HAJI Usman dalam pengawalan ketat serdadu berkuda kompeni. Paling depan Kapten Adang Alang, perwira pengawal kota terlihat jumawa, seperti baru memenangkan pertempuran.

Diatas kuda, persis dibelakang kapten berjuluk Datuk Tapak Besi itu, Haji Usman diapit Sersan Yono Sukirman dan Sersan Samiun, keduanyapun tak rendah ilmu kepandaiannya.

Tetapi aneh. Barisan serdadu berkuda itu bukannya bergerak ke arah Kota Deli, melainkan menuju pusat kota Perbaungan. Menjelang malam, sampailah mereka di gerbang kota Perbaungan.

Namun belum lagi kaki kuda keluar batas hutan, tiba-tiba saja terdengar suara tawa cekikikan disertai bentakan mengejek. “Serdadu-serdada tolol. Tak bisa membedakan manusia tolol dengan Haji Usman!”

Sebuah bayangan hitam nampak berkelebat memotong jalan di depan. Kuda paling depan sontak angkat dua kaki karena kaget. Sedang dua penunggangnya terlempar ke tanah.

Baca Juga:  Kontainer Bisa Menjadi Sekolah Darurat Disaat Krisis dan Bencana Alam Melanda

Sutan Adang Alang terang bergusar. “Bangsat! Siapa berani kurang ajar dihadapanku!”

Tak ada jawaban, kecuali gumpalan tanah meluncur dan mendarat di mulut Sutan Adang Alang. Sehingga membuat pengawal kota Deli itu semakin geram. Namun segera dia insyaf.

Sutan Adang Alang seorang berkepandaian tinggi. Dialah saat itu tokoh silat paling disegani di tanah Minang. Aji Tapak Besi miliknya memang sangat ditakuti. Namun, begitu mudahnya mulutnya kena disumpal tanah.

Baru menimbang-nimbang begitu, mendadak Sersan Yono Sukirman berteriak. “Sialan! Haji Usman lenyap! Dia kabur…” Bukan main kagetnya Sutan Adang Alang, lantas menoleh.

Saat itu, dipunggung kuda dimana sebelumnya Haji Usman berada, tampak seorang serdadu dengan mulut melongo, tatapannya kosong, sambil memeluk leher kuda, seperti hilang ingatan.

Baca Juga:  Pemda Karawang Ternyata Belum Bayar Tanah Warga untuk Jalan Lingkar Tanjungpura

Sadar yang kalau yang dibawanya sejak dari Kampung Persatuan bukan Haji Usman, detik itu juga semakin ciutlah nyali pengawal kota Deli itu. Terlebih lagi menyaksikan nasib anak buahnya yang sepertinya hilang ingatan.

Akan tetapi, dialah seorang Pengawal Kota Deli pada saat itu, tentu saja rasa ciutnya tak diperlihatkan pada anak buahnya. Maka, segeralah dia menyembunyikan rasa takutnya.

Berhadapan dengan si pelempar tanah saja, belum tentu dia menang, mesti dibantu dua orang kepercayaannya, apalagi ditambah Haji Usman yang kepandaiannya belum dapat dia ukur.

Menimbang-nimbang kesitu, maka diapun segera berteriak. “Tinggalkan tempat ini!” Dan “Heaa!” Sekali menghentak dua kaki, kuda coklat tunggangangnya langsung melesat memasuki gerbang kota Perbaungan. (Bersambung)