Peran Edukasi dalam Menghadapi Pekerjaan yang Berpotensi Digantikan AI

MEDIASERUNI.ID – Pekerjaan yang berpotensi digantikan AI di Indonesia semakin menjadi perhatian serius, tidak hanya bagi dunia usaha, tetapi juga bagi sistem pendidikan nasional. Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang begitu cepat membuat keterampilan kerja mengalami pergeseran mendasar. Dalam situasi ini, pendidikan memegang peran krusial untuk memastikan generasi muda tidak tertinggal oleh otomatisasi.

Diskusi di media sosial hingga ruang akademik menunjukkan kekhawatiran yang sama: pekerjaan yang bersifat repetitif, administratif, dan berbasis tugas sederhana semakin mudah diambil alih oleh mesin. Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah AI akan menggantikan pekerjaan, melainkan sejauh mana pendidikan mampu menyiapkan sumber daya manusia agar tetap relevan.

AI dan Perubahan Kebutuhan Keterampilan

Dari Tugas Rutin ke Pemikiran Kritis

Ekonom Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menjelaskan bahwa karakteristik pekerjaan yang mudah digantikan AI adalah pekerjaan berulang, proses panjang yang bisa disederhanakan, serta sebagian pekerjaan kreatif yang kini dapat dihasilkan oleh sistem otomatis.

Dari sudut pandang pendidikan, kondisi ini menandakan pergeseran kebutuhan keterampilan. Dunia kerja tidak lagi hanya membutuhkan tenaga yang patuh pada prosedur, melainkan individu yang mampu berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan berbasis konteks.

“AI seharusnya dilihat sebagai alat bantu, bukan ancaman. Tapi itu hanya bisa terjadi kalau sistem pendidikan kita mampu menyesuaikan diri,” ujar Bhima.

Literasi Digital Menjadi Dasar

Kemampuan menggunakan teknologi saja tidak lagi cukup. Literasi digital kini mencakup pemahaman tentang cara kerja AI, etika penggunaan data, serta kemampuan mengevaluasi hasil yang dihasilkan mesin.

Baca Juga:  Nasib Mengenaskan Tukang Cilok, Gerobaknya Ditabrak Motor Wajah Tersiram Air Panas

Tanpa literasi ini, lulusan pendidikan berisiko hanya menjadi pengguna pasif teknologi, bukan pencipta atau pengelola nilai tambah dari AI.

Tantangan Sistem Pendidikan di Indonesia

Kurikulum yang Terlalu Lambat Beradaptasi

Salah satu tantangan utama adalah kurikulum yang belum sepenuhnya responsif terhadap perubahan teknologi. Banyak institusi pendidikan masih menekankan hafalan dan tugas administratif, padahal jenis pekerjaan ini justru paling rentan tergantikan oleh AI.

Di sisi lain, pembelajaran berbasis proyek, analisis kasus, dan pemecahan masalah nyata masih belum merata diterapkan. Padahal, pendekatan ini lebih relevan untuk membekali siswa dan mahasiswa menghadapi dunia kerja berbasis AI.

Kesenjangan Akses dan Kualitas

Tidak semua peserta didik memiliki akses yang sama terhadap teknologi dan pembelajaran digital. Kesenjangan ini berpotensi memperlebar jurang sosial ketika AI semakin dominan dalam dunia kerja.

Jika tidak diantisipasi, lulusan dari daerah atau institusi dengan keterbatasan fasilitas akan semakin sulit bersaing dengan mereka yang sejak awal terbiasa menggunakan teknologi mutakhir.

Peran Pendidikan Tinggi dan Vokasi

Menyiapkan Talenta, Bukan Sekadar Pencari Kerja

Bhima menekankan pentingnya pembenahan pendidikan tinggi dan vokasi agar lebih adaptif terhadap AI. Perguruan tinggi tidak cukup hanya mencetak pencari kerja, tetapi juga pencipta solusi dan inovator.

Program studi perlu mendorong mahasiswa untuk memahami bagaimana AI bekerja di balik layar, mulai dari pemrograman, analisis data, hingga pengembangan model bisnis berbasis teknologi.

Vokasi sebagai Jembatan Praktis

Pendidikan vokasi memiliki peran strategis dalam menjembatani kebutuhan industri dan dunia pendidikan. Dengan kurikulum yang tepat, vokasi dapat menghasilkan tenaga kerja yang mampu berkolaborasi dengan AI, bukan bersaing dengannya.

Pelatihan reskilling dan upskilling juga perlu diperluas, terutama bagi pekerja yang sudah berada di dunia kerja dan berisiko terdampak otomatisasi.

Baca Juga:  Asosiasi Pemimpin Redaksi Indonesia Resmi Hadir di Karawang

Pendidikan sebagai Mitigasi Dampak Sosial AI

Mengurangi Risiko Pengangguran Struktural

Tanpa intervensi pendidikan, disrupsi AI berpotensi menciptakan pengangguran struktural, di mana keterampilan tenaga kerja tidak lagi sesuai dengan kebutuhan pasar.

Pendidikan yang adaptif dapat menjadi alat mitigasi utama, dengan mengalihkan fokus dari pekerjaan yang hilang ke peluang baru yang muncul seiring perkembangan teknologi.

Membentuk Sikap Kritis terhadap Teknologi

Selain keterampilan teknis, pendidikan juga berperan membentuk sikap kritis terhadap AI. Peserta didik perlu memahami batasan teknologi, risiko bias algoritma, serta implikasi etis dari penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, AI tidak diperlakukan sebagai otoritas mutlak, melainkan sebagai alat yang tetap membutuhkan pengawasan manusia.

AI dan Masa Depan Pendidikan Indonesia

Bhima menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh hanya menjadi konsumen teknologi AI. Pendidikan harus diarahkan agar generasi muda mampu berperan dalam rantai industri teknologi tinggi, termasuk sebagai pengembang, peneliti, dan wirausaha berbasis AI.

Hal ini membutuhkan dukungan kebijakan yang konsisten, mulai dari pendanaan riset, kolaborasi industri–kampus, hingga insentif bagi inovasi pendidikan.

Menyiapkan Generasi yang Adaptif

Pekerjaan yang berpotensi digantikan AI di Indonesia adalah realitas yang tidak bisa dihindari. Namun, melalui pendidikan yang adaptif dan inklusif, dampak negatifnya dapat ditekan.

Pada akhirnya, masa depan dunia kerja tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang digunakan, tetapi oleh seberapa siap manusia untuk belajar, beradaptasi, dan menciptakan nilai di tengah perubahan. Pendidikan menjadi kunci agar AI menjadi mitra, bukan pengganti manusia.