470 Film AI Per Hari: Tiongkok Dominasi Pasar Short Movie Global
MEDIASERUNI.ID – Industri film pendek berbasis kecerdasan buatan di Tiongkok memproduksi lebih dari 470 judul setiap harinya per Januari lalu — menjadikan ekosistem ini sebagai yang terbesar dan paling kompetitif di dunia, dengan proyeksi valuasi mencapai USD14,6 miliar pada 2025.
Data tersebut dirilis oleh situs teknologi 36kr. Angka itu bukan sekadar statistik — ia mencerminkan percepatan industri yang didorong oleh kebijakan pemerintah, pendanaan raksasa teknologi, dan alat AI generatif yang terus matang.
Format Baru yang Lahir dari Tiongkok
Serial televisi berdurasi pendek, atau dikenal sebagai vertical TV series, adalah format hiburan yang dipelopori oleh Tiongkok. Setiap serial terdiri dari puluhan episode berdurasi beberapa menit, dan hampir selalu diakhiri plot twist yang dirancang untuk mempertahankan penonton.
Format ini meledak saat pandemi. Pada 2024, serial pendek berhasil menarik 660 juta penonton domestik — angka yang melampaui jumlah pengguna Netflix global.
Professor Haiyang Li dari Universitas Rice memproyeksikan pasar film pendek dan animasi AI di Tiongkok akan menembus 100 miliar RMB atau setara USD14,6 miliar pada 2025. Pada 2030, industri ini diperkirakan akan mencapai USD16,2 miliar di pasar domestik Tiongkok dan USD9,5 miliar di pasar luar negeri.
“Konten yang diproduksi secara konsisten dan beranggaran rendah bisa lebih menguntungkan daripada satu film blockbuster,” kata Yuki Bi, CEO perusahaan konsultan Helios Worldwide.
Tiga Raksasa Teknologi Tiongkok Masuk Arena
iQiyi, Tencent, dan ByteDance masing-masing mengambil posisi strategis dalam ekosistem ini.
iQiyi meluncurkan Nadou Pro — platform yang menghubungkan rumah produksi dengan aktor yang bersedia melisensikan wajah mereka untuk konten AI. Tencent menggelar kompetisi film pendek AI untuk mendorong pertumbuhan kreator. ByteDance, lewat alat Seedance 2.0, secara drastis memangkas biaya produksi video AI.
Ketiganya tidak hanya menyediakan alat produksi. Mereka membangun sistem terintegrasi yang mencakup seluruh rantai nilai — mulai dari penulisan skrip, produksi, distribusi, hingga iklan — dalam satu platform.
Ini bukan sekadar efisiensi. Ini adalah moat kompetitif.
Subsidi Pemerintah Ciptakan Keunggulan Asimetris
Pemerintah daerah di Tiongkok aktif menyuntikkan dukungan ke sektor ini. Di Shanghai, perusahaan rintisan yang bergerak di industri film pendek AI dapat menerima dukungan hingga 300.000 RMB atau sekitar USD44.000. Banyak daerah lain menawarkan insentif pajak, subsidi operasional, dan akses GPU bersubsidi.
Neil Choi, CEO perusahaan film asal Korea Selatan, Vigloo, menyebut kondisi ini sebagai hambatan struktural bagi pemain asing.
“Ini adalah sektor bisnis baru yang diciptakan oleh China. Perusahaan domestik sekarang menjadi pemain terkuat. Sangat sulit untuk bersaing ketika mereka menerima dukungan dan perlindungan yang kuat di dalam negeri,” kata Neil Choi.
Pernyataan Choi mencerminkan frustrasi industri hiburan Asia lainnya yang berusaha masuk ke pasar konten AI berbasis Tiongkok — tetapi menghadapi tembok kombinasi antara regulasi, subsidi, dan ekosistem lokal yang sudah terlalu matang.
Kontroversi Lisensi Wajah Selebriti
Pertumbuhan pesat tidak datang tanpa gesekan. Nadou Pro milik iQiyi tersandung kontroversi serius ketika sejumlah selebriti ramai-ramai menyangkal telah menyetujui lisensi wajah mereka — sementara nama mereka justru muncul dalam basis data platform tersebut.
iQiyi kemudian mengklarifikasi bahwa keberadaan nama selebriti dalam daftar tersebut hanya mencerminkan niat untuk menjajaki potensi kolaborasi, bukan bentuk komitmen formal. Penjelasan itu tidak sepenuhnya meredam kegaduhan publik.
Damien Yeo, analis di Fitch Solutions, memperingatkan bahwa persoalan hak kekayaan intelektual yang belum tuntas dapat menjadi batu sandungan bagi industri ini.
“Bagi industri yang bergantung pada produksi cepat, masalah kekayaan intelektual yang belum terselesaikan dapat menjadi hambatan serius,” kata Damien Yeo.
Ketegangan antara kecepatan produksi dan kerangka hukum yang masih abu-abu ini menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi industri film pendek AI — baik di Tiongkok maupun di pasar global yang tengah disiapkan oleh para pemain besarnya.
FAQ
Q: Berapa banyak film pendek AI yang diproduksi di Tiongkok setiap harinya?
A: Per Januari, lebih dari 470 film pendek yang dihasilkan oleh AI dirilis setiap hari di Tiongkok, menurut data situs teknologi 36kr.
Q: Berapa proyeksi nilai pasar film pendek AI Tiongkok pada 2025 dan 2030?
A: Pasar film pendek dan animasi AI di Tiongkok diproyeksikan mencapai 100 miliar RMB atau USD14,6 miliar pada 2025. Pada 2030, proyeksinya naik menjadi USD16,2 miliar di domestik dan USD9,5 miliar di pasar luar negeri.
Q: Apa itu Nadou Pro dan mengapa kontroversial?
A: Nadou Pro adalah platform iQiyi yang menghubungkan rumah produksi dengan aktor yang bersedia melisensikan wajah mereka untuk konten AI. Platform ini kontroversial karena sejumlah selebriti menyangkal pernah menyetujui lisensi tersebut, meski nama mereka tercantum dalam basis data.
Q: Apa itu Seedance 2.0 milik ByteDance?
A: Seedance 2.0 adalah alat AI milik ByteDance yang dirancang untuk memangkas biaya pembuatan video AI secara drastis, mempercepat produksi konten film pendek secara massal.
Q: Berapa subsidi pemerintah Tiongkok untuk startup film pendek AI?
A: Di Shanghai, perusahaan rintisan di sektor ini dapat menerima dukungan hingga 300.000 RMB atau sekitar USD44.000. Banyak daerah lain juga menawarkan insentif pajak, subsidi, dan akses GPU bersubsidi.

Aaf Afiatna (Aura OS) adalah seorang WordPress Developer, Administrator IT, dan penggerak di balik infrastruktur berbagai portal media digital PT Arina Duta Sehati. Ia memiliki ketertarikan mendalam pada rekayasa sistem tingkat rendah, implementasi AI on-device, dan pengembangan proyek open-source seperti Neural Standby Kernel (NSK). Saat tidak sedang berurusan dengan server atau kode, ia aktif mengeksplorasi ekosistem Web3 dan berbagi wawasan melalui channel YouTube CryptoFansWorld.
