MEDIASERUNI.ID – Prediksi mengenai kemungkinan Elon Musk akan “all-in” ke Bitcoin pada 2026 tidak hanya memancing perhatian komunitas kripto, tetapi juga memicu diskusi serius di kalangan pengamat ekonomi global. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Samson Mow, pendiri Jan3, yang dikenal luas sebagai pendukung adopsi Bitcoin di tingkat institusi dan negara.

Dalam konteks ekonomi makro, prediksi ini tidak berdiri sendiri. Ia muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, kebijakan moneter yang ketat, serta melemahnya kepercayaan terhadap mata uang fiat di sejumlah negara. Bitcoin, dalam narasi ini, semakin sering diposisikan sebagai alternatif aset lindung nilai jangka panjang.

Elon Musk dan Pengaruhnya Terhadap Sentimen Ekonomi Pasar

Elon Musk bukan sekadar pengusaha teknologi. Ia merupakan figur ekonomi global dengan pengaruh signifikan terhadap pasar keuangan. Setiap keputusan strategis yang melibatkan perusahaannya, seperti Tesla atau SpaceX, kerap menjadi referensi bagi investor institusional.

Dari Skeptis Lingkungan hingga Potensi Reposisi Strategis

Pada 2021, Tesla sempat menerima Bitcoin sebagai alat pembayaran sebelum menghentikannya dengan alasan lingkungan. Langkah tersebut kala itu menekan sentimen pasar. Namun, dari sudut pandang ekonomi, keputusan tersebut lebih mencerminkan strategi reputasi dan regulasi dibandingkan penolakan terhadap Bitcoin sebagai aset.

Baca Juga:  PBSI Karawang Resmi Buka Kejurkab Bupati dan Wakil Bupati, Dimeriahkan 296 Atlet Bulutangkis

Samson Mow menilai bahwa perubahan kebijakan moneter global dan efisiensi energi penambangan Bitcoin dapat membuka jalan bagi reposisi sikap Elon Musk. Jika hal ini terjadi, dampaknya tidak hanya terasa di pasar kripto, tetapi juga pada aliran modal global.

Bitcoin US$1,33 Juta dan Implikasinya bagi Sistem Keuangan

Target harga Bitcoin sebesar US$1,33 juta pada 2026 yang diproyeksikan Mow terdengar ekstrem, namun dalam analisis makro, angka tersebut berkaitan dengan ekspansi likuiditas global dan penurunan daya beli mata uang fiat.

Bitcoin sebagai Lindung Nilai terhadap Inflasi

Dalam beberapa tahun terakhir, inflasi global dan kebijakan suku bunga tinggi telah menekan daya beli masyarakat. Bitcoin kerap dipandang sebagai aset lindung nilai alternatif, terutama di negara dengan stabilitas mata uang yang rapuh.

Jika Bitcoin benar-benar menembus level harga tersebut, implikasinya dapat mencakup:

  • Pergeseran sebagian cadangan devisa ke aset digital

  • Meningkatnya legitimasi Bitcoin dalam sistem keuangan global

  • Tekanan terhadap kebijakan moneter bank sentral

Baca Juga:  Pelantikan Perangkat Desa Gintung: Wujudkan Regenerasi dan Pelayanan Publik Lebih Optimal

Adopsi Negara dan Dampak terhadap Arsitektur Keuangan Dunia

Samson Mow menekankan bahwa katalis utama lonjakan harga Bitcoin berikutnya adalah adopsi oleh negara. Dari sudut pandang ekonomi, langkah ini berpotensi mengubah arsitektur keuangan global yang selama ini didominasi mata uang cadangan tradisional.

Negara-negara berkembang, khususnya yang menghadapi volatilitas mata uang tinggi, dinilai memiliki insentif lebih besar untuk meningkatkan eksposur terhadap Bitcoin sebagai aset strategis.

Pandangan Konservatif dari Pelaku Pasar

Meski demikian, tidak semua ekonom dan investor sepakat dengan skenario lonjakan ekstrem. Matt Hougan dari Bitwise menilai Bitcoin akan tumbuh secara stabil, seiring meningkatnya kedewasaan pasar dan regulasi yang lebih jelas.

Pandangan ini mencerminkan pendekatan ekonomi yang lebih berhati-hati, di mana pertumbuhan jangka panjang dinilai lebih berkelanjutan dibandingkan lonjakan spekulatif.

Kesimpulan

Dari sudut pandang ekonomi makro, prediksi Elon Musk all-in Bitcoin pada 2026 mencerminkan potensi pergeseran besar dalam preferensi aset global. Meski masih bersifat spekulatif, narasi ini menegaskan posisi Bitcoin sebagai instrumen yang semakin relevan dalam diskusi ekonomi global.