MEDIASERUNI – Piso Halasan juga dikenal dengan sebutan Piso Hasalan, senjata tradisional yang menjadi kebanggaan dan kehormatan bagi suku Batak di Sumatera Utara, terutama Tapanuli Utara.
Senjata ini merupakan simbol kebesaran suku Batak Hasangapon, dan hanya dimiliki pemimpin Batak yang memiliki otoritas tertinggi, yang terpilih dari generasi ke generasi selanjutnya.
Piso Halasan adalah simbol kebesaran bagi orang Batak hasangapon (orang yang membawa manfaat bagi banyak orang). Pemilik Piso Hasalan dianggap cerdas dan mampu membatasi diri untuk tidak terjerumus kepada kepentingan pribadi.
Senjata ini sebagai lambang kebijaksanaan dan penegakan hukum yang adil dan memberi jalan kehidupan bagi warga. Juga mengajarkan pembatasan diri agar tidak terjebak oleh keinginan diri.
Dalam bahasa Batak Toba, Piso Halasan berarti pisau sakti yang dimiliki oleh para raja atau datu. Bentuk Piso Hasalan berupa parang atau pedang lurus, dengan lekukan tajam pada ujungnya. Sedang sarungnya kayu yang memiliki ukiran seperti seekor singa bertanduk tiga.
Piso Halasan memiliki mata pisaunya yang bermata tunggal dan sedikit melengkung. Panjang mata pisaunya sekitar 50 cm, sedangkan panjang keseluruhannya sekitar 76 cm.
Gagangnya biasanya terbuat dari tanduk rusa atau logam dengan ukiran yang indah.
Selain sebagai lambang kebesaran, Piso Halasan juga melambangkan penegakan hukum dan keadilan yang memberi kehidupan bagi masyarakat.
Meskipun terlihat seperti pedang biasa, Piso Hasalan memiliki kekuatan mistis.
Konon, senjata ini dapat membawa rejeki dalam kehidupan pemiliknya.
Hal yajg menarik mistis Piso Hasalan, selain terkenal dengan ketajaman dan pembawa hoky, Piso Hasalan juga dipercaya memiliki kemampuan untuk memperbanyak keturunan bagi yang belum memiliki anak bagi pemiliknya.
Piso Hasalan adalah senjata yang sangat tajam dan berbahaya. Dalam sejarahnya, senjata ini sering digunakan dalam pertempuran. Namun, saat ini penggunaannya sudah berkurang dan lebih sebagai simbol kehormatan dan identitas suku Batak.
Jadi, Piso Hasalan bukan hanya sekadar senjata fisik, tetapi juga mengandung makna spiritual dan sejarah yang mendalam bagi suku Batak. Senjata ini mengajarkan tentang kebijaksanaan, keadilan, dan tanggung jawab pemimpin terhadap masyarakatnya. (Azhari/Mediaseruni)