MEDIASERUNI.ID – Kabupaten Karawang terus memperkuat berbagai program percepatan penanganan stunting sebagai bagian dari komitmen menuju Zero Stunting. Berbagai langkah strategis dilakukan. Mulai pendampingan keluarga, perbaikan gizi, hingga kolaborasi lintas sektoral.
“Kami tidak bisa berjalan sendiri, kami perlu kolaborasi,” ujar Kepala Bappeda Kabupaten Karawang, M. Ridwan Salam, menegaskan bahwa upaya menekan angka stunting tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja.
Sejak tahun 2022 penanganan stunting di Kabupaten Karawang tidak lagi dilakukan secara konvensional. Pemerintah daerah mulai memperkuat strategi melalui pendekatan komunikasi publik yang lebih kreatif dan mudah diterima masyarakat.
Edukasi kepada masyarakat kini dilakukan melalui berbagai platform, mulai dari media sosial, video edukasi, podcast, hingga konten visual kreatif yang menyasar berbagai kelompok masyarakat, khususnya keluarga muda.
Dari berbagai kolaborasi tersebut, lahirlah sejumlah program inovatif untuk percepatan penurunan stunting. Salah satunya adalah Geprek ASI, sebuah kampanye yang mendorong pentingnya pemberian ASI eksklusif kepada bayi. Program ini secara khusus menyasar para ibu muda di Kabupaten Karawang.
Selain itu, ada juga program DEBEST, yaitu intervensi intensif selama tiga bulan di desa-desa yang memiliki angka stunting tinggi. Program ini difokuskan pada pendampingan keluarga, pemantauan gizi, serta peningkatan kesadaran kesehatan ibu dan anak.
Program lainnya adalah GESIA (Gerakan Sayang Ibu dan Anak) yang bertujuan meningkatkan perhatian terhadap kesehatan ibu hamil dan balita. Sementara itu, melalui program SADARI, pemerintah memberikan bantuan dua butir telur setiap hari kepada balita sasaran untuk membantu memenuhi kebutuhan protein mereka.
Tak hanya itu, Pemerintah Kabupaten Karawang juga meluncurkan terobosan melalui program BAAS (Bapak Asuh Anak Stunting) yang dicanangkan oleh Bupati dan Wakil Bupati Karawang sejak Juli 2022.
Program ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari perusahaan hingga pejabat pemerintah daerah, yang ditunjuk sebagai orang tua asuh bagi anak-anak yang mengalami stunting. Saat ini, tercatat sebanyak 36 perusahaan ikut berpartisipasi dalam program tersebut.
Menariknya, program BAAS juga melibatkan unsur TNI. Dandim 0604 Karawang dipercaya sebagai ketua panitia, sementara pengelolaan dana program dilakukan secara transparan melalui Baznas, sehingga penyalurannya dapat dipantau dengan jelas dan akuntabel.
Kolaborasi Pentahelix
Karawang juga membentuk model pentahelix Tangkas Stunting atau Karawang Tangkas di setiap desa dan kelurahan. Model ini melibatkan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, media dan akademisi.
Pemerintah berperan dalam penyusunan kebijakan dan penyediaan program. Akademisi memberikan dukungan riset dan kajian ilmiah. Sektor swasta dapat berkontribusi melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Sementara itu, media memiliki peran penting dalam menyebarkan informasi dan meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya pencegahan stunting.
Keterlibatan masyarakat juga menjadi kunci utama, karena perubahan pola hidup dan pola makan keluarga hanya dapat terjadi jika masyarakat memahami pentingnya gizi dan kesehatan.
Model ini langsung memperlihatkan hasil, dan sukses menjangkau semua desa dan kelurahan di Karawang, hanya berbekal grup WhatsApp, gotong royong dan sembagat kolaborasi.
“Dari program yang kita laksanakan kami berupaya memberi informasi yang gampang diingat oleh masyarakat,” ujar dr. Nurmala Hasanah, Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Karawang, ketika itu. Dia sosok yang berperan penting dalam keberhasilan model pentahalix.
Tren Kasus Stunting di Karawang
Berdasarkan data terbaru Studi Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting di Kabupaten Karawang pada tahun 2024 tercatat sebesar 17,6 persen. Angka tersebut memang masih berada di atas target nasional yang ditetapkan pemerintah sebesar 14 persen, namun secara umum Karawang dinilai memiliki tren penurunan yang cukup signifikan dalam jangka panjang.
Jika melihat perkembangan dalam beberapa tahun terakhir, angka stunting di Kabupaten Karawang menunjukkan dinamika yang cukup fluktuatif. Pada 2013, prevalensi stunting di Karawang masih berada pada angka 34,9 persen. Delapan tahun kemudian, pada 2021 angka tersebut turun menjadi 20,6 persen, dan tahun 2022 bahkan sempat menyentuh 14 persen.
Namun pada tahun 2023 terjadi kenaikan kembali menjadi 17,1 persen, dan pada tahun 2024 meningkat sedikit menjadi 17,6 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa upaya penanganan stunting masih perlu diperkuat agar penurunan dapat kembali terjadi secara konsisten.
Meskipun demikian, jika dilihat dalam perspektif jangka panjang, Karawang sebenarnya telah menunjukkan progres yang cukup baik. Dalam kurun waktu sekitar satu dekade terakhir, angka stunting berhasil ditekan secara signifikan.
Karawang Menuju Zero Stunting
Pemerintah Kabupaten Karawang menetapkan target ambisius dalam upaya penurunan stunting. Selain mendukung target nasional sebesar 14 persen, pemerintah daerah juga menargetkan angka stunting dapat ditekan hingga satu digit, yakni sekitar 8–9 persen.
Lebih jauh lagi, pemerintah mencanangkan visi jangka panjang yaitu “Zero New Stunting” atau tidak adanya kasus stunting baru di masa depan. Target ini bukan hanya soal menurunkan angka statistik, tetapi juga memastikan setiap anak mendapatkan hak tumbuh kembang yang optimal sejak dalam kandungan hingga usia balita.
Untuk mencapai target tersebut, berbagai intervensi dilakukan mulai dari peningkatan gizi ibu hamil, perbaikan pola makan keluarga, hingga penguatan layanan kesehatan masyarakat.
Faktor Penyebab Stunting
Sejumlah faktor masih mempengaruhi angka stunting di Kabupaten Karawang. Salah satu faktor utama adalah kurangnya asupan gizi pada ibu hamil, yang berdampak langsung pada pertumbuhan janin.
Selain itu, faktor sanitasi dan akses air bersih yang belum merata di beberapa wilayah juga turut mempengaruhi kondisi kesehatan anak. Lingkungan yang kurang sehat dapat meningkatkan risiko penyakit infeksi yang berkontribusi terhadap stunting.
Faktor lain yang tidak kalah penting adalah rendahnya pemahaman keluarga mengenai gizi seimbang. Masih ditemukan keluarga yang belum memahami pentingnya nutrisi yang cukup bagi ibu hamil, bayi, maupun balita.
Selain itu, sebagian balita masih memiliki status gizi kurang, yang jika tidak segera ditangani dapat berkembang menjadi stunting. Karena itu, penanganan stunting membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, tidak hanya melalui layanan kesehatan tetapi juga edukasi masyarakat.
Strategi dan Program Penanganan
Untuk mempercepat penurunan stunting, Pemerintah Kabupaten Karawang menjalankan berbagai program strategis yang melibatkan banyak pihak.
Salah satu program utama adalah Tim Pendamping Keluarga (TPK). Saat ini terdapat sekitar 5.637 kader pendamping keluarga yang bertugas memberikan edukasi, pemantauan, serta pendampingan kepada keluarga berisiko stunting.
Para kader ini berperan penting dalam memberikan informasi mengenai pola makan sehat, kesehatan ibu dan anak, serta pemantauan tumbuh kembang balita.
Selain itu, pemerintah juga menjalankan program pemberian telur kepada anak yang mengalami stunting. Dalam program ini, setiap anak mendapatkan dua butir telur per hari sebagai sumber protein untuk membantu memperbaiki status gizi.
Telur dipilih karena merupakan sumber protein hewani yang mudah didapat dan memiliki kandungan gizi tinggi yang penting bagi pertumbuhan anak.
Program lainnya adalah intervensi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Periode ini mencakup masa sejak kehamilan hingga anak berusia dua tahun, yang merupakan fase paling krusial dalam pertumbuhan.
Melalui program ini, pemerintah memberikan pendampingan kepada ibu hamil, memastikan kecukupan gizi, serta memantau perkembangan bayi dan balita.
Upaya penanganan stunting di Kabupaten Karawang terus berjalan melalui berbagai program gizi, pendampingan keluarga, serta kolaborasi lintas sektor.
Meski angka stunting pada tahun 2024 masih berada di kisaran 17,6 persen, pemerintah daerah tetap optimistis target penurunan hingga satu digit dapat tercapai dalam beberapa tahun mendatang.
Dengan strategi yang terintegrasi serta dukungan dari berbagai pihak, Karawang berharap dapat menciptakan generasi yang lebih sehat, cerdas, dan produktif di masa depan.
Langkah menuju “Zero New Stunting” memang bukan hal yang mudah, tetapi dengan komitmen kuat serta kerja bersama seluruh elemen masyarakat, target tersebut diyakini bukan sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan. (Davi Alvaro/adv)
