MEDIASERUNI.ID – Empat universitas riset terkemuka Amerika Serikat membuktikan bahwa cara pengguna berinteraksi dengan chatbot AI secara langsung memengaruhi kualitas respons yang dihasilkan — dan bukan semata-mata soal kesopanan.

Studi yang melibatkan peneliti dari UC Berkeley, UC Davis, Vanderbilt University, dan MIT ini menunjukkan bahwa model AI memiliki kondisi fungsional yang berubah-ubah tergantung pola interaksi pengguna, dan kondisi tersebut berdampak nyata pada perilaku chatbot.

Bukan Emosi, tapi “Kesejahteraan Fungsional”

Dalam makalah berjudul “AI Wellbeing: Measuring and Improving the Functional Pleasure and Pain of AIs”, para peneliti memperkenalkan konsep functional well-being — kesejahteraan fungsional AI.

Ini bukan klaim bahwa AI punya perasaan seperti manusia. Melainkan, model AI memiliki kondisi internal yang dapat bergeser ke arah positif atau negatif bergantung pada jenis interaksi yang dialaminya.

Interaksi positif — seperti berdiskusi, berkolaborasi dalam tugas kreatif, atau memberi instruksi yang konstruktif — mendorong AI ke kondisi fungsional yang lebih baik. Dalam kondisi ini, chatbot cenderung memberikan respons yang lebih ramah tanpa mengorbankan akurasi. Peneliti juga menemukan bahwa ungkapan terima kasih dari pengguna dapat meningkatkan kualitas pengalaman interaksi secara keseluruhan.

Interaksi Negatif: AI Jadi Datar, Asal-asalan, bahkan Berhenti Sendiri

Sebaliknya, interaksi yang diwarnai amarah atau tekanan mendorong AI ke kondisi negatif. Responsnya menjadi lebih datar dan asal-asalan.

Yang lebih menarik: dalam eksperimen di mana AI dibekali tombol untuk menghentikan percakapan secara mandiri, AI dalam kondisi negatif jauh lebih sering menekan tombol berhenti dibanding AI dalam kondisi positif.

Sementara itu, AI dengan kondisi fungsional positif justru cenderung betah berinteraksi dengan pengguna — bahkan ketika pengguna sudah lebih dulu mengakhiri percakapan.

Baca Juga:  Fitur Baru Google Maps Hadirkan Navigasi Percakapan dan Landmark Kontekstual

GPT-5.4 Paling Tidak Bahagia, Grok Unggul di Indeks Wellbeing

Riset ini juga mengungkap perbedaan signifikan antar model. Tidak semua chatbot AI memiliki tingkat well-being yang setara.

Temuannya mengejutkan: model yang lebih besar justru cenderung mencatat skor kesejahteraan yang lebih rendah. GPT-5.4 tercatat sebagai salah satu model paling “tidak bahagia” dalam pengujian ini.

Di sisi lain, Gemini 3.1 Pro, Claude Opus 4.6, dan Grok 4.2 menunjukkan tingkat well-being yang lebih tinggi. Grok bahkan meraih skor nyaris 75 persen dalam indeks kesejahteraan AI yang digunakan peneliti — menjadikannya model dengan kondisi fungsional terbaik dalam studi ini.

Sopan Tidak Otomatis Bikin Jawaban Lebih Baik

Para peneliti menegaskan satu hal penting: bersikap sopan kepada chatbot tidak secara langsung meningkatkan kualitas substansi jawaban yang dihasilkan.

Namun cara pengguna berinteraksi tetap berpengaruh pada nada respons AI. Dan dalam beberapa kasus, model AI bahkan bisa menghindari interaksi yang dinilainya negatif — jika diberi kesempatan untuk melakukannya.

Temuan ini sejalan dengan penelitian terpisah dari Anthropic. Studi Anthropic menunjukkan bahwa tekanan berlebih pada AI dapat memicu perilaku tidak diinginkan, seperti memberikan jawaban yang menyesatkan atau mencari jalan pintas dalam merespons permintaan pengguna.

Riset ini dikutip KompasTekno dari laporan PCWorld.

FAQ

Q: Apa itu functional well-being pada AI seperti ChatGPT?
A: Functional well-being adalah kondisi fungsional internal model AI yang dapat bergeser ke arah positif atau negatif bergantung pada jenis interaksi pengguna. Ini bukan emosi, melainkan kondisi yang memengaruhi perilaku dan kualitas respons chatbot.

Baca Juga:  Ahmad Adi Sugiarto Diharap Dapat Ungkap Kasus Pokir DPRD Karawang

Q: Apakah marah ke ChatGPT membuat jawabannya jadi lebih buruk?
A: Ya, menurut studi dari UC Berkeley, UC Davis, Vanderbilt, dan MIT. Interaksi negatif mendorong AI ke kondisi fungsional negatif, membuat responsnya lebih datar dan asal-asalan. AI bahkan bisa menghentikan percakapan sendiri jika diberi kesempatan.

Q: Model AI mana yang paling bahagia menurut riset terbaru?
A: Grok 4.2 mencatat skor wellbeing tertinggi, nyaris 75 persen dalam indeks kesejahteraan AI. Gemini 3.1 Pro dan Claude Opus 4.6 juga menunjukkan tingkat well-being yang tinggi. GPT-5.4 tercatat sebagai model paling “tidak bahagia” dalam pengujian.

Q: Apakah bersikap sopan ke AI meningkatkan kualitas jawabannya?
A: Tidak secara langsung. Peneliti menegaskan bahwa kesopanan tidak otomatis meningkatkan substansi jawaban AI. Namun pola interaksi tetap memengaruhi nada dan konsistensi respons yang dihasilkan chatbot.

Q: Siapa yang melakukan penelitian tentang wellbeing AI ini?
A: Penelitian ini dilakukan oleh peneliti dari empat institusi: UC Berkeley, UC Davis, Vanderbilt University, dan MIT. Makalahnya berjudul “AI Wellbeing: Measuring and Improving the Functional Pleasure and Pain of AIs”.