MEDIASERUNI – Ada banyak mitos yang mengaitkan malam satu suro dengan dunia gaib. Beberapa kepercayaan yang sifatnya mitos melibatkan ritual mengunjungi tempat sakral dan memandikan benda-benda pusaka.

Namun, terlepas dari mitos-mitos ini, malam satu suro tetap dianggap sakral oleh masyarakat Jawa, dan memiliki makna khusus dan menjadi bagian penting dari tradisi dan budaya masyarakat Jawa.

Malam satu suro, yang jatuh pada malam hari menjelang tanggal satu Muharram atau Tahun Baru Islam, adalah momen yang penuh dengan kepercayaan dan tradisi di kalangan masyarakat Jawa.

Baca Juga:  MIO Indonesia Ucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1446 H, Ketum: Momentum Bersatu dan Berkarya

Beberapa orang percaya bahwa malam satu suro merupakan waktu yang tepat untuk memandikan benda-benda pusaka. Ini dilakukan dengan harapan agar benda-benda tersebut mendapatkan keberkahan dan energi positif.

Malam satu suro dianggap sebagai gerbang dunia manusia dan gaib bertemu. Namun, terlepas dari penggambaran mistiknya, malam satu suro tetap dianggap sakral oleh masyarakat Jawa.

Ada mitos yang mengatakan bahwa pada malam ini, manusia dapat melihat makhluk gaib seperti kuntilanak, pocong, atau genderuwo dan segala macam demit siluman.

Baca Juga:  Haji Yefi Reses Masa Sidang Pertama di Rumah Sendiri, Momen Penting Serap Aspirasi Warga

Beberapa aktivitas yang dilakukan pada malam satu suro diantaranya menyepi, tapa, dan memohon kepada Tuhan. Mereka juga menjalankan upacara individu seperti tirakat, lelaku, atau perenungan diri.

Selain itu, ada juga upacara kelompok seperti melakukan selametan khusus sepanjang satu minggu sampai pawai obor keliling kampung.

Sampai sekarang malam satu suro memiliki makna yang mendalam dan dihormati masyarakat Jawa sebagai momen yang sakral dan penuh dengan tradisi serta keyakinan. (Ari/*)