MEDIASERUNI.ID – Di masjid dekat rumah penulis, setiap selesai shalat Tarawih dan Subuh, terdengar lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan oleh anak-anak hingga orang dewasa. Suara yang merdu dan menenangkan itu bukan sekadar tradisi Ramadan, melainkan cerminan kecintaan umat Islam terhadap kitab sucinya.
Ramadan dikenal sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 185, sehingga bulan suci ini memiliki keterkaitan erat dengan semangat membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an.
Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah surah Al-‘Alaq ayat 1–5 yang diawali dengan perintah Iqra’ (bacalah). Perintah ini menegaskan bahwa Islam meletakkan fondasi peradabannya pada budaya literasi.
Membaca bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan juga spiritual. Dengan membaca, manusia memperoleh ilmu; dengan ilmu, kualitas diri meningkat; dan dengan kualitas sumber daya manusia yang unggul, sebuah bangsa dapat mencapai kemajuan.
Al-Qur’an memiliki peran yang sangat fundamental dalam kehidupan umat Islam. Ia menjadi petunjuk hidup (hudā) yang membimbing manusia membedakan antara yang benar dan yang salah.
Kandungannya mencakup ajaran akidah, ibadah, akhlak, muamalah, serta prinsip-prinsip keadilan dan kemanusiaan yang relevan sepanjang zaman.
Al-Qur’an juga berfungsi sebagai pelajaran dan penyejuk hati, sebagaimana disebutkan dalam QS. Yunus ayat 57, bahwa ia adalah nasihat, penyembuh bagi penyakit dalam dada, serta petunjuk dan rahmat bagi orang-orang beriman.
Dalam hadis riwayat Muslim, Sayyidah Aisyah menyatakan bahwa akhlak Rasulullah SAW adalah Al-Qur’an, yang menunjukkan bahwa nilai-nilai Al-Qur’an harus terwujud dalam perilaku nyata.
Keutamaan mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an ditegaskan dalam hadis sahih. Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR. Bukhari).
Dalam hadis lain disebutkan bahwa setiap huruf yang dibaca dari Al-Qur’an bernilai satu kebaikan yang dilipatgandakan menjadi sepuluh (HR. Tirmidzi, hasan sahih).
Bahkan Al-Qur’an akan datang memberi syafaat kepada para pembacanya pada hari kiamat (HR. Muslim). Dalil-dalil ini menunjukkan bahwa aktivitas membaca, mempelajari, dan mengajarkan Al-Qur’an memiliki dimensi ibadah sekaligus sosial yang sangat besar.
Sejarah juga mencatat bahwa semangat literasi yang berakar dari ajaran Al-Qur’an pernah melahirkan peradaban gemilang. Masa keemasan Islam umumnya ditempatkan pada abad ke-8 hingga pertengahan abad ke-13 (sekitar 750–1258 M), terutama pada masa Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad.
Cikal bakal pusat ilmu pengetahuan yang dikenal sebagai Bait al-Hikmah telah dirintis pada masa Khalifah Harun al-Rashid (786–809 M). Lembaga ini kemudian berkembang pesat dan mencapai puncaknya pada masa Khalifah Al-Ma’mun (813–833 M),
Ketika gerakan penerjemahan karya-karya Yunani, Persia, dan India dilakukan secara besar-besaran serta melahirkan tradisi riset dalam berbagai bidang seperti filsafat, kedokteran, matematika, dan astronomi.
Periode ini menjadi tonggak penting dalam sejarah peradaban ilmu pengetahuan dunia.
Momentum Ramadan seharusnya menjadi titik kebangkitan kembali budaya literasi tersebut. Al-Qur’an tidak boleh hanya menjadi pajangan yang tersimpan rapi di lemari, tetapi harus menjadi pedoman hidup yang membentuk pola pikir, karakter, dan tindakan.
Tradisi tadarus, kajian tafsir, serta pembelajaran tahfiz yang marak di bulan suci hendaknya tidak berhenti sebagai ritual musiman, melainkan berlanjut menjadi gerakan intelektual dan spiritual sepanjang hayat.
Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai pusat kehidupan; dibaca, dipahami, diajarkan, dan diamalkan, Ramadan bukan hanya menghadirkan peningkatan ibadah personal, tetapi juga menumbuhkan fondasi peradaban yang berilmu dan berakhlak.
Dari masjid, rumah, dan ruang-ruang belajar Al-Qur’an, semangat membaca kembali dinyalakan, menuju masyarakat yang religius, cerdas, dan berkemajuan. (*)
