameran-pameran. Dari kelas kampung, sampai kelas nasional. Dari kelas arisan, sampai pameran di gedung-gedung perbelanjaan.” ujarnya.

Alhamdulillah, mesti sempat jatuh bangun, namun berkat usaha dan tekat yang kuat, Vivi dan suaminya Handry berhasil mengembangkan usaha Tempe Kahlanya, hingga tembus pasar Arab Saudi, Australia hingga Belanda. (Andi)