MEDIASERUNI – Benarlah adanya si pelempar tanah ke mulut Sutan Adang Alang alias Datuk Tapak Besi memang Nenek Gagak Merah alias Nyai Gagak Merah. Kehadirannya di Tanah Deli memang sedang menelusuri jejak Haji Usman.
Sekejap itu Nenek Gagak Merah totol – totolkan tongkat berwarna merah ke tanah.
“Hmm, tak mungkin aku salah lihat. Itulah Ajian Tali Angin yang dahulu aku lihat di Lembah Berjuntai. Dan postur kiai tadi, eh, Usman… Ya, Haji Usman, tadi jelas namanya disebut serdadu bangsa jin (baca; kompeni belanda) tadi…”
Memang, Nenek Gagak Merah ketika itu berada disana. Dia bersama Mahisa, manusia berjuluk Macan Hisbullah Aceh dan pasukan dalam keadaan terdesak hebat di Lembah Berjuntai, markas salah satu panglima pejuang Aceh.
Laskar Macan Hisbullah Aceh memang berada dibawah komando Panglima Besar Aceh Raden Barsil Wuning, pejuang Tanah Minang yang menyingkir ke Aceh dan bergabung dengan laskar-laskar pejuang Aceh.
Raden Barsil Wuning merupakan ipar Pendekar Alam Saka, yang keluar dari istana Deli lantaran difitnah kompeni belanda. Kakak kandung Pendekar Alam Saka yakni Ncik Ayu Senten Wangi.
Beruntung ketika itu Penasehat Sultan Raden Pembanyun cukup cerdik. Fitnah kompeni belanda berhasil dipatahkan. Namun, Raden Pembayun pun mengkisi Sultan, agar membiarkan Pendekar Alam Saka keluar istana.
Raden Pembayun seorang piawai dalam olah taktik-taktikan politik. Sudah pula mendengar sepak terjang kiai muda bernama Haji Usman. Sedang Pendekar Alam Saka memang seorang yang sangat membenci kompeni belanda. Pendekar-pendekar yang jadi pengikutnyapun tidak sedikit.
Tentulah, apabila bergabung dengan Haji Usman akan menjadi sebuah kekuatan yang dapat menyibukan kompeni belanda dan pendekar-pendekar bayarannya yang rata-rata berilmu tinggi.
Sudah tentu, taktik politik Raden Pembayun ini tak sampai ke benak Nenek Gagak Merah, yang menilai pihak kesultanan lebih pro kompeni. Terlebih kabar yang tersirab Pendekar Alam Saka sempat protes bahwa Sultan mau saja disuruh kompeni menarik pajak rakyat.
Teringat kembali tujuannya ke Tanah Deli, Nenek Gagak Merah pun lantas bergumam. “Hmm, Mahisa… Tidak ada yang tahu keberadaan Tuan Panglima saat ini. Tapi aku menduga bakal ada peristiwa besar yang akan terjadi. Kalau tidak mengapa tiba-tiba saja Mahisa menghilang dari Tanah Aceh.”
Menduga begitu, Nenek Gagak Merah lagi totol-totolkan tongkat ke tanah. Teringat olehnya betapa hebatnya manusia berselubung sarung warna kelabu mengamuk di Lembah Berjuntai. Ketika itu dirinya dan Panglima Mahisa bersama pasukannya nyaris jadi serpihan-serpihan daging dibantai meriam-meriam besar kompeni belanda.
Kemunculan pasukan Raden Barsil Wuning kalah cepat. Manusia berselubung sarung kelabu itu sudah keburu mengamuk, tubuhnya seperti angin, melompat-lompat zig-zag menjejaki batok-batok kepala serdadu kompeni sampai rengka, serta mematahkan moncong-moncong meriam kompeni.
Hebat sekali, padahal moncong-moncong meriam itu meseluruhan baja tulen, tapi dengan mudahnya manusia berselubung sarung kelabu itu mematahkannya, seperti mematahkan ranting pohon.
Keseluruhan mata ketika itu hanya memandang terkesimah, termasuk Raden Barsil Wuning dan dua penasehatnya Kiai Angin Selatan dan Datuk Putih, cuma terbengong menyaksikan amukan manusia itu.
Sebetulnya, ketika itu baik Kiai Angin Selatan maupun Datuk Putih saling pandang. Keduanya sempat menyebut nama Sangaji, karena yang mereka tahu cuma anak angkat Kiai Merapi itu pewaris ajian Tali Angin. Tetapi bukan Sangaji saat ini tengah mengobarkan perlawanan rakyat Jawa. Sehingga tidak mungkin meninggalkan medan pertempurannya.
Lantas siapa manusia berselubung sarung kelabu itu? Di dunia ini, satu-satunya yang bisa menjawab tentulah Kiai Merapi, manusia dipercaturan persilatan juga dijuluki Pertapa Tua. Dan, sebetulnya yang mereka saksikan itu adalah ajian Tali Darah.
Seperti juga ajian pamungkas Pukulan Bayu milik Sangaji, yang mengeluarkan cahaya berwarna perak sebatas sikut, ajian Nogo Geni pun mengeluarkan cahaya biru sebatas sikut. Maka Tali Darah inipun tak jauh beda Tali Angin. Hanya saja lebih ganas, karena yang terkena ajian ini bukan saja mengalami lumpuh tetapi juga hilang ingatan alias gila.
Sesaat itu Nenek Gagak Merah sudah kembali totol-totolkan tongkat ke tanah. “Hmm, yakin aku… Tentulah ada pesan rahasia Raden Barsil Wuning yang dibawanya. Pada dewasa ini, siapakah yang sanggup mengemban tugas penting itu kecuali Panglima Mahisa….”
Berpikir begitu, Nenek Gagak Merah lantas peedengarkan cekikikan panjang. “Yaa, ya, Mahisa… Hmm, Mahisa…” Usai berucap Nenek Gagak Merah lantas menggembor. Hanya sekejap gemborannya, tubuhnya melesat dan lenyap diantara rerimbunan dan gelapnya hutan. (Bersambung)
