Bandung Barat, MEDIASERUNI.ID – Pangauban Santri Gugus Lingkungan (Pager Saguling) mendorong paradigma baru dalam pengembangan pusat data dan kecerdasan buatan (AI) di Indonesia, yakni menempatkan efisiensi air sebagai indikator utama keberlanjutan teknologi.

Gagasan tersebut mengemuka dalam wawancara Senin, 5 Oktober 2026. Bagi Pager Saguling , persoalan konsumsi air oleh pusat data bukan sekadar isu teknis, melainkan tantangan ekologis yang berkaitan dengan daya dukung lingkungan dan masa depan kehidupan.

“Prinsip kami adalah Merawat dan Menjaga Bumi sebagai Khalifah fil Ardi. Air adalah amanah ekologis yang harus dijaga. Karena itu, perkembangan AI harus berjalan bersama gerakan konservasi air,” ucap pendiri Pager Saguling Haris Bunyamin.

Pager Saguling mengusulkan inisiatif Water-Smart Data Center Initiative, pendekatan yang menempatkan efisiensi air setara dengan efisiensi listrik dalam pembangunan pusat data. “Prinsip dasarnya semakin besar kemampuan komputasi, semakin kecil intensitas penggunaan airnya,” tegas Haris.

Haris menyebut lima prinsip utama yang dirumuskan. Zero Potable Water for Cooling, Closed-Loop Cooling, Direct-to-Chip Cooling, Rainwater Harvesting, dan Water Recycling.

Zero Potable Water for Cooling adalah air layak minum diprioritaskan untuk manusia. Pendinginan pusat data wajib mengutamakan air non-potabel, air reklamasi, air limbah olahan, atau sistem tanpa penguapan air tawar.

Sedang Closed-Loop Cooling, sistem pendinginan dirancang sirkular agar kehilangan air dapat ditekan seminimal mungkin. Kemudian Direct-to-Chip Cooling yakni pendinginan langsung pada cip untuk pusat data dengan kepadatan komputasi tinggi agar lebih efisien.

Baca Juga:  Antisipasi Banjir dan Longsor, Forkopimda Pemalang Tanam 1.500 Pohon di Lereng Pulosari

Selanjutnya, Rainwater Harvesting yaitu pemanenan air hujan di kawasan pusat data untuk ditampung, diolah, dan dimanfaatkan kembali. Terakhir, Water Recycling yakni air yang telah digunakan harus diolah kembali menjadi bagian dari siklus, bukan langsung menjadi limbah.

Dari Pusat Data Menjadi Pusat Konservasi

Pager Saguling menegaskan, tanggung jawab perusahaan teknologi tidak boleh berhenti pada pembayaran tagihan air dan pemenuhan izin.

“Pusat data masa depan harus ikut memulihkan lingkungan di wilayah operasinya. Jika menggunakan sumber daya air suatu daerah, perusahaan harus ikut menjaga daerah tangkapan air, mata air, sempadan sungai, situ, dan kawasan resapan,” ujar Haris.

Untuk itu, didorong konsep Water Positive, di mana perusahaan mengembalikan atau menyediakan manfaat air bagi lingkungan dan masyarakat dalam jumlah terukur, setelah memperhitungkan konsumsinya.

Citarum sebagai Living Laboratory

Kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum dinilai strategis untuk menjadi laboratorium ketahanan air. Pager Saguling mendorong pengembangan Citarum Water Intelligence Platform, platform yang mengintegrasikan data kualitas air, debit sungai, sedimentasi, tutupan lahan, kawasan kritis, sumber pencemaran, curah hujan, potensi banjir dan kekeringan, penggunaan air, hingga hasil rehabilitasi lingkungan.

“AI kemudian digunakan bukan sekadar untuk menghasilkan teks atau gambar, tetapi untuk membaca kondisi ekosistem dan membantu manusia mengambil keputusan ekologis,” jelas Haris. “Paradigma yang diusung adalah AI for Water, AI for Citarum, AI for Life.”

Pesantren sebagai Green Digital Laboratory

Jaringan santri dan pesantren menjadi kekuatan PAGER SAGULING. Pesantren didorong menjadi Green Pesantren Digital Laboratory yang mengajarkan konservasi air, pemanenan air hujan, pengolahan limbah dan greywater, energi terbarukan, pertanian hemat air, hingga pemantauan sungai berbasis sensor dan literasi AI-lingkungan.

Baca Juga:  Ajisu Soroti Dugaan Pelanggaran Penetapan Lokasi Dapur MBG di Sukabumi

Dalam kerangka tersebut akan dikembangkan Water Lab sebagai ruang kolaborasi pentahelix antara pesantren, perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan media.

Menuju Saguling Water Security 2045

Visi besar yang diusung adalah Saguling Water Security 2045, menjadikan kawasan Saguling sebagai laboratorium ketahanan air, ekonomi hijau, dan teknologi ekologis dengan tujuh pilar: Water Conservation, Water Circular Economy, Green Data & AI, Green Pesantren, Living Laboratory, Green Economy, dan Water Governance.

Pager Saguling juga mendorong adanya kontrak ekologis baru bagi setiap investasi teknologi berskala besar, dengan komitmen terukur terhadap air, tanah, udara, biodiversitas, dan masyarakat.

“AI boleh semakin cerdas. Pusat data boleh semakin maju. Tetapi air harus tetap menjadi sumber kehidupan,” pungkas Haris. (dadan)