Bandung Barat, MEDIASERUNI.ID – Sore menjelang Maghrib di Kampung Cisatong RT 02/019, Desa Sukaresmi, Kecamatan Rongga, asap tipis dari tungku kayu masih mengepul. Di dapur sederhananya, Mustopa yang akrab disapa Kang Mus, setia mengaduk nira panas yang perlahan mengental menjadi gula aren berwarna cokelat pekat.
Di usianya yang tak lagi muda, Kang Mus membuktikan dirinya belum pensiun. Sejak belasan tahun lalu, bahkan sejak masih perjaka, ia telah menekuni pembuatan gula aren tradisional yang kini menjadi sumber penghidupan sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat sekitar.
“Ini warisan turun-temurun. Tapi kalau dikelola dengan baik dan higienis, nilainya bisa jauh lebih tinggi,” ujarnya di sela proses produksi, 15 Februari 2026.
Gula aren berasal dari nira pohon aren atau enau (Arenga pinnata), tanaman khas tropis yang banyak tumbuh di wilayah perbukitan Bandung Barat. Bagi warga Desa Sukaresmi, pohon aren bukan sekadar tanaman liar, melainkan sumber ekonomi yang potensial.
Kang Mus menjelaskan, proses pembuatan gula aren dimulai sejak pagi hari ketika petani menyadap nira dari tandan bunga pohon aren yang telah dipersiapkan sebelumnya. Nira yang ditampung dalam wadah bambu atau jerigen khusus harus segera dimasak agar tidak mengalami fermentasi.
Sebelum dimasukkan ke dalam wajan besar, cairan tersebut disaring terlebih dahulu untuk memisahkan kotoran seperti serangga atau serpihan kayu sehingga kebersihan dan kualitasnya tetap terjaga.
Selanjutnya, nira dimasak menggunakan tungku kayu selama beberapa jam sambil terus diaduk hingga mengental dan berubah warna menjadi cokelat pekat. Proses ini membutuhkan ketelatenan agar tidak gosong dan cita rasa tetap konsisten.
Setelah mencapai kekentalan tertentu, cairan gula dituangkan ke dalam cetakan batok kelapa maupun cetakan modern, lalu didiamkan hingga mengeras. Gula aren yang telah padat kemudian dikemas, baik secara sederhana maupun dengan kemasan yang lebih modern sesuai kebutuhan pasar.
Selain dikenal sebagai pemanis alami, gula aren memiliki indeks glikemik yang relatif lebih rendah dibandingkan gula pasir sehingga lebih aman dikonsumsi dalam jumlah wajar. Produk ini kini banyak dimanfaatkan sebagai alternatif pemanis untuk minuman tradisional hingga kopi modern.
Dari sisi ekonomi, produksi gula aren membuka peluang usaha bagi masyarakat Desa Sukaresmi. Dengan pengolahan yang higienis dan pengemasan yang menarik, harga jual gula aren dapat meningkat signifikan, bahkan berpotensi menembus pasar ekspor.
Ketekunan Kang Mus menjadi gambaran bahwa tradisi lokal tetap relevan di tengah perkembangan zaman. Ia berharap masyarakat semakin menghargai produk lokal sekaligus mendukung keberlanjutan usaha gula aren sebagai bagian dari identitas dan kekuatan ekonomi daerah, khususnya di Kabupaten Bandung Barat. (Dadan)
