MEDIASERUNI.ID – Serangan Amerika Serikat (AS) – Israel terhadap Iran berpotensi kiamat di negeri Paman Sam. Serangan balasan Iran membuat pasar minyak dunia bergejolak hebat.
Kondisi ini akan makin diperparah dengan eskalasi perang di Timur Tengah yang lebih lsma, sehingga memicu lonjakan harga energi global yang dapat mendorong inflasi, menekan daya beli, dan mengancam stabilitas ekonomi AS.
Demikian melansir CNBC Indonesia, Kamus 5 Maret 3026, perang ini bahkan berdampak pada penutupan efektif Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak global. Akibatnya, harga minyak mentah Brent melonjak ke level tertinggi sejak Juli 2024.
Kenaikan harga minyak diperkirakan segera berdampak pada harga bensin di SPBU AS. Analis Oxford Economics, John Canavan, menyebut harga bensin bisa naik dalam hitungan hari. Tren kenaikan bahkan sudah terlihat sejak awal Januari, seiring respons cepat pelaku pasar terhadap risiko geopolitik.
Lonjakan biaya energi menjadi beban tambahan bagi rumah tangga AS. Padahal, belanja konsumen menyumbang sekitar dua pertiga Produk Domestik Bruto (PDB) negara tersebut. Jika harga bensin dan listrik naik, daya beli masyarakat berpotensi tergerus dan berdampak ke berbagai sektor, mulai dari transportasi hingga distribusi barang.
Ekonom ING, James Knightley, menilai harga energi yang lebih tinggi bisa memicu kenaikan tarif penerbangan dan ongkos logistik. Meski AS relatif mandiri dalam pasokan gas alam, harga domestik tetap mengikuti dinamika pasar global. Artinya, lonjakan harga internasional tetap berisiko mendorong kenaikan tarif listrik di dalam negeri.
Situasi ini juga menjadi tantangan politik bagi Presiden AS Donald Trump. Kenaikan harga energi dinilai sensitif dan berpotensi memengaruhi sentimen publik menjelang pemilu. Kepala Ekonom Nationwide, Kathy Bostjancic, menegaskan bahwa lonjakan harga bensin dapat menekan kepercayaan konsumen dan berdampak pada pilihan politik masyarakat.
Di sisi lain, kondisi ini menempatkan bank sentral AS, Federal Reserve, dalam dilema. Risiko inflasi yang meningkat membuat ruang pemangkasan suku bunga semakin sempit. Namun, jika ekonomi melambat dan pasar tenaga kerja melemah, tekanan untuk melonggarkan kebijakan moneter akan semakin besar.
Presiden Federal Reserve New York, John Williams, menyatakan pihaknya masih mencermati seberapa lama dampak konflik terhadap harga energi dan inflasi. Para ekonom menilai, selama risiko inflasi jangka pendek masih tinggi, peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat akan semakin kecil.
Jika konflik berlangsung lebih lama, tekanan terhadap ekonomi AS diperkirakan semakin berat. Harga energi yang tinggi tak hanya memicu inflasi, tetapi juga berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam. (*)
