MEDIASERUNI.ID – Khalid bin Walid adalah panglima perang yang namanya membuat musuh gentar. Penakluk dua imperium: Persia dan Romawi dalam waktu singkat. Strateginya sulit ditebak. Keberaniannya tak diragukan.
Dialah Khalid bin Walid, sosok yang dijuluki Saifullah ‘Pedang Allah’. Namun, takdir hidupnya menyimpan kisah yang begitu menyentuh.Tubuh Penuh Luka, Tapi Tidak Gugur di Medan Perang.
Sepanjang hidupnya, Khalid bin Walid berada di tengah gemuruh peperangan. Desing pedang, hujan panah, dan tombak yang mengarah ke tubuhnya sudah menjadi bagian dari hari-harinya.
Dalam berbagai pertempuran besar, ia berdiri di barisan terdepan. Tidak terhitung berapa banyak sabetan pedang dan tusukan tombak yang menghujam tubuhnya.
Menjelang wafatnya, Khalid menangis. Dengan suara lirih, ia menunjukkan tubuhnya kepada para sahabat. Hampir tidak ada sejengkal kulit pun yang tidak memiliki bekas luka. Semua menjadi saksi betapa kerasnya perjuangan yang ia jalani.
Namun, ada satu hal yang membuatnya pilu. Ia tidak gugur di medan perang. Padahal, itulah yang selama ini ia dambakan.
Hikmah di Balik Julukan “Pedang Allah”
Mengapa seorang panglima besar seperti Khalid bin Walid tidak wafat di medan pertempuran?
Para ulama menyampaikan sebuah hikmah yang begitu indah: Seseorang yang dijuluki ‘Pedang Allah’ tidak mungkin gugur oleh tangan manusia. Pedang Allah tidak akan pernah patah.
Julukan Saifullah bukan sekadar simbol keberanian, tetapi juga kemuliaan yang Allah tetapkan untuknya. Wafat di atas tempat tidur bukanlah kehinaan, melainkan takdir yang sarat makna.
Kemuliaan Khalid bin Walid
Kemuliaan Khalid bukan pada cara ia meninggal, tetapi pada bagaimana ia menjalani hidupnya. Bukan Sekadar Pejuang, Tapi Ahli Strategi.
Khalid bin Walid bukan hanya kuat secara fisik. Ia adalah ahli strategi militer yang cerdas. Ia memahami bahwa kekuatan tanpa strategi akan runtuh, dan strategi tanpa iman akan kehilangan arah.
Dalam setiap peperangan, ia membaca situasi dengan tajam. Ia menyusun formasi, memanfaatkan momentum, dan sering kali membalikkan keadaan ketika pasukan berada di ujung kekalahan.
Ia membuktikan bahwa keberanian harus berjalan seiring dengan kecerdasan dan keyakinan.
Warisan Abadi Sang Panglima
Kisah hidup Khalid bin Walid meninggalkan pelajaran besar bagi generasi setelahnya:
Berjuanglah dengan totalitas. Jangan hanya mengandalkan kekuatan, tapi gunakan strategi. Pegang teguh keyakinan dalam setiap langkah. Terimalah takdir dengan lapang dada.
Ia mungkin tidak gugur di medan perang.
Namun namanya abadi dalam sejarah.
Kisahnya mengajarkan bahwa kehormatan tidak selalu diukur dari akhir kehidupan, tetapi dari pengabdian sepanjang perjalanan.
Hingga hari ini, nama Khalid bin Walid tetap dikenang sebagai simbol keberanian, kecerdikan, dan keteguhan iman. (*)
