MEDIASERUNI.ID – Berbicara sejarah Islam, biasanya benak kita langsung melayang dengan peperangan. Namun, pernahkah kamu membayangkan, pada masa itu Nabi Muhammad SAW pun dikelilingi jurnalis – jurnalis hebat sebagai verifikator data dan penyampai informasi yang handal.

Memang, jika menggunakan kacamata modern, seperti itu kira-kira. Nabi Muhammad SAW dikelilingi sosok-sosok dengan keterampilan “profesi kreatif” yang luar biasa, mulai dari jurnalis investigatif, arsiparis, hingga pakar humas (Public Relations).

​Meski istilah modern tersebut belum lahir, fungsi-fungsi komunikasi ini telah dijalankan dengan sangat profesional melalui media sastra, puisi, dan korespondensi diplomatik.
Lantas, siapa saja sahabat Nabi Muhammad SAW yang menyandang profesi Wartawan, yuuk kita simak rekam jejak mereka.

1. ​Zaid bin Thabit
Dia iinilah birokrat informasi dan verifikator wahyu. Dalam definisi nyata, Zaid bin Thabit adalah intelektual muda yang serba bisa. Dipercaya sebagai sekretaris pribadi Rasulullah, ia memegang peran krusial dalam menangani surat-menyurat internasional negara Madinah.

Bayangkan saja, ia mampu menguasai bahasa Ibrani dan Suryani dalam waktu singkat demi menjaga akurasi komunikasi diplomatik. Puncak kariernya terjadi pasca-wafatnya Nabi, saat ia memimpin proyek raksasa Kodifikasi Al-Quran.

Baca Juga:  Kota Misterius Wentira di Tengah Sulawesi yang Dikaitkan dengan Legenda Atlantis

Zaid menerapkan metodologi yang sangat ketat, mirip dengan prinsip verifikasi jurnalisme modern. Ia tidak hanya menerima hafalan, tapi menuntut bukti fisik dan saksi otentik sebelum sebuah ayat dicatat ke dalam mushaf standar. Berkat ketelitiannya, integritas teks suci Al-Quran, terjaga hingga hari ini.

2. Abu Hurairah

Dia ini reporter lapangan paling produktif.​ Jika ada sosok yang layak disebut sebagai sumber data primer yang tak terbatas, dialah Abu Hurairah. Sebagai bagian dari Ahli Suffah, ia mendedikasikan hidupnya untuk “meliput” setiap ucapan dan tindakan Rasulullah secara intensif.

Meski hanya membersamai Nabi selama empat tahun, daya ingatnya yang luar biasa sebuah berkah dari doa Nabi membuatnya mampu merekam ribuan detail keseharian Rasulullah. ​Ia bertindak sebagai jembatan informasi bagi generasi setelahnya.

Tercatat lebih dari 5.000 hadis lahir dari riwayatnya, mencakup hukum hingga etika sosial. Konsistensi Abu Hurairah dalam menjaga orisinalitas berita menjadikannya fondasi utama dalam kodifikasi hukum Islam, memastikan ajaran lisan tidak hilang tertelan zaman.

3. Abdullah bin Abbas

Jurnalis Investigatif ini d​ikenal dengan julukan Habr al-Ummah (Tinta Umat), Ibnu Abbas atau Abdullah bin Abbas adalah sosok intelektual dengan rasa ingin tahu yang tak pernah padam. Sejak kecil, ia melakukan “investigasi” mendalam kepada para sahabat senior untuk mengumpulkan kepingan riwayat dan pemahaman Al-Qur’an yang mendalam.

Baca Juga:  Misteri Cincin Berlapaz Allah Berusia 1000 Tahun, Peneliti Ungkap Fakta Mengejutkan

​Kemampuannya membedah makna ayat-ayat sulit menjadikannya analis teologi nomor satu di masanya. Tak hanya di balik meja, ia juga seorang diplomat ulung.

Salah satu momen ikoniknya adalah ketika ia berdialog dengan kaum Khawarij; menggunakan argumen logis dan retorika yang santun, ia berhasil menyadarkan ribuan orang. Ia adalah pionir metodologi penafsiran Al-Qur’an berbasis konteks sejarah dan bahasa.

4. Mus’ab bin Umair

Dia ini seorang public relation (Humas) Nabi.
​Sebelum Islam berkembang pesat di Madinah, ada sosok Mus’ab bin Umair yang menjadi “wajah” pertama dakwah. Beliau adalah duta besar pertama dalam Islam dengan peran yang sangat mirip dengan petugas komunikasi publik atau diplomat.

​Tugasnya berat dikirim ke Madinah untuk menyampaikan “berita” tentang Islam kepada masyarakat yang masih asing. Dengan pendekatan persuasif dan komunikasi yang elegan, Mus’ab berhasil membangun opini publik yang positif dan mempersiapkan jalan bagi hijrahnya Rasulullah. (*)