Sukabumi, TELUSURBISNIS.COM – Warga penyintas bencana pergerakan tanah di Kampung Bantarmuncang RT 01 RW 03 Desa CikadU Kecamatan Palabuhanratu Kabupaten Sukabumi dihantui ketakutan, khawatir terjadi pergerakan tanah susulan yang membuat rumah mereka ambruk.

Peristiwa terbaru terjadi Selasa 3 Maret 2026, sekitar pukul 04.45 Wib, satu rumah di Desa Cikadu ambruk tiba-tiba, sedang puluhan rumah mengalami kerusakan cukup parah. Kondisi ini membuat warga semakin panik, apalagi sebagian dari mereka masih bertahan di rumah masing-masing.

Kasi Trantib Kecamatan Palabuhanratu Mahbubillah menjelaskan lokasi tersebut memang masuk zona merah rawan pergerakan tanah. Bahkan, wilayah ini memiliki riwayat kejadian serupa pada tahun 2021. “Alhamdulillah tidak ada korban jiwa, tetapi kerusakan yang dialami warga cukup terasa,” ujar Mahbubillah.

Baca Juga:  Larang Wartawan Liput Pilkada KPU Pemalang Digerudug Puluhan Wartawan

Tak hanya satu rumah yang ambruk, sejumlah bangunan lain juga mengalami retakan serius di bagian dinding dan fondasi. Warga kini hidup dalam kekhawatiran, terutama karena kondisi tanah masih labil dan curah hujan yang hampir turun setiap hari meningkatkan risiko longsor susulan.

Berdasarkan data sementara, sedikitnya 60 kepala keluarga terdampak bencana pergerakan tanah di Desa Cikadu. Pendataan masih terus dilakukan untuk memastikan jumlah pasti warga yang terancam serta menghitung total kerugian materiil.
“Warga masih menempati rumah-rumah yang terancam ambruk,” tambahnya.

Baca Juga:  Anggota DPRD NTB Ahmad Dahlan Salurkan Dana Aspirasi Pembangunan Masjid dan Irigasi Desa Palama

Petugas P2BK Palabuhanratu bersama unsur Trantibum langsung turun ke lokasi untuk melakukan assessment. Koordinasi juga dilakukan dengan pemerintah desa, RT/RW, hingga Forkopimcam guna menentukan langkah penanganan lanjutan yang tepat.

Saat ini, kebutuhan mendesak warga adalah bantuan sembako serta opsi relokasi ke tempat yang lebih aman. Dengan kondisi tanah yang belum stabil dan potensi hujan susulan, risiko bencana dinilai masih cukup tinggi.

Sejumlah unsur terlibat dalam penanganan di lapangan, di antaranya Forkopimcam, P2BK, Satpol PP, Bhabinkamtibmas, Babinsa, perangkat desa, dan masyarakat setempat. Warga pun diimbau tetap waspada serta segera melapor jika muncul tanda-tanda pergerakan tanah susulan. (Andi)