Oleh: Kustoni Br
Kepala Desa Babakan, Kecamatan Bodeh
Pemalang, MEDIASERUNI.ID –
Desa Babakan, Kecamatan Bodeh, Kabupaten Pemalang, secara geografis terletak di antara 109°29’35” Bujur Timur dan 06°59’34” Lintang Selatan, dengan ketinggian 41 meter di atas permukaan laut (MDPL). Kondisi geografis ini menjadikan Babakan sebagai wilayah agraris yang subur, dengan mayoritas penduduknya menggantungkan hidup pada sektor pertanian.
Sejak berabad-abad silam, Desa Babakan dikenal sebagai desa swasembada pangan, khususnya beras, sekaligus menjadi salah satu penopang ketahanan pangan Kabupaten Pemalang. Capaian tersebut tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses panjang yang ditempa oleh kerja keras petani serta kearifan lokal yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Pada masa lalu, keberhasilan pertanian Babakan tidak dapat dilepaskan dari peran luku, alat pertanian tradisional untuk membajak sawah. Kini, luku memang telah punah dan tergantikan oleh alat mesin pertanian modern seperti traktor dan alsintan lainnya. Namun, meski luku tak lagi membelah lumpur sawah, nilai dan filosofi yang dikandungnya tetap membajak sejarah dan kesadaran kolektif masyarakat Babakan.
Luku bukan sekadar alat kerja. Ia melambangkan kerja keras, kesabaran, dan ketekunan petani dalam mengolah tanah. Setiap tarikan luku mengajarkan bahwa panen tidak pernah hadir dari proses instan, melainkan dari perjuangan panjang yang konsisten dan penuh pengorbanan.
Dalam budaya Jawa, luku juga dimaknai sebagai simbol kesederhanaan, keberanian, dan kekuatan. Petani diajarkan untuk tidak takut menghadapi tantangan alam—panas matahari, lumpur sawah, dan keterbatasan alat—semuanya dihadapi dengan keteguhan hati dan sikap pasrah yang produktif.
Lebih dari itu, luku mengandung makna spiritual yang mendalam sebagai simbol hubungan harmonis antara manusia dan alam. Tanah bukan sekadar objek produksi, melainkan sumber kehidupan yang harus dihormati dan dijaga. Filosofi ini menanamkan kesadaran bahwa manusia bukan penguasa alam, melainkan bagian dari ekosistem itu sendiri.
Modernisasi pertanian hari ini memang membawa kemudahan dan efisiensi. Namun, kemajuan sejati tidak seharusnya menghapus ingatan kolektif akan nilai-nilai luhur yang membentuk jati diri petani dan desa. Luku boleh saja hilang secara fisik, tetapi semangat dan filosofinya tidak boleh punah.
Desa Babakan mengingatkan kita bahwa ketahanan pangan bukan semata soal produksi dan mekanisasi, melainkan tentang cara sebuah bangsa memaknai tanah, kerja, dan warisan nilai. Luku mungkin telah tergantikan oleh traktor, tetapi filosofi di baliknya—kerja keras, kesabaran, dan harmoni dengan alam—harus tetap menjadi fondasi pembangunan pertanian nasional. Modernisasi tanpa kearifan hanya akan melahirkan ketergantungan, sementara kemajuan yang berpijak pada nilai lokal justru memperkuat kedaulatan pangan dan martabat petani Indonesia.
🙏🙏🙏
