Inovasi Baru dari CES 2026
Gelaran Consumer Electronics Show (CES) 2026 di Las Vegas selalu menjadi tempat lahirnya teknologi masa depan. Dari mobil pintar, TV transparan, hingga robot AI, semua bersaing memamerkan kecanggihan. Namun, di antara deretan produk itu, Memories.ai justru tampil beda.
Alih-alih memperkenalkan produk untuk dijual langsung ke konsumen, mereka datang dengan sebuah konsep platform bernama Project LUCI — AI wearable yang mampu mengingat percakapan dan memahami konteks layaknya manusia.
Pendekatannya membuat banyak orang menyebut LUCI sebagai “Android-nya dunia AI wearable”, karena bukan produk final, melainkan fondasi teknologi yang bisa digunakan oleh banyak perusahaan lain.
LUCI: AI yang Punya Daya Ingat dan Pemahaman Kontekstual
Nama LUCI bukan sekadar akronim catchy. Ia merupakan singkatan dari Long Understanding Contextual Intelligence — kecerdasan buatan yang dirancang untuk memahami dan mengingat konteks jangka panjang.
Selama ini, AI wearable seperti Humane AI Pin atau Rabbit R1 bekerja secara instan dan reaktif: diberi perintah, lalu menjalankan tugas tanpa benar-benar “mengingat” apa yang terjadi sebelumnya. LUCI datang dengan paradigma baru: AI yang bisa membangun ingatan dan belajar dari interaksi masa lalu.
Konsep ini dikembangkan sebagai reference platform, artinya perusahaan lain bisa membangun AI wearable mereka di atas sistem yang sama. Jadi, Memories.ai bukan menjual perangkat, tapi membangun otaknya.
LVMM 2.0, Otak Visual yang Membuat LUCI Unik
Teknologi utama yang menjadi daya tarik Project LUCI adalah LVMM 2.0 (Large Visual Memory Model) — sistem AI yang mampu menyimpan, memahami, dan memanggil kembali pengalaman visual seperti manusia mengingat kenangan.
Bagaimana cara kerjanya? Kamera wearable akan menangkap momen visual berupa video, lalu diproses langsung di dalam perangkat (on-device). Setiap potongan video disimpan sebagai memori visual yang bisa diakses kembali oleh pengguna.
Contohnya, pengguna bisa bertanya:
“Apa yang saya katakan saat rapat kemarin sore?”
LUCI dapat menampilkan ringkasan percakapan atau klip visual dari kejadian itu. Tidak hanya mengingat, tetapi juga memahami konteks situasinya.
Kemampuan ini menjadi pembeda besar antara LUCI dan AI wearable lain yang masih bergantung pada cloud dan tidak punya pemahaman kontekstual.
Shawn Shen: “AI Harus Punya Memori agar Benar-benar Berguna”
Dalam presentasinya di CES 2026, Shawn Shen, Co-Founder sekaligus CEO Memories.ai, mengungkapkan bahwa banyak AI wearable gagal karena tidak memiliki “ingatan jangka panjang.”
Menurutnya, ide-ide besar seperti Humane AI Pin dan Rabbit R1 gagal bukan karena konsepnya buruk, tapi karena AI mereka tidak punya konteks berkelanjutan.
“Tanpa memori, AI hanya tahu apa yang kita katakan sekarang, bukan siapa kita kemarin,” ujar Shen.
Dengan LUCI dan LVMM 2.0, Memories.ai ingin menciptakan AI yang benar-benar mengenal penggunanya, bukan sekadar menanggapi instruksi.
Belajar dari Kegagalan AI Wearable Generasi Pertama
Jika melihat ke belakang, sejumlah AI wearable sempat menjadi sensasi, tapi berakhir mengecewakan. Humane AI Pin misalnya, sempat disebut sebagai masa depan ponsel karena bisa menampilkan layar di telapak tangan dan menjalankan perintah suara. Namun, performanya lambat, baterai boros, dan koneksi ke cloud sering bermasalah.
Begitu pula dengan Rabbit R1, yang sempat viral di media sosial tapi cepat kehilangan daya tarik karena keterbatasan fungsinya.
Masalah-masalah inilah yang coba dijawab oleh Memories.ai. Dengan sistem memori visual dan pemrosesan lokal, Project LUCI diharapkan bisa lebih cepat, lebih cerdas, dan lebih relevan dengan kehidupan sehari-hari pengguna.
Kolaborasi Terbuka dan Standar Keamanan Ketat
Memories.ai menegaskan bahwa Project LUCI tidak akan eksklusif. Perusahaan ini membuka peluang kolaborasi dengan produsen wearable ternama seperti RayNeo dan Sharge agar teknologi LUCI bisa segera diimplementasikan di pasar.
Keamanan juga menjadi fokus utama. Semua data yang terekam — mulai dari percakapan hingga video — akan dienkripsi secara end-to-end. LUCI juga akan menggunakan chipset Qualcomm yang dilengkapi modul keamanan berbasis hardware, memastikan privasi pengguna tetap terlindungi.
Karena AI wearable seperti ini bisa merekam data sensitif, transparansi dan kontrol penuh bagi pengguna menjadi prioritas. Pengguna bisa memilih kapan perangkat boleh aktif, menyimpan data, atau menghapus ingatan tertentu.
Menuju Era AI Wearable yang Lebih Cerdas dan Manusiawi
Dengan semua kemampuan itu, Project LUCI tidak hanya menawarkan kecerdasan buatan, tapi juga kecerdasan yang punya rasa “ingatan manusia.”
Bayangkan jika AI Anda tidak hanya mendengar, tapi juga mengingat pola bicara, memahami rutinitas, dan membantu membuat keputusan berdasarkan pengalaman masa lalu.
Itulah visi besar yang dibawa Memories.ai — menghadirkan AI yang lebih kontekstual, pribadi, dan empatik.
Seperti dikatakan Shen:
“AI yang pintar bukan hanya yang cepat menjawab, tapi yang tahu mengapa kita bertanya.”
Dengan langkah ini, Memories.ai bisa saja menjadi pemain kunci dalam membentuk masa depan AI wearable.
Dan siapa tahu, beberapa tahun ke depan, perangkat seperti LUCI akan menjadi asisten digital yang benar-benar mengenal diri kita.
