MEDIASERUNI.ID – Prada Lucky Chepril Saputra Namo, 23 tahun, putra asli Magekeo, Nusa Tenggara Timur. Sejak kecil, mimpinya ingin menjadi prajurit TNI AD. Bukan semata demi seragam kebanggaan, tetapi sebagai wujud baktinya kepada tanah kelahiran.

Lahir dan tumbuh di keluarga sederhana, merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Ayahnya Sersan Mayor Christian Namo, merupakan prajurit TNI yang bertugas di Kodim 1627 Rote Ndao.

Prada Lucky dikenal sebagai anak periang, rajin membantu orang tua, dan selalu menjaga sikap hormat kepada orang tua dan orang yang lebih tua.

Sejak duduk di bangku SMP, Lucky sudah bertekad untuk mengenakan seragam loreng. Ia ingin membanggakan keluarganya dan mengabdi kepada bangsa.

Pendidikan dasarnya dijalani di kampung halaman, dan setelah lulus SMA, ia bekerja serabutan untuk membantu perekonomian keluarga, sambil terus melatih fisik demi satu tujuan: lolos seleksi TNI.

Diterima TNI AD

Tahun 2024, perjuangan itu membuahkan hasil. Lucky berhasil melewati seleksi ketat penerimaan TNI AD, sebuah momen yang disambut haru dan bangga oleh keluarganya.

Baca Juga:  Warga Sekitar TPA Jalupang Terima Kompensasi Ribuan Paket Sembako

Ia menjalani pendidikan militer di Rindam IX/Udayana, Bali, sebelum akhirnya dilantik sebagai Prajurit Dua (Prada) pada Februari 2025.

Penempatan pertamanya adalah di Batalyon TP 834/Wakanga Mere, Nagekeo, NTT, namun ia lebih dulu menempuh sekolah kejuruan militer selama tiga bulan di Bali untuk memperdalam keterampilan.

Awal Juni 2025, Lucky pulang ke rumah. Ibunya menggelar acara syukuran sederhana, merayakan kelulusan dan awal karier anaknya sebagai seorang tentara. Saat itu, senyum dan semangatnya terpancar jelas, ia siap menjalani masa depan di jalan pengabdian.

Detik-Detik Terakhir Prada Lucky

Sekembalinya ke Batalyon TP 834/Wakanga Mere, Lucky menjalani rutinitas sebagai prajurit muda. Namun di balik kedisiplinan yang ia pegang teguh, lingkungan barak menyimpan sisi kelam.

Budaya senioritas yang keras membuat prajurit baru kerap menerima tekanan mental maupun hukuman fisik.

Awal Agustus 2025, ketegangan di barak mencapai puncaknya. Berdasarkan kesaksian sejumlah prajurit, pada hari nahas itu Lucky bersama beberapa rekannya dipanggil oleh para senior.

Baca Juga:  DBD Mulai Meresahkan, Anak di Desa Karyasari Terdiagnosa Kena Demam Berdarah

Tanpa alasan yang dapat dibenarkan, ia menjadi sasaran kemarahan. Pukulan, tendangan, hingga hantaman benda tumpul menghantam tubuhnya bertubi-tubi. Luka yang ia derita sangat parah: paru-paru robek, ginjal rusak, dan memar di sekujur tubuh.

Dalam kondisi kritis, Lucky mencoba melarikan diri dari barak. Meski tubuhnya lemah, ia masih berusaha mencari pertolongan.

Kepada ibunya lewat telepon, ia sempat mengeluh tidak kuat menahan sakit. Bahkan saat dirawat di RSUD Aeramo, ia berbisik kepada tenaga medis bahwa ia dianiaya oleh para seniornya.

Selama tiga hari di ruang ICU, Lucky berjuang antara hidup dan mati. Hingga akhirnya, pada Rabu 6 Agustus 2025, sore, ia mengembuskan napas terakhir.

Menurut sang ibu, Lucky seolah menunggu ayahnya tiba sebelum pergi untuk selamanya, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan masyarakat Nagekeo. (*)

Sumber: Dirangkum dari berbagai media