MEDIASERUNI.ID – Berkebun bagi wanita pada masa lampau bukan sekadar kegiatan mengisi waktu luang, melainkan bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Di halaman rumah yang sederhana, mereka mengolah tanah, menanam, merawat, dan memanen dengan tangan sendiri.

Aktivitas ini menyatukan banyak peran sekaligus dalam satu ruang hidup yang alami dan penuh makna. Bagi tubuh, berkebun adalah olahraga alami. Gerakan mencangkul, menyiangi, menyiram, hingga memanen membuat tubuh terus bergerak tanpa disadari.

Tanpa pusat kebugaran atau alat modern, perempuan zaman dulu menjaga kebugaran dengan cara yang selaras dengan ritme alam.

Di sisi lain, kebun adalah dapur hidup. Sayuran, rempah, dan buah segar tersedia tepat di depan rumah. Apa yang dimasak hari itu sering kali dipetik pada pagi yang sama, menjadikan makanan lebih sehat, segar, dan bebas bahan kimia berbahaya.

Baca Juga:  Ke Mal Bukan Sekedar Belanja, Ini yang Dicari Perempuan Saat Weekend

Tak berhenti di situ, kebun juga berfungsi sebagai apotek alami. Berbagai tanaman obat seperti jahe, kunyit, daun sirih, dan temulawak ditanam untuk menjaga kesehatan keluarga. Saat sakit ringan datang, alam menyediakan solusi sebelum obat-obatan pabrikan dikenal luas.

Secara psikologis, berkebun adalah terapi. Sentuhan tanah, aroma daun, dan ketenangan alam memberi efek menenangkan bagi pikiran. Banyak perempuan zaman dulu menemukan kedamaian batin di kebun, tempat mereka bisa melepas lelah dan beban emosi.

Kebun juga menjadi ruang pendidikan. Pengetahuan tentang musim, cuaca, kesabaran, dan siklus kehidupan diajarkan secara langsung kepada anak-anak. Nilai kerja keras, tanggung jawab, dan rasa syukur tumbuh bersama tanaman yang dirawat.

Menariknya, apa yang kini disebut sebagai eco green lifestyle sejatinya bukan hal baru. Gaya hidup ramah lingkungan yang digaungkan saat ini hanyalah pengulangan dari kebijaksanaan lama yang pernah dipraktikkan secara alami oleh generasi sebelumnya.

Baca Juga:  Empat Profesi Yang Baik Menurut Rasulullah, Profesi Kamu Termasuk?

Di tengah krisis lingkungan dan kesehatan modern, manusia mulai menyadari bahwa ketergantungan berlebihan pada industri telah menjauhkan kita dari alam. Berkebun kembali menjadi simbol perlawanan halus terhadap pola hidup serba instan dan konsumtif.

Bagi perempuan masa kini, berkebun bisa menjadi bentuk pemberdayaan. Dari halaman sempit atau pot kecil, mereka kembali mengambil peran sebagai penjaga kesehatan keluarga dan lingkungan, seperti yang dilakukan para pendahulu.

Akhirnya, berkebun mengajarkan bahwa kemajuan tidak selalu berarti melangkah ke depan. Terkadang, solusi terbaik justru ada pada langkah mundur kembali ke tanah, kembali ke alam, dan kembali ke kebijaksanaan lama yang pernah menyatukan tubuh, jiwa, dan kehidupan dalam satu aktivitas sederhana. (*)