Mengapa Linux Lahir di Tengah Dominasi Sistem Operasi Tertutup

Pada masa awal perkembangan komputer modern, sistem operasi bukanlah perangkat lunak yang bisa dipilih dan diganti dengan mudah. Setiap komputer biasanya dijual bersama sistem operasi bawaan yang dirancang khusus untuk perangkat tersebut. Jika pengguna ingin sistem operasi baru, maka satu-satunya jalan adalah membeli komputer baru.

Saat itu, sistem operasi populer seperti UNIX, MS-DOS, dan kemudian Windows bersifat tertutup serta berbayar. Kode sumbernya tidak dapat diakses secara bebas, dan lisensinya membatasi ruang gerak pengembang. Kondisi ini menjadi hambatan besar, terutama bagi akademisi dan programmer yang ingin belajar, bereksperimen, atau mengembangkan perangkat lunak lintas platform.

Dari keterbatasan inilah muncul gagasan besar tentang sistem operasi yang bebas digunakan, dipelajari, dan dikembangkan bersama—sebuah ide yang kelak melahirkan Linux.

Proyek GNU: Pondasi Filosofis Linux

Richard Stallman dan Konsep Kebebasan Perangkat Lunak

Sebelum Linux lahir, tonggak terpenting lebih dulu diletakkan oleh Richard Stallman melalui Proyek GNU pada tahun 1983. Tujuan utamanya adalah menciptakan sistem operasi bebas yang kompatibel dengan UNIX, namun sepenuhnya terbuka dan tidak dikontrol oleh satu perusahaan.

GNU menekankan bahwa kata free bukan berarti gratis, melainkan bebas—bebas menjalankan, menyalin, memodifikasi, dan mendistribusikan ulang perangkat lunak. Prinsip ini kemudian dilegalkan melalui GNU General Public License (GPL).

GNU Hampir Lengkap, Kecuali Satu Hal Penting

Menjelang awal 1990-an, Proyek GNU telah menghasilkan banyak komponen penting sistem operasi, mulai dari compiler, shell, hingga library. Namun, satu komponen krusial masih belum tersedia: kernel, yaitu inti sistem operasi yang menghubungkan perangkat keras dan perangkat lunak.

Kekosongan inilah yang tanpa disadari akan diisi oleh seorang mahasiswa dari Finlandia.

Baca Juga:  Fakta Tersembunyi Steam Machine: Kontroversi HDMI 2.1 yang Mengejutkan Pengguna

UNIX dan BSD: Inspirasi Tanpa Menjadi Fondasi

Sistem operasi UNIX, yang diperkenalkan pada era 1970-an oleh AT&T Bell Laboratories, menjadi acuan utama desain sistem operasi modern. Struktur UNIX yang modular, stabil, dan portabel menginspirasi banyak pengembang di seluruh dunia.

Salah satu turunan UNIX yang cukup terkenal adalah BSD (Berkeley Software Distribution), yang dikembangkan oleh University of California, Berkeley. Namun, konflik lisensi dan gugatan hukum membuat pengembangan sistem operasi berbasis UNIX menjadi rumit dan terbatas.

Situasi ini mendorong munculnya pendekatan baru: membangun sistem operasi tanpa menggunakan kode UNIX sama sekali, tetapi tetap mengadopsi filosofi dan desainnya.

Linus Torvalds dan Kelahiran Kernel Linux

Proyek Pribadi yang Menjadi Revolusi Teknologi

Pada tahun 1991, Linus Torvalds, mahasiswa Ilmu Komputer di University of Helsinki, mulai mengembangkan kernel sistem operasi untuk komputer pribadinya yang menggunakan prosesor Intel 80386. Awalnya, proyek ini hanya bertujuan memenuhi kebutuhan pribadinya untuk sistem operasi yang lebih fleksibel dibandingkan MINIX.

Kernel tersebut dikembangkan secara mandiri, dikompilasi menggunakan GNU C Compiler, dan tidak menggunakan satu baris pun kode UNIX. Artinya, Linux adalah sistem operasi UNIX-like, bukan UNIX.

Pengumuman di Usenet yang Mengubah Sejarah

Pada 25 Agustus 1991, Linus mengumumkan proyek kernel-nya melalui forum Usenet comp.os.minix. Dalam pesannya, ia menyebut Linux sebagai proyek hobi kecil. Namun, ia juga membuka pintu bagi siapa pun untuk memberikan masukan dan ikut mengembangkan.

Inilah momen penting yang menandai lahirnya Linux sebagai proyek open source komunitas global.

Dari Freax Menjadi Linux

Awalnya, Linus ingin menamai kernel tersebut Freax, gabungan dari kata free, freak, dan X (mengacu pada UNIX). Namun, saat kernel diunggah ke server FTP universitas, administrator bernama Ari Lemmke mengganti nama direktori menjadi Linux karena dianggap lebih layak.

Baca Juga:  Prabowo Bertemu Danantara, Bahas Proyek Hilirisasi dan Energi Hijau Nasional

Nama tersebut akhirnya diterima dan digunakan secara resmi hingga kini.

Tux: Maskot Linux yang Ikonik

Pada tahun 1996, Linux memperkenalkan maskot resminya, Tux, seekor pinguin yang digambarkan sedang duduk santai. Logo ini dirancang oleh Larry Ewing dan dipilih langsung oleh Linus Torvalds.

Nama Tux memiliki dua makna: singkatan dari Torvalds’ UniX dan tuxedo, jas formal berwarna hitam-putih yang menyerupai warna pinguin. Tux menjadi simbol bahwa Linux adalah sistem operasi yang kuat, bersahabat, dan terbuka.

Linux Resmi Menjadi GNU/Linux

Awalnya, Linux menggunakan lisensi pribadi dengan batasan penggunaan komersial. Namun pada tahun 1992, Linus memutuskan untuk merilis Linux di bawah GNU GPL. Keputusan ini menjadikan Linux sepenuhnya bebas dan terintegrasi dengan komponen GNU.

Sejak saat itu, sistem operasi ini secara teknis dikenal sebagai GNU/Linux, meskipun sehari-hari lebih sering disebut Linux saja.

Komunitas, Distribusi, dan Pertumbuhan Pesat Linux

Kekuatan Linux terletak pada komunitasnya. Ribuan pengembang dari berbagai negara berkontribusi dalam pengembangan kernel dan ekosistemnya. Dari kolaborasi ini lahir berbagai distribusi Linux seperti Slackware, Debian, Red Hat, SUSE, dan Ubuntu.

Setiap distribusi menawarkan pendekatan berbeda, mulai dari stabilitas, kemudahan penggunaan, hingga kebutuhan enterprise. Meski berbeda tampilan dan manajemen, semuanya berbagi kernel Linux yang sama.

Linux di Era Modern

Saat ini, Linux menjadi fondasi utama:

  • Server dan data center global
  • Cloud computing dan container
  • Superkomputer
  • Perangkat IoT
  • Sistem operasi Android

Perjalanan Linux dari proyek mahasiswa hingga menjadi tulang punggung dunia digital modern menunjukkan bahwa kolaborasi terbuka dapat menghasilkan inovasi luar biasa.