WEF: 92 Juta Pekerjaan Hilang pada 2030, Ini Daftar Lengkapnya

MEDIASERUNI.ID – Gelombang disrupsi pekerjaan akibat kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi bukan lagi prediksi jangka panjang — itu agenda 2030. World Economic Forum (WEF) dalam Laporan Masa Depan Pekerjaan 2025 memproyeksikan sekitar 92 juta posisi akan benar-benar usang dan menghilang dalam waktu kurang dari lima tahun.

McKinsey Global Institute menambahkan dimensi yang lebih spesifik. Lembaga riset tersebut memperkirakan dampak AI dan otomatisasi berpotensi menghilangkan pekerjaan hingga 12 juta pekerja di Amerika Serikat dan Eropa saja — dan itu dalam lima tahun ke depan.

Pekerjaan Repetitif Paling Rentan Tergantikan

Studi McKinsey menegaskan bahwa pekerjaan dengan karakteristik mudah diprediksi dan bersifat repetitif atau berulang menjadi kelompok paling rentan. Pekerjaan yang melibatkan pengumpulan dan pengolahan data juga masuk kategori berisiko tinggi, karena mesin mampu mengerjakannya dengan lebih cepat dan akurat dibanding manusia.

Laporan tersebut secara eksplisit menyebut sejumlah sektor.

“Hal ini dapat menggantikan sejumlah besar tenaga kerja, misalnya, dalam pengurusan hipotek, pekerjaan paralegal, akuntansi, dan pemrosesan transaksi back-office,” demikian pernyataan laporan tersebut.

Dampaknya nyata. Jutaan profesional dipaksa beralih jalur karier, baik secara sukarela maupun karena keadaan.

21 Posisi yang Diproyeksikan Menghilang Sebelum 2030

Mengutip Forbes, data yang dikumpulkan dari WEF, LinkedIn, dan London Institute of Banking and Technology mengidentifikasi 21 posisi yang paling berisiko hilang dalam lima tahun ke depan, yaitu:

  1. Petugas layanan pos
  2. Teller bank dan petugas terkait
  3. Petugas entri data
  4. Kasir ritel dan petugas tiket
  5. Asisten administrasi dan sekretaris eksekutif
  6. Pekerja percetakan dan perdagangan terkait
  7. Petugas akuntansi, pembukuan, dan penggajian
  8. Petugas pencatatan material dan penyimpanan stok
  9. Petugas transportasi dan konduktor
  10. Pekerja penjualan dari pintu ke pintu, penjual koran, pedagang kaki lima, dan pekerja terkait
  11. Desainer grafis
  12. Penilai klaim, pemeriksa, dan penyelidik
  13. Pejabat hukum
  14. Sekretaris hukum
  15. Telemarketer
  16. Peran dukungan TI dasar
  17. Pekerja jalur perakitan
  18. Operator mesin
  19. Pekerja gudang pemetik dan penanganan
  20. Penanggung asuransi
  21. Agen perjalanan
Baca Juga:  SMAN 4 Karawang Kedatangan H. Jenal Aripin untuk Sosialisasi Pendidikan Demokrasi

Daftar ini mencakup spektrum luas — dari pekerjaan klerikal dan administratif hingga posisi teknis seperti desainer grafis dan peran hukum tingkat dasar. Semua punya satu benang merah: tugas-tugas intinya sudah bisa atau segera bisa direplikasi oleh sistem AI.

170 Juta Pekerjaan Baru Menanti di Sisi Lain

Di balik angka yang terdengar mengkhawatirkan itu, WEF justru mencatat proyeksi yang berlawanan arah. Pada 2030, lembaga tersebut memprediksi akan tercipta 170 juta pekerjaan baru — mewakili sekitar 14 persen dari total lapangan kerja yang ada saat ini.

Pertumbuhan ini didorong oleh empat faktor besar: perubahan ekonomi global, pergeseran pasar, transisi menuju energi bersih, serta kemajuan AI dan teknologi itu sendiri. Banyak dari posisi baru yang akan tersedia bahkan belum memiliki nama atau definisi resmi saat ini.

Tiga Langkah Adaptasi yang Perlu Dimulai Sekarang

Bagi siapa pun yang bekerja di bidang-bidang yang masuk daftar berisiko, ada tiga strategi adaptasi yang relevan untuk dijalankan sekarang.

1. Tingkatkan Keterampilan yang Sedang Tumbuh

Laporan dari Coursera dan WEF mencatat beberapa keterampilan dengan laju pertumbuhan tertinggi untuk 2025, antara lain literasi AI, analisis data, kepemimpinan talenta, pengalaman pengguna (user experience), pemasaran digital, serta berpikir kritis dan pemecahan masalah. Keterampilan-keterampilan ini bukan sekadar nilai tambah — dalam lima tahun, bisa jadi prasyarat dasar.

2. Bingkai Ulang Identitas Karier

Alih-alih terpaku pada jabatan lama, fokus pada keterampilan yang dapat ditransfer (transferable skills) ke berbagai peran. Pengalaman dalam peningkatan proses, manajemen digital, kolaborasi lintas fungsi, dan optimalisasi alur kerja adalah aset yang tetap relevan meski konteks pekerjaan berubah drastis.

3. Diversifikasi Sumber Dukungan Karier

Mengandalkan satu pekerjaan sebagai satu-satunya sumber finansial dan pengembangan karier adalah posisi yang rapuh di tengah ketidakpastian seperti ini. Membangun pilihan alternatif — baik lewat keahlian sampingan, jaringan profesional, maupun penghasilan tambahan — menjadi strategi perlindungan dari tekanan PHK dan perubahan industri yang makin sulit diprediksi waktunya.

Baca Juga:  Simulasi Sispamkota, Polres Bulukumba Pukul Mundur Massa Unjuk Rasa di Depan Kantor KPU

FAQ

Q: Berapa banyak pekerjaan yang diprediksi hilang akibat AI pada 2030?
A: World Economic Forum (WEF) memproyeksikan sekitar 92 juta pekerjaan akan usang dan menghilang pada 2030. McKinsey Global Institute juga memperkirakan 12 juta pekerja di AS dan Eropa terdampak dalam lima tahun ke depan.

Q: Pekerjaan apa saja yang paling berisiko hilang pada 2030?
A: Pekerjaan paling berisiko mencakup petugas entri data, teller bank, kasir ritel, asisten administrasi, petugas akuntansi, telemarketer, desainer grafis, agen perjalanan, operator mesin, dan pekerja jalur perakitan — total 21 posisi yang diidentifikasi dari data WEF, LinkedIn, dan London Institute of Banking and Technology.

Q: Apakah ada pekerjaan baru yang akan tercipta untuk menggantikan pekerjaan yang hilang?
A: Ya. WEF memprediksi akan tercipta 170 juta pekerjaan baru pada 2030, mewakili sekitar 14 persen dari total lapangan kerja saat ini, didorong oleh perubahan ekonomi, energi bersih, dan kemajuan AI.

Q: Keterampilan apa yang perlu dikuasai untuk menghadapi disrupsi AI pada 2030?
A: Keterampilan dengan pertumbuhan tinggi yang direkomendasikan meliputi literasi AI, analisis data, kepemimpinan talenta, pengalaman pengguna, pemasaran digital, serta berpikir kritis dan pemecahan masalah.