MEDIASERUNI.ID – Gosip bagi wanita sering kali dianggap sebagai stereotip, namun jika dilihat dari sudut pandang psikologi, sosial, dan budaya, perilaku ini ternyata cukup kompleks.

Secara psikologis, bergosip bisa menjadi cara seseorang membangun koneksi emosional, mencairkan suasana, atau bahkan mengelola stres. Dalam konteks sosial, aktivitas ini sering digunakan untuk memperkuat solidaritas kelompok dan menyampaikan informasi secara informal.

Budaya pun turut memengaruhi, di mana dalam banyak masyarakat, perempuan lebih diberi ruang dalam interaksi verbal yang sifatnya emosional dan relasional, sehingga kebiasaan bergosip pun tumbuh sebagai bagian dari dinamika sosial yang berlangsung lama.

Namun, penting disadari bahwa bergosip bukanlah eksklusif milik wanita. Pria pun bergosip, meskipun bentuk dan tujuannya bisa berbeda. Pada pria, gosip sering dikemas dalam bentuk obrolan ringan seputar pekerjaan, politik, atau olahraga, dan cenderung bersifat strategis atau kompetitif.

Perbedaan ini lebih dipengaruhi oleh norma gender dan cara masing-masing kelompok memaknai komunikasi, bukan karena kodrat biologis semata. Oleh karena itu, menyederhanakan kebiasaan bergosip sebagai “hobi wanita” jelas keliru dan mengabaikan dimensi psikososial yang lebih luas.

Baca Juga:  Rizal Bawazier Gelar Kegiatan Jum'at Berkah di Pemalang dan Pekalongan

Berikut ini beberapa alasan umum kenapa wanita cenderung lebih sering dikaitkan dengan kebiasaan bergosip.

1. Cara Menjalin Ikatan Sosial

Bagi banyak wanita, berbagi cerita termasuk tentang orang lain merupakan cara memperkuat hubungan dan rasa kebersamaan. Dalam psikologi evolusioner, wanita cenderung membentuk kelompok sosial kecil dan intim, dan percakapan pribadi menjadi sarana utama untuk menjalin kedekatan.

2. Kebutuhan Ekspresif dan Emosional

Wanita umumnya lebih ekspresif dalam berkomunikasi. Bergosip bisa menjadi cara untuk mengekspresikan emosi, pendapat, dan bahkan keprihatinan, baik secara langsung maupun tidak langsung.

3. Budaya dan Stereotip

Media dan masyarakat sering menggambarkan wanita sebagai sosok yang suka membicarakan urusan orang lain, baik dalam film, sinetron, maupun acara infotainment. Stereotip ini memperkuat anggapan bahwa gosip adalah “wilayah” wanita, padahal pria juga sering bergosip, meski dengan topik berbeda (misalnya politik, pekerjaan, atau olahraga).

Baca Juga:  Arus Mudik dan Wisata di Jawa Barat Melonjak Tajam

4. Kontrol Sosial Tak Langsung

Dalam komunitas kecil, gosip bisa menjadi alat untuk mengingatkan atau mengontrol perilaku seseorang secara tidak langsung. Wanita kadang menggunakan gosip untuk menyampaikan norma sosial tanpa harus berkonfrontasi langsung.

5. Rasa Ingin Tahu yang Alami

Manusia pada dasarnya punya rasa ingin tahu, dan gosip adalah bentuk informasi sosial yang menggoda. Apalagi jika menyangkut hal-hal sensasional, tabu, atau pribadi yang seringkali dianggap “menarik”.

6. Pelepasan Stres

Bergosip bisa menjadi katarsis atau pelampiasan emosi. Dengan menceritakan sesuatu yang mengganggu pikiran, seseorang bisa merasa lebih lega atau terhibur, meskipun efeknya tidak selalu positif bagi pihak yang dibicarakan.

7. Topik Relasional Lebih Menarik

Penelitian menunjukkan bahwa wanita lebih tertarik pada topik yang berkaitan dengan hubungan sosial, keluarga, atau dinamika antarmanusia yang memang sering menjadi isi utama gosip. (*)