Madura, MEDIASERUNI.ID – Perempuan Madura kini menunjukkan perubahan cara pandang dalam memaknai peran dan masa depan mereka.
Di tengah norma sosial dan budaya yang masih menempatkan perempuan pada peran tradisional, semakin banyak perempuan Madura yang berupaya membangun pola pikir berkembang untuk mewujudkan cita-cita dan meningkatkan kualitas hidup.
Dalam tradisi Madura, perempuan kerap dikaitkan dengan tanggung jawab keluarga dan kepatuhan terhadap nilai adat. Namun, seiring berkembangnya pendidikan dan arus informasi, muncul kesadaran baru bahwa perempuan juga memiliki hak dan kemampuan untuk berprestasi di ruang publik.
Mimpi untuk berpendidikan tinggi, berwirausaha, maupun berkarier tidak lagi sepenuhnya dipandang sebagai hal yang bertentangan dengan budaya, melainkan sebagai bentuk kontribusi nyata bagi keluarga dan lingkungan sosial.
Fadilah (41), Perempuan asal Arosbaya Bangkalan, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar yang ia hadapi adalah persoalan ekonomi, dan juga pandangan sosial.
“Untuk motivasi saya pertama itu datang dari orang tua saya sendiri yang selalu support anaknya untuk harus terus berpendidikan tinggi. dan memang keinginan saya sendiri juga untuk ingin terus belajar dan harus lanjut ke jenjang yang lebih tinggi” ujar Fadilah.
Kendati demikian, Fadilah juga tidak memungkiri, banyak juga yang memandang sebelah mata dengan apa yang jadi pendirian Fadilah untuk tetap lanjut ke jenjang lebih tinggi. “Kalimat-kalimat seperti mau kemana emangnya, kalau ujung-ujungnya menikah juga, masih terdapat di masyakakat kita,” tutir Fadilah.
Tapi Fadilah tidak menyerah saat mendengar kalimat seperti itu. “Pendidikan bukan hanya untuk diri kita sendiri, apalagi seorang perempuan itu pasti mempunyai anak, bagaimana mau mangajari anak-anaknya jika ibu nya seorang yang gaptek (gagap teknologi), dan memang sudah terbukti bahwa kecerdasan seorang anak itu dari kecerdasan ibunya,” kata Fadilah lagi.
Fadilah menambahkan bahwa dukungan orang tua menjadi faktor penting yang membuatnya berani melanjutkan pendidikan.
Perjalanan Fadilah tidak berhenti di bangku kuliah.
Sambil menyelesaikan studinya, ia melamar pekerjaan di sebuah rumah sakit swasta yang ada di malang, selain mempersiapkan diri untuk menghadapi seleksi aparatur sipil negara. Proses tersebut dijalaninya dengan komitmen dan kedisiplinan tinggi, meskipun harus menyeimbangkan tanggung jawab keluarga dengan kewajiban akademik.
Ketekunan tersebut akhirnya membuahkan hasil ketika ia dinyatakan lolos seleksi dan resmi mengemban amanah sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kementrian Pertahanan.
Bagi Fadilah, capaian ini tidak hanya dimaknai sebagai prestasi individu, melainkan juga sebagai bukti bahwa Perempuan Madura memiliki peluang yang sama untuk mewujudkan cita-cita tanpa harus mengabaikan nilai-nilai sosial budaya yang selama ini dijaga.
Kisahnya mencerminkan semangat perubahan pola pikir Perempuan Madura yang semakin maju dan diharapkan mampu memotivasi generasi muda untuk terus berjuang serta yakin pada potensi diri.
Perubahan pola pikir ini didorong oleh berbagai faktor, mulai dari peran keluarga, lembaga pendidikan, hingga media yang menghadirkan figur perempuan inspiratif.
Di sejumlah daerah di Madura, perempuan mulai aktif dalam kegiatan ekonomi kreatif, organisasi sosial, dan komunitas pendidikan sebagai ruang untuk mengembangkan kapasitas diri.
Pengamat budaya menilai bahwa fenomena ini mencerminkan proses adaptasi masyarakat Madura terhadap dinamika sosial modern.
Selama nilai-nilai dasar seperti kehormatan, kebersamaan, dan tanggung jawab tetap dijaga, upaya perempuan Madura dalam meraih mimpi tidak akan menghilangkan identitas kultural mereka.
Justru, perubahan mindset ini diharapkan mampu melahirkan generasi perempuan Madura yang mandiri, berdaya saing, dan berperan aktif dalam pembangunan sosial serta ekonomi di daerahnya. (Siti fadiah)
