MEDIASERUNI.ID – Bulan Ramadan selalu menghadirkan denyut kehidupan yang berbeda. Menjelang senja, suasana jalanan berubah menjadi lebih semarak. Deretan lapak sederhana mulai tertata, aroma gorengan mengepul di udara, dan aneka minuman segar tersusun rapi menanti pembeli.
Inilah potret khas Ramadan. Bulan Seribu Berkah yang bukan hanya menghadirkan ketenangan spiritual, tetapi juga menggerakkan roda perekonomian masyarakat kecil.
Tradisi berburu takjil telah menjadi bagian tak terpisahkan dari Ramadan. Sejak sore hari, masyarakat berbagai kalangan, dari anak – anak, remaja, hingga orang tua berbondong bondong mencari hidangan berbuka.
Gorengan seperti bakwan, tahu isi, dan pisang goreng selalu menjadi primadona. Di samping itu, minuman khas Ramadan turut meramaikan suasana, mulai dari es teler, es buah, hingga minuman kolek yang manis dan hangat, dengan perpaduan gula merah, santan, dan potongan pisang atau ubi yang begitu menggugah selera.
Minuman kolek menjadi salah satu ciri khas yang selalu dinanti. Kehadirannya bukan sekadar pelepas dahaga, tetapi juga menghadirkan rasa nostalgia dan kehangatan kebersamaan keluarga saat berbuka puasa. Setiap tegukan seolah menghadirkan rasa syukur setelah seharian menahan lapar dan dahaga.
Di daerah penulis, fenomena ini terlihat jelas. Titik-titik tertentu yang biasanya tenang mendadak ramai oleh aktivitas jual beli. Senyum ramah pedagang, sapaan hangat antarwarga, serta hiruk-pikuk pembeli menciptakan suasana yang hidup dan penuh keakraban.
Ramadan seakan menjadi panggung tahunan bagi para pelaku UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) untuk menunjukkan semangat dan kreatifitasnya, selama bulan ramadan.
Menggeliatnya UMKM di bulan ramadan membawa banyak hikmah. Pertama, menjadi momentum peningkatan ekonomi keluarga. Banyak warga memanfaatkan kesempatan ini untuk menambah penghasilan, baik dengan membuka usaha musiman maupun memperluas usaha yang sudah ada.
Perputaran uang yang meningkat membantu menjaga stabilitas ekonomi masyarakat di tingkat bawah. Kedua, Ramadan melatih jiwa kewirausahaan. Para pelaku usaha belajar mengatur modal, menghitung keuntungan, menjaga kualitas rasa, hingga melayani pelanggan dengan baik. Kreativitas pun berkembang, terlihat dari variasi menu dan kemasan yang semakin menarik dan inovatif.
Ketiga, kegiatan ini mempererat tali silaturahmi. Interaksi antara penjual dan pembeli tidak sekadar transaksi ekonomi, tetapi juga menjadi ajang memperkuat hubungan sosial. Banyak pula yang membeli lebih untuk dibagikan kepada tetangga atau mereka yang membutuhkan, sehingga nilai berbagi semakin terasa.
Keempat, keberadaan sentra takjil memudahkan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan berbuka puasa. Bagi mereka yang sibuk bekerja, lapak-lapak UMKM menjadi solusi praktis dan terjangkau untuk menyajikan hidangan bagi keluarga.
Pada akhirnya, geliat UMKM di bulan Ramadan bukan sekadar aktivitas musiman. Ia adalah simbol semangat gotong royong, kerja keras, dan harapan akan kehidupan yang lebih baik.
Dari gorengan sederhana hingga manisnya minuman kolek, semuanya menyatu dalam harmoni Ramadan, menguatkan ekonomi, mempererat kebersamaan, dan menghadirkan keberkahan bagi seluruh lapisan masyarakat. (*)
