Kab. Garut, MEDIASERUNI.ID –  Tidak ada daerah yang indah dan menjadi destinasi favorit yang bertahan lama tanpa merawat ekosistem seninya. Keindahan alam dan infrastruktur memang penting, tetapi pengalaman banyak kota menunjukkan bahwa seni—terutama seni rupa—adalah penentu “rasa”, identitas, dan daya hidup sebuah daerah. Tanpa seni yang hidup, keindahan sering berhenti pada panorama; dengan seni yang hidup, keindahan berubah menjadi pengalaman yang dirindukan.

Kita dapat belajar dari Yogyakarta, Bali, dan Bandung. Ketiganya bukan hanya dikenal karena alam atau sejarahnya, tetapi karena seninya tumbuh, berjejaring, dan dikelola. Polanya konsisten: pemerintah daerah hadir memberi ruang dan kesempatan berkarya bagi seniman—khususnya perupa—serta menganggarkan dewan kesenian secara memadai untuk memastikan ekosistem seni berjalan berkelanjutan.

Mengapa anggaran dan kebijakan ini penting? Karena seni tidak tumbuh dari ruang kosong. Ia membutuhkan pendidikan, kurasi, ruang produksi, panggung, dan jejaring. Di kota-kota yang berhasil, dewan kesenian tidak diperlakukan sebagai pelengkap acara, melainkan sebagai pengelola ekosistem: menjaga mutu, mengatur regenerasi, membangun kolaborasi, dan menghubungkan seni dengan publik serta pasar. Hasilnya nyata—pariwisata budaya menguat, ekonomi kreatif bergerak, dan reputasi daerah meningkat.

Garut sejatinya memiliki modal yang sama kuatnya. Alamnya indah, budayanya kaya, dan talenta seni rupanya nyata. Banyak perupa Garut bekerja dengan ketekunan, kepekaan, dan gagasan yang berakar pada lokalitas namun relevan dengan isu global. Yang masih perlu diputuskan bersama adalah arah kebijakan: apakah seni akan dibiarkan tumbuh sporadis, atau dikelola sebagai aset strategis pembangunan daerah.

Baca Juga:  Ketua Umum ARGADIKA Hadiri Acara MAPAK di Kampus Fahutan UNWIM

Tanpa kebijakan yang jelas dan dukungan anggaran yang memadai, seni akan tetap ada—namun tidak optimal. Seniman akan terus berkarya—namun kesejahteraannya rapuh. Garut akan tetap indah—namun belum sepenuhnya tampil sebagai destinasi budaya yang diperhitungkan. Sebaliknya, ketika seni dikelola dengan visi, ia menciptakan efek berganda: memperpanjang lama tinggal wisatawan, membuka pasar karya, menggerakkan UMKM kreatif, dan menumbuhkan kebanggaan warga.

Di titik ini, penguatan dewan kesenian menjadi krusial. Dewan kesenian yang kuat bukan ancaman bagi pemerintah, melainkan mitra strategis. Ia menjadi penyalur kritik yang sehat, penjaga kualitas, sekaligus jembatan antara seniman, pemerintah, dan pasar.

Tanpa dukungan anggaran, dewan kesenian mudah terjebak simbolik. Dengan dukungan yang tepat, ia berubah menjadi mesin peradaban lokal—menghasilkan karya unggulan, menyiapkan regenerasi, dan menghubungkan seni dengan pariwisata serta ekonomi kreatif.

Perlu ditegaskan, menganggarkan seni bukan membiayai hobi. Ini adalah investasi jangka panjang untuk identitas daerah. Kota-kota yang berani mempercayai seni menuai manfaat yang melampaui sektor budaya: stabilitas sosial yang lebih baik, citra daerah yang kuat, serta daya saing pariwisata yang berkelanjutan. Seni memberi bahasa bersama bagi warga dan tamu; ia mengikat ingatan dan emosi, bukan sekadar transaksi.

Baca Juga:  Koperasi Jasa Multi Pihak Aset Digital Nusantara Garuda Butuh Pengurus dan Pengelola

Bagi Garut, pilihan ini semakin relevan. Dengan lanskap alam yang memikat, Garut memiliki peluang besar mengembangkan pariwisata berbasis seni dan budaya—pameran di ruang publik dan destinasi wisata, residensi seniman yang mengolah isu lokal, hingga festival seni rupa yang terkurasi. Semua itu membutuhkan satu hal yang sama: keputusan politik dan penganggaran yang konsisten.

Pertanyaannya bagi Pemda, DPRD, dan seluruh pemangku kepentingan bukan lagi apakah seni perlu didukung. Pertanyaannya adalah: apakah Garut ingin sekadar dikenal sebagai daerah yang indah, atau tumbuh sebagai destinasi budaya yang hidup dan berkelanjutan? Jika jawabannya yang kedua, maka memberi ruang, kesempatan, dan anggaran yang memadai bagi seniman serta dewan kesenian bukanlah pilihan tambahan. Ia adalah keputusan strategis yang menentukan masa depan Garut.

Keindahan sudah kita miliki. Talenta juga ada. Kini saatnya kebijakan menyusul, agar seni rupa Garut tidak hanya tumbuh, tetapi memberi nilai—bagi seniman, pariwisata, dan martabat daerah.

Sebagai awal pergerakan, maka Komite Seni Rupa Garut (KSRG) akan mengadakan RAKER pada hari Minggu tanggal 8 Februari 2026, di Taman Indonesia Bahagia (TIB).

Sumber: Asep Chaeruloh – Ketua Komite Seni Rupa Garut