Bandung, MEDIASERUNI.ID – Kematian dua anak harimau Benggala di Bandung Zoo akhirnya diungkap secara rinci. Plt Kepala BBKSDA Jawa Barat, Ammy Nurwaty, memaparkan kronologi lengkap kematiannya.

Kejadian bermula pada 22 Maret 2026. Saat itu, tim medis eks Kebun Binatang Bandung melaporkan adanya kondisi tidak normal pada seekor anak harimau bernama Hara.
Satwa tersebut terlihat lemas, mengalami muntah, serta diare.

“Dari hasil pemeriksaan ditemukan adanya parasit cacing pada muntahan, sehingga satwa diberikan obat antiparasit, penurun asam lambung, dan vitamin,” katanya, mengutip detikJabar, Minggu 29 Maret 2026.

Dari hasil pemeriksaan awal, ditemukan adanya infeksi parasit cacing pada muntahan Hara. Sebagai penanganan awal, tim medis langsung memberikan obat antiparasit, penurun asam lambung, dan vitamin untuk membantu memulihkan kondisinya.

Tak hanya itu, langkah pencegahan juga dilakukan terhadap Huru, harimau lain yang berada dalam satu kandang. Huru diberi vitamin dan obat cacing, lalu keduanya dipisahkan untuk mencegah kemungkinan penularan penyakit.

BBKSDA Jawa Barat kemudian bergerak cepat dengan menggandeng sejumlah pihak, mulai dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung hingga tim dokter hewan dari UPTD Rumah Sakit Hewan Provinsi Jawa Barat.

Baca Juga:  Film Hantu di Sekolah Cerita Perjuangan Dea Cs Bongkar Pungli Kepala Sekolah

Penanganan dilakukan secara terpadu dengan berbagai upaya medis intensif. Namun kondisi Hara justru memburuk pada 23 Maret 2026. Ia mengalami diare disertai darah, yang menjadi tanda serius. Tim medis kemudian melakukan rapid test terhadap Feline Panleukopenia Virus (FPV) dari sampel feses, dan hasilnya menunjukkan positif.

Setelah itu, penanganan intensif langsung dilakukan melalui terapi suportif dan pengobatan simptomatik. Sayangnya, upaya tersebut belum mampu menyelamatkan Hara. Pada 24 Maret 2026 pukul 09.14 Wib, Hara dinyatakan mati.

Hasil nekropsi mengungkap adanya perdarahan hebat pada saluran pencernaan serta kerusakan vili usus, yang merupakan ciri khas infeksi FPV. Selain itu, parasit cacing juga ditemukan di dalam ususnya.

Setelah kematian Hara, perhatian tim medis beralih penuh ke Huru yang mulai menunjukkan gejala serupa. Penanganan intensif dilakukan sejak 25 Maret 2026 dengan melibatkan berbagai dokter hewan dari sejumlah instansi, termasuk tenaga medis dari Khal’s Pet Care Bandung.

“Kondisi Huru sempat melewati fase kritis dan menunjukkan perbaikan, namun pada tanggal 26 Maret 2026 sekitar pukul 07.30 Wib, harimau Huru dinyatakan mati. Hasil nekropsi menunjukkan adanya perdarahan pada usus, kerusakan vili usus, luka pada lambung yang menyebabkan perdarahan, serta hasil uji test kit menunjukkan positif FPV,” jelasnya.

Baca Juga:  Kepala Dindikbud Pemalang Ismun Hadiyo Lepas Kafilah MAPSI SMP Menuju Ajang Provinsi, Target Juara Umum!

Hasil pemeriksaan pascakematian menunjukkan adanya perdarahan pada usus, kerusakan vili usus, serta luka pada lambung yang memicu perdarahan. Uji test kit juga mengonfirmasi bahwa Huru positif terinfeksi Feline Panleukopenia Virus (FPV).

Virus Ganas Menyerang Sel

Kasus ini menjadi perhatian serius, mengingat FPV dikenal sebagai virus yang sangat ganas dan cepat menyebar, terutama pada hewan dengan sistem imun yang masih lemah seperti anak harimau.

Berdasarkan rangkaian pemeriksaan klinis, uji diagnostik, dan hasil nekropsi yang dilakukan oleh tim dokter hewan, dapat disimpulkan bahwa kedua anak harimau tersebut mati akibat infeksi FPV.

Ammy menyebut, FPV merupakan penyakit yang sangat menular pada satwa famili Felidae baik domestik maupun liar, termasuk harimau. “Virus ini menyerang sel-sel yang aktif membelah, terutama pada saluran pencernaan, sehingga menyebabkan kerusakan mukosa usus secara masif,” katanya.

Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, lingkungan yang terkontaminasi, maupun benda perantara (fomite). “Pada satwa muda yang sistem kekebalannya belum berkembang sempurna, penyakit ini memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi,” terangnya. (*)