Karawang, MEDIASERUNI.ID – Kondisi fisik bangunan Sekolah Dasar Negeri atau SDN Citarik 1 di Kecamatan Tirtamulya, Kabupaten Karawang, terpantau tidak layak untuk kegiatan belajar mengajar. Ironisnya, sekolah ini setiap tahun menerima kucuran Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang nilainya mencapai ratusan juta rupiah.
Dari data yang diperoleh melalui situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) di bos.kemdikbud.go.id, tercatat dalam tiga tahun terakhir, SDN Citarik 1 telah menerima total Dana BOS sebesar lebih dari Rp 514 juta. Tahun 2022 Rp 192.920.000, 2023 Rp 160.160.000 dan tahun 2024 Rp 161.980.000.
Namun yang menjadi sorotan adalah alokasi dana untuk pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah, yang tercatat cukup signifikan setiap tahunnya. Tahun 2022 Rp 24.494.000, 2023 Rp 20.650.650 dan tahun 2024 Rp 31.687.800.
Jika dijumlahkan, total dana untuk pemeliharaan mencapai lebih dari Rp 76 juta hanya dalam tiga tahun. Namun, berdasarkan pengakuan orangtua siswa, kondisi sekolah justru menunjukkan tanda-tanda kerusakan fisik yang cukup parah, seperti atap bocor, dinding retak, dan sarana pendukung yang tidak layak pakai.
“Apalagi seperti sekarang akan menghadapi musim hujan, kami selaku orangtua hawatir,” ujar salah satu orang tua siswa yang enggan disebutkan namanya.
Saat dikonfirmasi bendahara SDN Citarik 1 Siti, mengaku untuk administrasi keuangan masuke kerekening sekolah. “Untuk besarnya tidak tahu itu semua kepala sekolah yang tahu,”ujarnya.
Dia menyarankan untuk mengetahui sepenuhnya anggaran tersebut hubungi saja kepala sekolah. ” Datang saja kerumahnya di Parakan, Pasirmalang,”ungkap bendahara.
Tidak transparannya anggaran tersebut, sejumlah pihak mulai mempertanyakan transparansi dan akuntabilitas penggunaan dana BOS di SDN Citarik 1. Apalagi, selain alokasi untuk pemeliharaan, dana BOS juga mencakup anggaran untuk pengembangan perpustakaan, pembelajaran, dan administrasi sekolah yang nominalnya juga cukup besar.
Misalnya, pada tahun 2024, dana untuk kegiatan evaluasi pembelajaran saja mencapai hampir Rp 33 juta, sementara untuk pengembangan perpustakaan sebesar Rp 8,9 juta.
Saat dikonfirmasi melalui jejaring Whatsap kepala sekolah maupun Korwilcambidik tidak ada tanggapan. (Davi)
