MEDIASERUNI – Rasa percaya diri Tengku Aba dan Tengku Layang sudah luntur. Menangkap Haji Usman saja belum tentu mampu, kini harus berhadapan dengan Mahisa yang memiliki senjata hebat Parang Setan.
Di jagad persilatan siapa tidak mendengar kedahsyatan Parang Setan. Senjata yang terbuat dari batu langit itu memang luar biasa. Kadar kemurnian logamnya melebihi kerasnya logam terkeras yang ada dimuka bumi.
Sistem penghantar panasnya berpuluh-puluh kali lipat kecepatannya dari logam biasa. Karenanya, senjata ini akan menjadi sangat luar biasa apabila dipegang seorang memiliki tenaga dalam yang tinggi.
Asap pekat berwarna kelabu yang keluar dari Parang Setan memang bawaan asli batu langit. Semakin besar tenaga dalam yang disuplai makin tebal asapnya dan bau belerangnyapun semakin menyengat tercium.
Namun yang mematikan justru bau belerangnya, yang merupakan bahan dasar yang membentuk logam. Jika terhirup akan mengganggu pernapasan dan memukul aliran darah, hingga puncaknya akan membuat syaraf-syaraf di tubuh pecah.
Akan halnya Tengku Aba dan Tengku Layang, keduanya merupakan tokoh-tokoh silat berilmu tinggi. Sadar keadaan berbahaya itu, lantas menutup syaraf – syarat tertentu di bagian tubuhnya. Meski begitu mereka sadar hal itu tidak akan bertahan lama.
Makanya, merekapun berusaha memecah konsentrasi Mahisa agar tak fokus pada Parang Setan. Sehingga kedahsyatan senjata itupun jadi berkuranh. Seraya perdengarkan tawa kecil Tengku Layang pun berusaha memukul mental Mahisa.
“Begini saja. Bukankah Panglima Besar Aceh memiliki pembantu-pembantu hebat? Diantaranya Siti Kehyang dan Nurlela. Bukankah kedua orang itu yang jadi orang-orang kepercayaanmu. Tidakkah engkau berpikir bagaimana kompeni bisa mengetahui lokasi markas besarmu di Lembah Berjuntai…”
Mendengar itu merahlah wajah Mahisa. Namun Mahisa berusaha menahan diri. “Maksud kalian Nyai Siti Kehyang dan Pendekar Nurlela berlaku khianat? Hmm, sungguh kalian inilah tukang fitnah sejati. Jangan berpikir aku akan termakan fitnah kalian.”
Namun sesaat itu hati Mahisa meragu. Terlebih, Panglima Besar Aceh Raden Barsil Wuning pun sempat mengkisiki dirinya, agar waspada terhadap dua orang kepercayaannya itu. Sehingga, kalau kini Tengku Layang pun dapat menyebut lengkap nama keduanya, itulah yang membuat Mahisa berbimbang.
“Hmm, bagaimana? Apakah engkau yakin dua orang itu masih berada di Aceh?” Tengku Layang sadar detik itu Mahisa berbimbang. “Kalau boleh aku menyampaikan, dua orang itulah orang-orang paling diandalkan kompeni di Tanah Aceh.”
Siasat licik memukul mental yang dilancarkan Tengku Layang memang berhasil. Mahisa pun memuncak amarahnya. Didahului bentakan keras tahu-tahu dia melompat. Parang Setan ditangan langsung berkelebat. Namun hawanya tidak lagi mengerikan. Sehingga serangan Mahisa pun mudah dipatahkan Tengku Layang.
Selagi Mahisa hendak kelebatkan kembali Parang Setan, dari arah samping tahu-tahu Tengku Aba menyerang. Masih bisa dihindari Mahisa sambil hantamkan tinju ke Tengku Layang. Namun kembali dengan mudah dipatahkan.
Pertempuran masih berlangsung beberapa saat. Cuma saja, pamor Parang Setan sudah luntur. Bau belerang dan gumpalan asap kelabu tak lagi jadi hal menakutkan. Meski demikian Mahisalah Pendekar Walet Putih. Tubuhnya laksana seekor walet menyambar – nyambar ganas.
Namun Tengku Layang dan Tengku Aba bukanlah tokoh silat kaleng-kaleng. Dua orang itu pemilik ilmu silat Cakar Setan dan Tapak Setan, ilmu silat paling ditakuti di Tanah Minang.
Sebetulnya, Tengku Layang dan Tengku Aba ini dua manusia bergelar Datuk Hitam di Tanah Minang. Namun, semenjak bermukim di Aceh mereka menyebut diri Tengku. Namun, laskar-laskar Minang keburu mencap mereka pengkinat negeri.
Saat itu, keduanya secara berbarengan melancarkan serangan cepat. Cakar hitam dan Tapak Hitam laksana bayang-bayang menyambar-nyambar ganas. Mahis masih dapat mengimbangi dengan kelebatan – kelebatan walet dibarengi kilatan-kilatan Parang Setan.
Tetapi dalam satu gerakan Mahisa dibuat tercekat. Selesai dia mematahkan tamparan Tapak Hitam, tahu-tahu saja, cakar hitam Tengku Layang menyambar ganas. Mahisa memang dapat menghindar, namun dalam sekejap didepan, Tapak Setan Tengku Aba telak menghantam bagian dada Mahisa. “Bukk!”
Mahisa terjajar kebelakang. Pada kejap bersamaan, Tengku Layang persis dua langkah di samping Mahisa langsung memburu. Cakar Setan menyambar ganas. Hanya sekejap cakar itu menyambar leher Mahisa, terlihat kelebatan kelabu dan langsung memapak Cakar Setan.
“Blarr!” lalu “Dukk!”
Tubuh Tengku Layang terjajar tiga langkah kebelakang. Dari sudut bibirnya meleleh darah segar. “Jahanam! Keparat! Siapa kau!”
Saat itu dihadapan Tengku Layang dan Tengku Aba tegak anak muda mengenakan pakaian kelabu dan bagian kepala ditutupi peci hitam. Mahisa yang mengenali sosok didepan langsung berseru girang. “Haji Usman…” (bersambung)