MEDIASERUNI – Sosok perempuan itu memang Tjinten. Tak banyak yang tahu, dia inilah murid tunggal Pendekar Pedang Daun Tebu Sarmina, istri Mandor Surak.

Ning Lestari gadis muda beradat panasan, namun merasakan wajah dingin didepannya diam-diam bergetar juga hatinya. Apalagi menyaksikan sikap perempuan yang jadi lawannya tadi, begitu tahu siapa yang muncul langsung ambil sikap hormat.

Aura pembunuh berdarah dingin menebar dari wajah Tjinten. Ini yang membuat Ning Lestari pun menjaga jarak. Saat itu Tjinten menatap tajam Ning Lestari.

“Heh! Perempuan cantik! Apa keperluanmu datang ke kampung ini. Baru datang sudah bikin onar. Kalau mau cari lawan tanding, kau salah pilih tempat. Disini orang-orang bekerja, bukan cari jago. Paham?!”

Ning Lestari merasa tak enak hati. “Saudari…”
“Cukup! Aku tak perlu komentarmu, kalau tak ada lagi keperluan silahkan lanjutkan perjalanan.” Tjinten mengerling ke perempuan-perempuan disampingnya. “Dan kalian, mengapa masih disini. Hayoo, ke pos masing-masing!”

Ning Lestari melongo. “Hmm, siapa perempuan bertampang dingin ini. Perempuan-perempuan ini begitu takut padanya…” Tentu saja cuma di dalam hati. Namun hal itu buru-buru ditepis. Benaknya pada saat itu serasa tak sabar ingin segera sampai tujuan.

Baca Juga:  Terbang ke Karawang Jokowi Resmikan Tambak Ikan Nila

Rupanya Tjinten pun menyadari ketergesaan perempuan cantik di depannya, yang saat itu sudah melompat ke atas kuda. Namun menyaksikan pedang pendek yang tadi digunakan si gadis, diapun sontak berseru. “Perempuan cantik, tunggu… Ada yang ingin aku tanyakan.”

Ning Lestari putar kuda. “Apa yang ingin saudari tanyakan, kalau bisa aku jawab.”
“Apa huhunganmu dengan Raden Alam Sati!”

Mendengar nama Raden Alam Sati disebut sontak Ning Lestari turun dari kuda. “Saudari, dia abangku, aku ingin bertemu dengannya.”
Saking girangnya Ning Lestari mendekat. “Engkau mengenal abanku…”

Tjinten cuma kerenyitkan dahi. “Kalau begitu pendekar gagah Alam Saka adalah pamanmu. Dan kalian putra putri Pendekar Piring Pecah Seribu, begitukah?!”

Gadis bernama Ning Lestari besarkan mata. Ada perasaan girang mendengar nama sanak saudaranya disebut. Itulah disebabkan kerinduan mendalam dalam diri. Memang, sejak usia dua belas tahun dirinya sudah boyong neneknya bermukim di Minang.

Baca Juga:  HAJI USMAN (2)

Kini usianya genap 19 tahun, berarti tujuh tahun dia berpisah dengan orang-orang yang dikasihinya. Dan kini, mendengar nama-nama mereka disebut kerinduan pun langsung memuncak.

Tjinten pun menyadari hal itu, lantas bicara. “Terhadap Raden Alam Sati aku tidak begitu mengenal kecuali dialah mewarisi pusaka kesuktanan Pedang Kilat. Tapi menurut kabar aku dengar saat ini beliau bersama Pendekar Alam Saka. Soal ayahandamu Pendekar Piring Pecah Seribu aku tidak begitu pasti. Akan tetapi…”

Tjinten mendadak hentikan bicara. Seperti merasa ragu. “Hmm, gini saja, malam nanti temui aku dibagian timur kampung ini. Ada sebuah pondok agak tersembunyi di dalam hutan. Datanglah engkau kesana. Ucapkan ‘salam’ dan katakan ‘api dari tanah jawa’ kalau ada yang bertanya ‘membawa apa’. Kemudian jawab ‘Utusan Sisingamangaraja’ bila yang bertanya ‘datang bersama siapa…”

Selesai ucapkan itu gadis bernama Tjinten langsung berkelebat pergi. Adik Raden Alam Sati cuma memandang terbengong. Tapi dia penasaran dan berniat untuk datang. Namun karena hari menjelang sore, diapun memutuskan untuk mencari rumah makan. (Azhari/Bersambung)