PEMALANG, MEDIASERUNI.ID – Pemerintah Kabupaten Pemalang menegaskan komitmennya menuju target zero sampah 2029 dalam momentum Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026. Bersama 35 kabupaten/kota se-Jawa Tengah, Pemalang mengikuti peringatan secara daring yang dipusatkan di Pantai Jodo, Kabupaten Batang, Selasa (24/2/2026).
Bupati Pemalang, Anom Widiyantoro, menekankan bahwa persoalan sampah bukan sekadar isu daerah, melainkan tantangan nasional yang harus diselesaikan secara sistematis dan berkelanjutan, dimulai dari lingkungan terkecil.
“HPSN ini menjadi pengingat bahwa sampah adalah persoalan bersama. Penyelesaiannya harus dimulai dari diri sendiri, keluarga, RT, RW, hingga masyarakat luas,” tegasnya.
Sebagai langkah konkret, Pemkab Pemalang memperkuat kolaborasi regional dengan Kota dan Kabupaten Pekalongan dalam pengelolaan sampah. Optimalisasi pemilahan sampah dari sumbernya pun terus dimaksimalkan untuk menekan volume sampah sejak awal.
Tak berhenti di situ, Pemalang juga menggencarkan gerakan pembangunan sumur resapan dan biopori sebagai solusi pengolahan sampah organik sekaligus upaya menjaga keseimbangan lingkungan. Seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) diwajibkan membangun minimal lima hingga sepuluh sumur resapan di masing-masing kantor.
Gerakan ini akan diperluas ke sekolah-sekolah dan rumah tangga agar semakin masif dan berdampak nyata.
“OPD sudah mulai. Selanjutnya sekolah dan masyarakat juga kita dorong membuat sumur resapan dan biopori di rumah. Jika dilakukan bersama, beban pengelolaan sampah akan jauh lebih ringan,” jelasnya.
Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, mengungkapkan bahwa produksi sampah di Jawa Tengah mencapai hampir 6,4 juta ton per tahun, namun baru sekitar 60 persen yang mampu diproses. Ia meminta seluruh kepala daerah tidak berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman (MoU), melainkan segera menindaklanjuti dengan aksi konkret dan penyajian data yang akurat.
Target pemerintah pusat pada 2029 adalah tercapainya zero sampah. Untuk itu, dibutuhkan sinergi kuat antara pemerintah daerah, instansi vertikal, dan partisipasi aktif masyarakat.
Pada kesempatan tersebut juga diluncurkan Gerakan Jawa Tengah ASRI yang melibatkan 35 kabupaten/kota. Gerakan ini diharapkan menjadi langkah nyata membangun budaya bersih dan peduli lingkungan, bukan sekadar seremoni.
Selain isu persampahan, Gubernur juga menyoroti pentingnya penghijauan di wilayah pesisir. Dengan panjang garis pantai Jawa Tengah mencapai 920 kilometer yang rawan rob, program penanaman mangrove dan tanaman pantai terus digencarkan sebagai upaya preventif menghadapi ancaman bencana.
Launching Gerakan Jawa Tengah ASRI ditandai dengan pemukulan kentongan oleh Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah bersama Forkopimda, Sekda Provinsi Jawa Tengah, serta Bupati Batang sebagai simbol dimulainya gerakan kolektif menuju Jawa Tengah yang bersih, hijau, dan berkelanjutan.
