MEDIASERUNI.ID – Walau hidup jauh sebelum era Walisongo, jejak perjuangan Ulama Besar Syekh Quro dianggap menjadi pondasi awal yang kelak dilanjutkan para wali dalam menyebarkan ajaran Islam. Salah satunya kisah lisan masyarakat setempat tentang dakwa Syekh Quro di Loji, Kecamatan Pangkalan, Karawang.

Kehadirannya bukan hanya tercatat dalam sejarah tertulis, tetapi juga masih hidup dalam ingatan masyarakat melalui tradisi lisan yang terus dijaga hingga kini.

Makam Syekh Quro berada di Pulobata, Desa Pulokalapa, Lemahabang, Karawang, dan hingga hari ini menjadi salah satu pusat ziarah ulama yang ramai dikunjungi.

Namun, cerita masyarakat menyebut bahwa beliau bersama para pengikutnya sempat “menyingkir” ke daerah pedalaman, untuk menghindari tekanan penguasa Pajajaran.

Saat itu, kerajaan Sunda memandang ajaran Islam sebagai sesuatu yang berpotensi mengganggu tatanan kepercayaan lama, sehingga dakwah Syekh Quro harus dilakukan secara hati-hati.

Salah satu wilayah yang diyakini menjadi tempat persinggahan beliau adalah kawasan Loji, Sanggabuana, Karawang bagian selatan.
Di tempat ini, menurut cerita warga, Syekh Quro memilih bersembunyi sambil tetap berdakwah kepada masyarakat sekitar.

Baca Juga:  Bukan Sungai Biasa, Ini Misteri Sungai Batanghari yang Disembunyikan Leluhur

Gunung Sanggabuana yang rindang dan jauh dari pusat kekuasaan dianggap cocok sebagai tempat “menyepi” sekaligus menanamkan ajaran Islam kepada kalangan terbatas.

Hingga sekarang, sejumlah petilasan di kawasan Sanggabuana masih dikaitkan dengan perjalanan dakwah Syekh Quro. Tempat-tempat ini dipercaya menjadi titik persinggahan atau lokasi beliau bermeditasi dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.

Walau bukti tertulis mengenai hal ini tidak sebanyak catatan tentang Pulobata, cerita lisan tetap dijaga dan diwariskan turun-temurun sebagai bagian dari identitas masyarakat setempat.

Tradisi lisan tersebut membuat kawasan Sanggabuana punya daya tarik spiritual tersendiri. Banyak peziarah, pendaki, maupun masyarakat biasa yang datang bukan hanya untuk menikmati keindahan alam, tetapi juga mencari ketenangan batin.

Ada yang sekadar berdoa, ada pula yang melakukan tirakat, semua dilandasi keyakinan bahwa jejak Syekh Quro meninggalkan keberkahan di tempat itu.

Baca Juga:  BRI KC Kramat Jati Serahkan Bantuan CSR Ambulans untuk Ditkumad

Cerita tentang Syekh Quro di Loji Sanggabuana memang lebih kuat hidup dalam ingatan masyarakat dibandingkan catatan sejarah resmi. Inilah yang membuat kisahnya seolah berada di antara sejarah dan legenda.

Di satu sisi, Pulobata lebih diakui sebagai pusat makam dan bukti sejarah tertulis, namun di sisi lain, Sanggabuana tetap lekat dengan aura mistis dan spiritual yang menghidupkan ingatan kolektif tentang perjuangan Syekh Quro.

Pada akhirnya, Syekh Quro bukan sekadar ulama yang dikenal lewat makamnya, tetapi juga sosok yang hidup dalam kisah masyarakat. Dakwahnya menjadi jembatan awal bagi perkembangan Islam di tanah Sunda, dan hingga kini warisannya masih terasa melalui ziarah, petilasan, serta cerita lisan yang terus bertahan.

Dari Pulobata hingga Sanggabuana, jejak Syekh Quro tetap mengajarkan tentang kesabaran, perjuangan, dan keteguhan hati dalam menegakkan keyakinan. (*)