MEDIASERUNI.ID – Sebagai orang tua sekaligus warga di lingkungan tempat tinggal saya, saya semakin menyadari betapa pentingnya mengarahkan anak-anak untuk memanfaatkan waktu dengan baik.
Apalagi di era sekarang, ketika gawai begitu mudah diakses dan game online begitu menarik perhatian. Tidak jarang saya melihat anak-anak di sekitar rumah duduk berjam-jam menatap layar, larut dalam permainan, sampai lupa waktu dan kewajiban.
Karena itu, ketika masjid dekat rumah kami kembali mengadakan kegiatan sanlat setiap bulan Ramadan, saya merasa ini adalah kesempatan yang sangat berharga. Kegiatan tersebut dilaksanakan di ruang utama masjid dengan karpet yang digelar dan pengeras suara, menambah kehangatan.
Anak-anak datang dengan pakaian muslim terbaik mereka, membawa perlengkapan sanlat dan duduk berbaris rapi mendengarkan ustaz dan para pembimbing.
Dari yang saya amati langsung, perubahan sikap anak-anak terlihat cukup nyata. Waktu mereka yang biasanya banyak tersita untuk bermain game beralih menjadi waktu untuk belajar mengaji, menghafal doa-doa pendek, dan mendengarkan kisah-kisah teladan.
Memang tidak bisa dipungkiri, sebagian anak masih memegang gawai setelah pulang kegiatan. Namun setidaknya, beberapa jam dalam sehari telah terisi dengan aktivitas yang lebih bermanfaat dan terarah.
Menurut saya, manfaat terbesar dari sanlat bukan hanya pada tambahan ilmu agama, tetapi pada pembentukan kebiasaan baik. Anak-anak belajar datang tepat waktu karena kegiatan dimulai sesuai jadwal.
Mereka belajar duduk tenang, mendengarkan, dan menghormati pembicara. Hal-hal sederhana seperti ini sering kali sulit dibiasakan jika anak terlalu sering tenggelam dalam dunia digital yang serba bebas.
Selain itu, saya melihat sendiri bagaimana sanlat menjadi ruang sosialisasi yang sehat bagi anak-anak di lingkungan kami. Ada anak yang sebelumnya pendiam dan jarang bergaul, perlahan mulai berani berbicara dan bercanda dengan teman-temannya.
Mereka bermain bersama saat istirahat, berdiskusi ketika mengerjakan tugas kelompok, bahkan saling menyemangati saat mengikuti lomba-lomba kecil yang diadakan panitia. Interaksi tatap muka seperti ini menurut saya sangat penting untuk melatih rasa percaya diri dan empati.
Masjid yang biasanya lebih tenang di luar waktu salat pun terasa lebih hidup. Lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar hampir setiap hari.
Orang tua yang mengantar dan menjemput anak-anak juga jadi lebih sering berinteraksi satu sama lain. Ada rasa kebersamaan yang tumbuh, bukan hanya di antara anak-anak, tetapi juga di antara warga.
Bagi saya pribadi, sanlat adalah ikhtiar sederhana namun bermakna untuk menjaga anak-anak tetap berada di jalur yang positif. Kita mungkin tidak bisa sepenuhnya menjauhkan mereka dari teknologi, dan memang tidak harus demikian.
Namun kita bisa menyeimbangkannya dengan kegiatan yang membangun karakter, memperkuat nilai agama, serta melatih kemampuan bersosialisasi mereka.
Saya percaya, kebiasaan kecil yang ditanamkan hari ini akan menjadi bekal besar di masa depan. Dan melihat anak-anak memenuhi masjid dengan semangat belajar selama sanlat berlangsung, saya merasa optimis bahwa langkah kecil ini membawa dampak yang tidak kecil bagi generasi mereka. (*)
