MEDIASERUNI.ID – Pergantian Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah merupakan momentum yang berharga bagi umat Islam untuk melakukan muhasabah atau refleksi atas perjalanan kehidupan yang telah dilalui. Pergantian tahun bukan sekadar pergantian angka dalam kalender, melainkan kesempatan untuk mengevaluasi amal, memperbaiki kekurangan, serta memperbarui komitmen dalam meningkatkan kualitas kehidupan sebagai hamba Allah SWT dan sebagai bagian dari masyarakat.

Kalender Hijriah ditetapkan dengan merujuk pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Peristiwa tersebut dipilih sebagai awal penanggalan Islam karena menjadi tonggak penting dalam sejarah umat Islam. Hijrah tidak hanya menandai perpindahan tempat, tetapi juga lahirnya tatanan masyarakat yang lebih kuat, berkeadaban, dan berlandaskan nilai-nilai keimanan. Dari peristiwa itulah umat Islam belajar bahwa kemajuan dan perubahan menuju kebaikan memerlukan keimanan, kesabaran, pengorbanan, ikhtiar yang sungguh-sungguh, serta pertolongan Allah SWT.

Hijrah dalam makna yang sesungguhnya tidak hanya berarti berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa orang yang berhijrah adalah mereka yang meninggalkan segala sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT. Karena itu, hijrah merupakan proses penyempurnaan diri yang berlangsung sepanjang hayat, yakni berpindah dari kelalaian menuju ketaatan, dari akhlak yang kurang baik menuju akhlak yang lebih mulia, dari sikap mementingkan diri sendiri menuju kepedulian terhadap sesama, serta dari kehidupan yang kurang produktif menuju kehidupan yang lebih bermanfaat.

Semangat hijrah sangat erat kaitannya dengan muhasabah. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hasyr ayat 18:

«“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah dipersiapkannya untuk hari esok. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”»

Ayat ini mengajarkan pentingnya introspeksi, evaluasi diri, dan persiapan menghadapi masa depan, baik kehidupan di dunia maupun kehidupan akhirat. Setiap pergantian tahun menjadi pengingat bahwa waktu adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, kemajuan teknologi yang terus berkembang, serta berbagai tantangan sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan yang dihadapi masyarakat, semangat hijrah menjadi semakin relevan. Umat Islam dituntut untuk mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai keimanan, akhlak, dan jati dirinya. Kemajuan yang sesungguhnya bukan hanya diukur dari aspek material, tetapi juga dari kualitas iman, ilmu, akhlak, dan kontribusi nyata bagi kemaslahatan bersama.

Baca Juga:  Kapolres AKBP Teddy Rachesna Hadiri Rakor Satgas Saber Pungli Kabupaten Lampung Utara

Seorang Muslim dituntut untuk terus berikhtiar memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas amalnya. Namun setiap ikhtiar harus senantiasa disertai doa, tawakal, dan keyakinan bahwa segala keberhasilan pada hakikatnya terjadi atas izin, pertolongan, dan karunia Allah SWT. Karena itu, semangat hijrah bukan hanya tentang keinginan untuk berubah, tetapi juga tentang kesungguhan mendekatkan diri kepada Allah SWT agar memperoleh bimbingan dan kekuatan dalam menjalani kehidupan.

Momentum Tahun Baru Islam menjadi kesempatan bagi setiap Muslim untuk bertanya kepada dirinya sendiri: apakah kualitas ibadah kita semakin baik, apakah akhlak kita semakin mulia, apakah hubungan dengan keluarga dan sesama semakin harmonis, serta apakah kehadiran kita semakin membawa manfaat bagi lingkungan sekitar. Muhasabah seperti inilah yang menjadikan pergantian tahun memiliki makna spiritual yang mendalam.

Semangat hijrah harus tercermin dalam dua dimensi kehidupan yang saling melengkapi, yaitu kesalehan pribadi dan kesalehan sosial. Kesalehan pribadi diwujudkan melalui peningkatan keimanan, kualitas ibadah, kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan pengendalian diri. Sementara itu, kesalehan sosial diwujudkan melalui kepedulian terhadap sesama, semangat gotong royong, membantu mereka yang membutuhkan, menjaga persatuan, serta berkontribusi dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang damai, adil, dan harmonis.

Sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW, keberhasilan hijrah tidak hanya terlihat pada perubahan individu, tetapi juga pada kemampuan membangun kehidupan sosial yang lebih baik. Oleh karena itu, semangat hijrah harus melahirkan pribadi-pribadi yang saleh sekaligus menghadirkan kemaslahatan bagi lingkungan dan masyarakat luas.

Dalam menyambut Tahun Baru Islam, masyarakat di berbagai daerah biasanya mengadakan beragam kegiatan yang bernilai positif, seperti pengajian, zikir dan doa bersama, santunan kepada anak yatim dan kaum dhuafa, kegiatan sosial kemasyarakatan, serta berbagai bentuk syiar Islam lainnya. Di sejumlah daerah, pawai obor juga telah menjadi tradisi yang hidup di tengah masyarakat sebagai ungkapan kegembiraan dan rasa syukur dalam menyambut datangnya tahun baru Hijriah.

Tradisi-tradisi tersebut akan semakin bermakna apabila tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi sarana mempererat ukhuwah Islamiyah, menumbuhkan semangat kebersamaan, memperkuat kecintaan kepada ajaran Islam, dan membangun optimisme untuk menjadi lebih baik pada masa yang akan datang. Cahaya obor yang menerangi malam dapat dimaknai sebagai simbol harapan agar kehidupan umat senantiasa diterangi oleh cahaya iman, ilmu pengetahuan, dan akhlak mulia.

Baca Juga:  18 Desa Percontohan Siap Wujudkan Desa Ramah Pelayanan di Jawa Barat, Nomor 7 Ada di Karawang

Pergantian Tahun Baru Islam bukan sekadar penanda bertambahnya waktu, tetapi juga menjadi momentum untuk meneguhkan kembali semangat hijrah, melakukan muhasabah, serta memperkuat komitmen dalam meningkatkan kualitas keimanan, amal saleh, dan kepedulian sosial di tengah kehidupan bermasyarakat.

Pada akhirnya, hijrah bukanlah perjalanan yang selesai dalam satu hari atau satu tahun, melainkan ikhtiar yang terus-menerus dilakukan sepanjang kehidupan untuk meraih ridha Allah SWT. Setiap pergantian tahun hendaknya menjadi kesempatan untuk melakukan muhasabah, meningkatkan kualitas amal dan ketakwaan, mensyukuri berbagai nikmat yang telah dianugerahkan Allah SWT, memperbaiki kekurangan yang masih ada, serta memperkuat tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih bermanfaat bagi sesama. Dengan demikian, Tahun Baru Islam tidak hanya menjadi penanda pergantian waktu, tetapi juga momentum untuk memperbarui komitmen dalam menjalani kehidupan yang lebih bermakna, produktif, dan penuh keberkahan.

Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah. Mari menjadikan momentum ini sebagai sarana muhasabah dan pembaruan diri, memperkuat keimanan, meningkatkan amal saleh, serta memperluas kepedulian sosial. Semoga semangat hijrah Rasulullah SAW senantiasa menginspirasi kita untuk menjadi pribadi yang lebih bertakwa, lebih bermanfaat, dan lebih siap menghadapi masa depan dengan penuh optimisme, ikhtiar, dan tawakal kepada Allah SWT. (*)

Dadan Saepudin
Ketum PD PGMNI KBB
Wakil Sekjen PB PGMNI