MEDIASERUNI – Kompeni Belanda sebetulnya pusing juga. Disatu sisi mereka harus menghadapi perlawanan pejuang – pejuang rakyat disisi lain, ternyata pengikut-pengikut Sisingamangaraja pun masih melakukan perlawanan, mesti berkedok sebagai perampok. Kini mereka pun disibukan kehadiran Haji Usman.

Dikalangan perampok nama Begal Sungai Ular sebetulnya juga menjadi target buruan, namun gerombolan ini teramat licin dan tak ada yang tahu dimana markas besarnya. Bahkan pendekar-pendekar bayaran yang jadi telik sandi kompeni selalu pulang dalam kondisi tewas.

Gerombolan rampok Begal Sungai Ular ini dikenal berilmu tinggi, dan rata-rata memiliki pula ilmu kebal. Namun dihadapan Haji Usman, semua kepandaian mereka seperti hambar.

Peang si pemilik ilmu Monyet Putih, saat itu masih berguling-guling laksana monyet sambil teriak kesakitan bergelantungan di pohon, setelah wajahnya tertabur serbuk beracun miliknya sendiri.

Badar yang menyaksikan orang kepercayaannya menderita demikian langsung menerjang Haji Usman. “Bangsat! Mampus kau!”

Parang besar ditangan Badar berkelebat cepat. Parang itu teramat besar dan berat, butuh dua orang dewasa untuk bisa mengangkat parang itu. Tapi ditangan pengikut Sisingamangaraja parang itu seperti kapas saja. Meliuk dan berkelebat-kelebat cepat kearah Haji Usman.

“Brakkk!” Pohon dengan batang sebesar badan kerbau roboh seketika kena babatan parang besar. Haji Usman cuma melirik. “Hmm, luar biasa tenaga orang ini. Jelas dia tidak menggunakan tenaga dalam tapi mampu merobohkan pohon sebesar itu.”

Haji Usman bergeser kesamping. Tubuhnya meliuk, tapak tangan berbentuk asma Allah ditarik kebelakang, dan sama cepatnya Badar kelebatkan parang pada saat itu Haji Usman angkat dua tangan diatas kepala. Inilah gerakan dasar Ilmu Silat Bayu Jagad.

Baca Juga:  MANDOR SURAK (12)

Masih dalam satu gerakan, bersamaan tapak tangan terangkap diatas kepala, bibir berucap “Allahhuakbar…” Dan “Darr!” Badar terlempar kebelakang, sedang parangnya terlepas dan mental keudara.

Sementara puluhan anak buahnya akan membantu mendadak lumpuh dan ngedeprok di tanah. Haji Usman memang sudah siaga. Makanya ketika tadi melepas Pukulan Bayu Jagad, pada gerakan berikut dia melepas Ajian Pantek Bumi.

Ajian Pantek Bumi bersumber dari Ilmu silat Pedang Fisabillah. Lawan yang terkena ajian ini tenaganya akan hilang dalam waktu yang lama. Ajian ini akan menjadi sangat mengerikan jika dikombinasikan dengan Ajian Cakar Getar, tingkatan ketiga Ilmu Silat Delapan Tapak Dewa. Lawan bukan saja lumpuh tetapi ilmu kepandaiannya pun akan lenyap.

Sementara Pukulan Bayu Jagad merupakan intisari Ilmu Silat Bayu Jagad, tingkatan kedua Ilmu Silat Delapan Tapak Dewa. Ada juga menyebutnya Pukulan Menepuk Udara, karena menepuk udara dengan dua tapak tangan terangkap diudara.

Udara inilah kemudian berubah menjadi kekuatan hebat yang sanggup menghancurkan batu gunung sekalipun. Haji Usman tegak dihadapan gerombolan Begal Sungai Ular. Saat itu Badar pun sadar dirinya sedang berhadapan dengan bukan orang sembarangan. “Ampun, ampuni kami. Siapa sebetulnya abang ini.”

Haji Usman cuma tersenyum, tidak menjawab, malah mengampiri Peang yang masih pegangi wajahnya, setelah sesaat tadi memetik selembar daun keladi yang masih berembun dan akar pohon merambat. Embun itulah kemudian diusapkan ke wajah Peang.

Baca Juga:  Sejenak Rasakan Penderitaan Abah Ikin, Rumahnya Roboh Diterjang Angin Kencang

Ajaib, rasa panas terbakar dikulit wajah Peang kontan hilang. Sedang akar pohon kemudian dipatahkan dan getahnya diteteskan ke mata Peang. Sekejap itu Peang mengerjal-ngerjap menit selanjutnya dia langsung bersimpuh. “Ampuun abang… Ampuni kami yang buta mata tak tahu berhadapan dengan siapa.”

Haji Usman tidak menjawab, tapi mendekati Badar yang megap-megap menahan sakit di dada. Sesaat Haji Usman tempelkan tapak tangan di punggung, dan kejap lain dari mulut Badar menyembur darah berwarna kehitaman.

Badar hanya terdiam merasakan aliran darahnya kembali normal. Namun Badar tak berani meminta penyembuhan anak buahnya yang lumpuh. Kecuali matanya melirik merasa kasihan.

Namun hanya sesaat setelah Haji Usman memutar tapak tangan keudara pada saat bersamaan tapak tangan sudah menepuk tanah. Dan, luar biasa, puluhan anak buah Badar langsung bisa bergerak dan berlarian bersimpuh di belakang Badar dan Peang.

Usai melakukan itu Haji Usman langsung berkelabat. Namun masih sempat Badar dan Peang mendengar pesan Haji Usman. “Mulai detik ini aku melarang kalian membunuh orang-orang tak berdaya. Jangan ganggu pedagang pribumi yang melintasi hutan. Dan, bagikanlah harta kalian kepada orang-orang kampung yang miskin.”

Badar cuma mengangguk keci. Disampingnya Peang bergumam. “Siapakah abang…” Namun diluar dugaan terdengar suara Haji Usman. “Aku Haji Usman…” (Bersambung)